Sekira 6 tahun lalu, persisnya pada 05 September 2018, aku menorehkan satu esai di Kalaliterasi.com, bertitel “Tengkiyu Profesor, Tarimakasi Profesor”. Esai tersebut, sudah menjadi bagian dari buku ketigaku, berjudul Pesona Sari Diri, hal. 493-496, terbit April 2019.
Biar lebih elok, aku kutipkan saja paragraf terakhirnya, “Bagi saya, sebagai warga dan selaku penikmat sepak bola, sepatutnya berterimakasih pada dua profesor itu. Ber-tengkiyu dan ber-tarimakasi padanya. Tengkiyu Profesor Andalan, Nurdin Abdullah, namamu terpahat pada pikiran warga Bantaeng. Tarimakasi Le Profesor, Arsene Wenger, sosokmu terukir di ingatan fans klub Arsenal. Dan, welkam Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, pahatan harapan warga menantimu. Maeki, pelatih Arsenal, Unai Emery, ukiran asa fans menunggumu.”
Esai tersebut menandai berakhirnya masa jabatan Nurdin Abdullah, selaku Bupati Bantaeng selama dua periode, 2008-2013/2013-2018 dan usainya era kepelatihan Arsene Wenger di Arsenal, 1996-2018. Sekaligus, mengucapkan selamat datang buat bupati dan pelatih baru. Pergantian bupati di satu kabupaten dan pelatih di klub sepakbola, suatu keniscayaan.
Nah, esaiku kali ini akan mendedahkan hal yang sama, menabalkan rasa tarimakasi lompo, terima kasih banyak, buat seorang Ilham Azikin, selaku Bupati Bantaeng 2018-2023. Tentunya, sudut pandangku berlapik pada kesinambungan dan keberlanjutan pembangunan di Bantaeng. Dan, paling penting, esaiku ini lebih mengandalkan ingatan. Agar lebih personal, maka izinkan aku untuk mengubah sapaan, dari pak bupati menjadi bung. Yah, Bung Ilham Azikin.
Meskipun aku sudah mengenal Bung Ilham sebelum menjabat Bupati Bantaeng, tapi aku ingin mematok esaiku ini pada tonggak yang lebih mudah kuingat, saat lepas sambut Bupati Bantaeng di Anjungan Pantai Seruni Bantaeng.
Malam itu, seusai acara formal, Nurdin Abdullah, menyapa sembari menjabat tangan segenap penghadir. Ketika beliau menyapa dan menjabat tanganku, ia bertanya, “Bagaimana Boetta Ilmoe?” Langsung kusambar dengan jawaban, “Alhamdulillah Prof tetap eksis.”
Ilham Azikin yang berjalan di bagian belakang, perlahan mendekatiku yang berdiri sejauh dua lembing, sebab dikerumuni oleh beberapa penghadir. Tatkala menjabat tanganku, Ilham pun menyapa dengan kata-kata, “Siap parenta kak Sul.”
Jujur, kata-kata Bung Ilham itu menghiduku berhari-hari. Aku membatin, amat egalitarian juga pejabat ini. Sebagai orang yang suka memegang kata-kata setiap orang, aku ingin betul membuktikan ujar Bung Ilham.
Rentang waktu lima tahun, satu periode jabatan bupati, bukan waktu yang singkat untuk berperkara kata-kata. Maka jangan heran bung, pada setiap kita jumpa, baik di acara formal, nonformal, hingga informal sekalipun, aku tetap memerhatikan kata-kata bung. Pasalnya, dari kata-kata itulah aku sering terinspirasi buat berbuat terhadap negeri yang kita cintai bersama.
Okelah bung, aku ingin mengaitkan pada satu momen, ketika bung berpidato yang bunyinya kurang lebih begini, “Apa yang telah diwariskan oleh Prof. Nurdin, berupa kemolekan pembangunan infrastruktur sudah lebih dari cukup. Sisa yang perlu kita urus adalah manusia yang hidup di atas kemapanan infrastruktur.”
Rupanya, bung konsisten dengan jalan pikiran itu, lewat membangun sumberdaya manusia Bantaeng. Masih ingat bung, tatkala kuingatkan akan resiko pilihan pembangunan yang tidak popular ini? Bukankah pernah kunyatakan bahwa bung seperti abbotoro, berjudi tanda petik, karena pasti keinginan populis masyarakat banyak tertuju pada pemenuhan ragawi.
Namun, bung bilang, ini tanggung jawab sejarah yang harus diambil. Sebab, kapan kita tidak ambil, maka peluang emas meningkatkan kualitas manusia Bantaeng akan lewat. Yah, bung lebih memilih membangun jiwa tinimbang raga. Persis ngototnya para pendiri bangsa, yang mematenkan pilihan untuk membangun Bangsa Indonesia, dilirikkan dalam lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, …bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya.
Memahami jalan pikiran bung, aku lalu teringat dengan seorang scholar sekaligus ideolog berkebangsaan Iran, Ali Syariati dalam salah satu tulisannya, “A Glance of Tomorrow’s History”. Syariati bilang, satu peristiwa sejarah, baru berarti bila berdimensi masa depan. Atau nubuat dari sosok filosof, Kong Hu Cu, bila keperluanmu tiga bulan, tanamlah padi. Jika kepentinganmu tiga puluh tahun, tumbuhkanlah kelapa. Namun, kalau inginmu selama adanya kehidupan, didiklah manusia.
Kayaknya, bung ingin menubuatkan sejarah masa depan, menegaskan pentingnya mengurus manusia yang melata di negeri kita, yang sangat sulit dikuantifikasi dalam rentang waktu lima tahun, satu periode jabatan seorang bupati. Bung tidak banyak mewariskan monumen ragawi, tapi berhasil menancapkan monumen pikiran. Para pendiri bangsa, hingga kini masih dipercakapkan jasanya, karena mereka mewariskan pikiran besar, waima jasadnya sudah berkalang tanah.
Beralaskan visi membangun sumber daya manusia Bantaeng, bung telah mewujudkan beberapa program dan tak perlu saya dedahkan kembali di esaiku ini yang lebih menyerupai surat personal. Selain telah dituliskan oleh berbagai media, dan puluhan esai dariku, juga bung kembali tegaskan dalam beberapa anjang sana, baik ketika masih menjabat bupati, maupun saat mencalonkan diri kembali pada masa kampanye.
Sayangnya, menurutku, jalan pikiran bung ini diadili dengan perlakuan kurang adil. Janji dan program yang telah bung tunaikan, yang berorientasi membangun jiwa diverivikasi dengan sederet permintaan ragawi. Termasuk durasi waktu, yang bung lakukan selama lima tahun, diperbandingkan dengan hasil kerja sepuluh tahun. Satu model perbandingan yang tak sepadan. Perkara jiwa diadili dengan realitas ragawi dalam rentang waktu yang tak semasa.
Namun, begitulah dinamika politik bekerja. Cara berpolitik saling gigit dan gugat, guna menentukan seorang bupati. Tanpa mengabaikan karut marut politik, sebagai seorang pegiat sosial, pendamba kualitas sumber daya manusia, agar kita berjaya saat menuai bonus demografi, aku masih setia dengan jalan pikiran bung. Sampai detik ini, aku masih meyakini, kualitas manusia yang mumpuni, bakal bisa melahirkan berlaksa karya ragawi.
Tarimakasi lompo, kurusumanga, terima kasih, aku haturkan kepada bung, karena telah menunjukkan satu model kepemimpinan egalitarian yang berani mengambil risiko, kurang populis dalam menawarkan pilihan pembangunan. Percayalah, bung telah mengajarkan secara massal, bahwa pembangunan itu, tidak hanya urusan raga, tapi juga perkara jiwa. Bukan sekadar urusan perut, tapi juga perkara otak. Ingat bung, tidak sedikit warga Bantaeng mengikuti dan setia dengan jalan pikiran dan model pembangunan itu.
Sebagai pegiat sosial, khususnya di jagat literasi, tarimakasi lompo atas dukungannya yang tak bertepi. Ketika kutulis esai-suratku ini, terkenang pada begitu banyak keindahan perlagaan pikiran, sebab bung selalu berpikir maka aku juga ikut berpikir. Apatah lagi, media sosialku, sering mengingatkan manakala ada unggahanku bertahun-tahun lalu, di mana bung selalu membersamaiku dalam aktivitas altruisme. Demikian pula, bila aku sering menyata di acara-acara formal bersifat struktural. Maklum saja, begini-begini aku juga tenaga pendamping inovasi yang melambungkan nama Bantaeng di tingkat nasional.
Indah nian mengenang momen-momen itu. Bung Ilham, aku masih aktivis sosial, menjalani aktivitas di jalan sunyi, lewat jalur kultural. Bung, sesekali sapalah aku selaku orang merdeka, sebab kata-kata bung masih kupegang erat-erat. “Siap parenta kak Sul,” waima di jalur yang berbeda. Jabatan tak abadi, hanyalah alat untuk mengabdi, tapi mengabdi itulah yang abadi.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply to Nur hasanah Cancel reply