Mati Satu Tumbuh Seribu

Seorang guru di Gaza berkata: mengapa di akhir zaman batu dan kayu berbicara? Karena dunia diam.

Tujuh Oktober 2024, menandai satu tahun perang berkecamuk di Palestina. Kota dengan julukan negeri para anbiya itu, kini porak-poranda. Warga dunia menyaksikan kekejaman mengerikan di kota yang dikenal dengan bangunan batu kapurnya.

Menurut beberapa sumber, tercatat 41.870 orang gugur akibat pembantaian Zionis Israel. Angka itu bisa mencapai 3 hingga 15 kali lipat dari kenyataannya. Ironisnya, kebanyakan yang bantai, anak-anak tak berdosa.

Tentu, tak ada kata bisa diucap melukiskan penderitaan mereka. Bahkan, tak terbayangkan kekejaman manusia berhati iblis itu, terhadap sesama manusia. Siapa pun yang melakukan kekejaman dan dengan alasan apa pun, tak dapat benarkan.

Tragedi kemanusian yang sedang terjadi di Palestina, sontak, mengusik rasa kemanusiaan warga dunia. Merespon perihal kemanusiaan itu. Sekotah umat manusia yang tak lagi dibatasi oleh suku, bangsa, agama, ras, dan apa pun namanya. Tanpa paksaan, hati mereka tergerak mengutuk tindakan Zionis Israel sebagai bentuk kebiadaban, dan mendukung kemerdekaan bangsa Palestina.

Gelombang dukungan tak henti-hentinya digelorakan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Gelombang dukungan itu datang secara resmi oleh bangsa-bangsa, maupun dari masyarakat sipil. Pendeknya, penderitaan bangsa Palestina, dirasakan pula bangsa-bangsa lainnya.

Kemerdekaan bangsa Palestina, adalah perlawanan panjang oleh para pajuang. Mereka yang berkorban dan terjun langsung di laga tempur biasa disebut, pejuang Intifada.

Pasang surut perjuangan mesti dibayar mahal. Satu per satu para pejuang itu gugur di medan perang. Bak serupa pribahasa, mati satu tumbuh seribu. Meski demikian, perlawanan akan terus berkobar, hingga Palestina merdeka sepenuhnya.

Keyakinan bangsa Palestina, bahwa suatu saat kemenangan akan datang, tak diragukan. Tanda-tanda kemenangan itu, makin hari makin terang adanya. Meski, peristiwa kekejaman masih terus berlangsung, hingga detik ini.

Dalam sebuah peragaan seni, para pemuda Palestina mengungkapkan, “Mereka telah mencuri tanah kami, memaksa kami keluar dari rumah kami, tapi budaya kami adalah sesuatu yang tidak bisa mereka curi. Ketika kami menghentakkan kaki, kami mengatakan, bahwa sejauh apa pun kita bercerai-berai, Palestina akan tetap berada di bawah injakan kaki kami.”  

Persatuan umat manusia, khususnya muslim, salah satu kunci kemenangan bangsa Palestina. Wacana persatuan umat menjadi salah satu strategi mendulang dukungan moril dari bangsa dan umat dunia.

Kesadaran akan keberpihakan terhadap bangsa Palestina menjadi hal mendesak yang mesti dilakukan. Persatuan umat  muslim seyogyanya diawali dengan suatu gerakan kesadaran. Selama hal itu belum terjadi, selama itu pula, Palestina akan terus mengalami kemalangan.

Saat ini, gerakan kesadaran terus digalakkan, utamanya negara-negara yang selama ini membantu perjuangan bangsa Palestina. Salah-satunya, seruan keras datang dari Mustafa Biram, Menteri Tenaga Kerja Lebanon.

Biram berkata, Pantaskah kita 1,8 miliar umat muslim ketika sebuah bangsa dibantai di Gaza kita duduk diam, tak berbuat apa pun, segan membuat pernyataan, ambivalen dalam penggunaan istilah, lunak dan takut dalam penggunaan istilah. Tidak, kami takkan diam sejak saat ini.

Seruan Biram mengajak segenap umat muslim untuk tidak tinggal diam. Lebanon adalah negara yang selama ini berada di garda terdepan bersama Iran membela bangsa Palestina. Kedua negara ini telah membuktikan sepenuh  jiwa, serta berkorban segalanya demi sesama umat muslim di Palestina   

Kekejian Zionis Israel di Gaza telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Apa yang tejadi di Gaza bukanlah peristiwa perang, namun lebih dari pada pembataian warga sipil, anak-anak kecil, dan perempuan.

Tidak hanya itu, para manusia biadab itu, tega menghancurkan bangunan-bangunan rumah sakit, sekolah, masjid, gereja, universitas, dll. Dalam sejarah perang, baru kali ini kita menemukan agresi sekeji ini. Irosninya, para Zionis bangga akan hal itu.

Mengapa negeri-negeri muslim dan umat muslim kebanyakan bungkam, dan organisasi Islam internasional terlihat abai, atau untuk tidak mengatakan hipokrit. Sebab, hal itu ditengarai umat muslim lemah karena berpecah belah. Padahal, Allah Swt. memperingatkan kita, “Jangan kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”

Rasullah saw juga memperingatkan kita, “Siapa mendengar seorang muslim memanggil (meminta tolong) wahai muslimin, lalu tak meresponnya, maka dia bukan muslim.“ Nabi juga mengatakan, “Siapa menyambut pagi tanpa mempedulikan urusan muslim, maka dia bukan muslim”. Lalu, masih logiskah kita 1,8 milyar umat muslim melihat sebuah negeri muslim dibantai di Gaza, sementara kita diam tak berbuat apa-apa? 

Hingga sekarang umat muslim belum bersatu. Beberapa negara di timur tengah seolah diam, tuli, buta melihat penderitaan muslim di Gaza. Dalam sebuah persamuhan, Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Islam Iran, menuturkan tentang persatuan umat Islam yang hilang.

Menurut pemimpin yang menyandang gelar Ayatullah itu, kita semua belum bisa disebut umat, pasalnya, yang disebut umat adalah sekelompok umat manusia yang bergerak satu arah menuju satu tujuan yang sama, dengan motivasi yang sama.

Saat ini, fakta memperlihatkan umat muslim masih terpecah-pecah. Akibatnya, para musuh Islam terus melanggengkan kuasanya dengan menghalalkan segala cara.

Perlawanan kepada mereka kaum tagut tak pernah berhenti hingga mereka musnah di muka bumi. Kunci kemerdekaan atas penderitaan umat muslim di Gaza, tak ada lain, yakni persatuan umat Islam.

Persatuan umat Islam yang dicitakan tak mudah terwujud selama kesadaran sosial umat Islam masih tidur. Gempuran pemikiran di zaman moderen menjadi salah satu penyebab umat belum bersatu.

Berawal dari pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat, dengan sendiri membentuk semacam relasi sosial, sayangnya, kebanyakan relasi sosial yang berkembang di tengah masyarakat, berorientasi pada kepemilikan, atau cenderung individualistik.

Peristiwa di Gaza menjadi poros dimulainya persatuan umat. Tidak saja umat Islam, namun, seluruh umat manusia, itu semua tidak lain atas dasar kemanusiaan.

Peristiwa di Gaza akan menjadi pengungkit kesadaran atas pemikiran umat manusia yang membelenggu. Perlahan tapi pasti, relasi sosial atas dasar kemanusiaan, lamat-lamat tercerahkan.

Pada waktunya, kemerdekaan bangsa Palestina akan tiba. Kebenaran akan terkuak, sebesar apa pun kekuatan menutupinya.  

Kredit gambar: Kompasiana.com         


Comments

One response to “Mati Satu Tumbuh Seribu”

  1. M. Nasir Avatar
    M. Nasir

    Bismillah. Panjang umur perjuangan, Allah beri yg terbaik. Segenap harapan, Allah hancurkan musuh”Nya dengan caraNya. Free Palestina. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *