Beberapa waktu lalu sebuah peristiwa tragis telah terjadi. Seorang bocah SD, berusia sembilan tahun meninggal di rumah sakit akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang kakak kelasnya. Sulit dipercaya, anak-anak usia akhir bangku sekolah dasar ini bisa melakukan aksi kekerasan sedemikian rupa. Meninju, menendang, melindas perut korban dengan roda sepeda. Apa sesungguhnya yang telah terjadi pada dunia mereka?
Setiap orangtua bertujuan sama ketika mengirim anak-anak mereka ke sekolah. Mereka berharap anak-anaknya akan lebih pintar, cerdas, terampil, dan beretika. Dalam angan-angannya, sekolah akan mewujudkan semua cita-cita itu.
Belajarlahlah dengan giat, biar pintar. Kalau kamu pintar, nilai-nilaimu bagus, mudah dapat pekerjaan mapan. Hidupmu bisa tenang dan nyaman.
Pesan-pesan serupa akan terus terngiang hingga merasuk dan mengendap ke dalam pikiran bawah sadar anak-anak. Pekerjaan mapan menjadi terminal akhir. Kesimpulannya, bersekolah tinggilah agar dapat pekerjaan dengan gaji besar. Ya, itulah umumnya yang menjadi tujuan anak-anak dikirim ke sekolah.
Tetapi sayangnya sekolah justru tidak mendukung tujuan dan keinginan hampir sebagian orangtua. Sekolah belum berjalan sesuai harapan. Sebagaimana yang diungkap oleh John Holt dalam How Children Fail:”…kegagalan akademis siswa bukanlah akibat tidak adanya/kurangnya upaya oleh sekolah, melainkan justru akibat ‘ulah’ sekolah.” (Dikutip dari buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia, Haidar Bagir).
Tujuan menyekolahkan anak yang sangat kontras dengan realitas di lapangan. Anak-anak “dipaksa” belajar hal-hal yang tidak berkaitan dengan kebutuhannya sebagai seorang anak dan manusia. Mereka dididik untuk menghafal dan mempelajari segala sesuatu yang bersifat rasional. Yang lambat laun semua itu akan tergantikan dengan mesin bernama AI (Artificial Intelligence). Sekolah tidak menyentuh sisi humanis seorang anak. Kemampuan intuitif, imajinatif, dan daya moralnya tidak menjadi fokus perhatian pendidikan kita. Akhirnya sekolah harus terus berkutat mengurusi persoalan-peroalan seputar perilaku anak.
Mengirim anak-anak bersekolah jadi sebuah pertarungan tersendiri. Orangtua nyaris tidak punya pilihan lain. Karena sistem pendidikan kita telah dirancang dengan sedemikian rupa. Sekolah telah menjadi sebuah industri, yang memproduksi orang-orang tertentu. Semua mengarah kepada keseragaman. Mulai dari pakaian yang dikenakan hingga cara berpikir. Sulit menemukan jiwa-jiwa kritis di dalamnya.
Jika pihak-pihak terkait tidak berbenah, maka output institusi pendidikan akan kalah dengan mesin, khususnya teknologi Artificial Intelligence (AI) di masa yang akan datang. Menurut Jack Ma, lapangan pekerjaan yang sebelumnya masih didominasi oleh sebagian besar tenaga manusia, perlahan namun pasti akan mulai tergeser. Ia akan digantikan oleh tenaga-tenaga AI, yang akan jauh lebih handal dalam melakukannya.
Apakah normal anak berkelahi?
Bertengkar, berkelahi, atau adu jotos lainnya merupakan peristiwa biasa di kalangan anak-anak. Itulah dinamika kehidupan mereka. Yang tidak boleh dibiarkan jika perkelahian tersebut sudah menjurus kepada penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok anak terhadap anak lainnya. Biasanya yang menjadi korban hanya satu orang anak saja. Sementara pelakunya lebih dari dua orang.
Respons orangtua pun beragam dalam menghadapi anak berkelahi. Ada yang menganggapnya sebagai hal biasa dalam dunia anak. Nanti juga akan baikan sendiri. Atau komentar yang mengatakan, anak perlu diajarkan cara melawan jika ada anak lain yang mengganggunya. Ada juga kelompok orangtua yang menyuruh anak untuk mengabaikan saja jika ada anak mulai mengganggunya. Lama-lama si pengganggu akan capek sendiri.
Semua jenis reaksi di atas sah-sah saja untuk diajarkan pada anak. Yang perlu diperhatikan oleh setiap orang dewasa, dalam hal ini guru dan orangtua, jika ganggu-mengganggu tersebut sudah mulai mengarah pada tindak kekerasan. Di sinilah peran orangtua dan guru sebagai pengawas dan pelindung anak-anak di mana pun mereka berada. Bisa mengetahui kapan perlu turun tangan, kapan tidak. Sebab apa pun tindakan yang diambil, ia mesti mengacu pada koridor mendidik.
Di sisi sebaliknya, banyak pula orangtua yang terlalu melindungi anak. Istilahnya, over protective. Mulai rumah hingga gerbang sekolah, segala keperluan anak dilayani. Bahkan tas sekolah yang semestinya anak panggul sendiri, orangtua membawakannya. Ada laporan anak perihal situasinya di sekolah, orangtua sigap bereaksi. Sisi buruknya anak jadi manja, juga tidak terbangun kemampuan menyelesaikan persoalannya sendiri.
Kedua kondisi di atas sama-sama ekstrim. Sebagai manusia beragama dan berbudaya, kita diharapkan bisa mengambil jalan tengah. Bekali anak dengan mental yang kuat dan tangguh, mengajarinya cara-cara melindungi diri sendiri saat dibutuhkan. Bangun kepercayaan diri anak sejak dari lingkungan keluarga. Anak yang memiliki kepercayaan diri kuat, akan memancarkan aura positif yang akan terbaca tanpa perlu bicara. Kawan-kawannya akan segan padanya, mereka akan berpikir seribu kali untuk mengganggunya.
Orangtua tentu tidak diharapkan untuk menyingkirkan segala sesuatu yang sifatnya mengganggu di sekitar anak. Orangtua tidak akan mampu hadir dan mendampingi selama dua puluh empat jam kehidupan anak. Orangtua tidak diberi napas panjang untuk bisa hidup lebih lama di muka bumi ini. Ada masa anak-anak harus dilepas sendiri menjalani kehidupannya sendiri.
Ustaz Nasrullah, founder Komunitas Magnet Rezeki pernah mengatakan, kita tidak bisa menyingkirkan semua kerikil yang mungkin akan banyak ditemui anak-anak kita dalam perjalanannya. Namun kita bisa membekali mereka dengan sepatu yang kuat sebagai pelindungnya.

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply