Ternyata Oh Ternyata

Alkisah, seorang ibu meminta saya untuk menangani anaknya. Anaknya seorang lelaki dan alumni dari sebuah pondok pesantren. Menurut sang Ibu, anaknya tidak patuh dengan orangtua, lebih suka di luar rumah, dan nanti mau istirahat baru pulang ke rumah.

Masih menurut sang ibu, anaknya juga tidak mencerminkan , bahwa ia alumni pondok pesantren yang pernah menuntut ilmu agama, dan berbanding lurus dengan ibadahnya sehari hari. Intinya, sang ibu kecewa karena anaknya tidak sesuai dengan harapannya.

Selain menggambarkan kondisi anaknya, sang ibu pun menggambarkan kondisi dirinya, yang penuh dengan kekecewaan,  kesedihan, dan sesekali amarah menyelimuti perasaannya. Bukan hanya itu, beberapa penyakit juga sudah menghantui pikirannya, seperti hipertensi dan maag.

 Sekalipun sang ibu mau keluar dari apa yang dia rasakan, tapi dia sangat fokus pada kondisi anaknya. Sang ibu sangat mau anaknya berubah menjadi seperti harapannya, dan karena itu saya diminta untuk melakukan terapi pada anaknya.

Pada kasus yang lain, seorang istri datang menemui saya. Dia menyampaikan kondisinya yang sangat tidak tenang, pikiran kalut, emosi yang labil, asam lambung naik, kolesterol, dan beberapa gangguan lainnya.

Bahkan menurutnya, juga ada penyakit nonmedisnya. Setelah berbincang sekitar satu jam lamanya, dia pun menyampaikan, bahwa dia mengalami seperti itu karena suaminya. Suaminya tidak seperti harapannya. Suaminya tidak bisa menjadi imam baginya, dan juga ayah yang baik untuk anak-anaknya.

Sang istri sudah berusaha untuk mengubah suaminya, tetapi suaminya tak kunjung berubah. Bahkan semakin  bertingkah, yang membuat sang istri semakin uring-uringan. Dia pun berharap agar saya melakukan terapi pada suaminya,  agar terjadi perubahan sesuai dengan kemauannya.

Pada kesempatan yang lain, saya dipertemukan dengan seorang menantu, yang  sangat terusik dengan perilaku mertuanya. Banyak perilaku mertuanya yang membuat hidupnya terganggu, dan berujung pada ketidakbahagiaannya. Bahkan sang mertua untuk beberapa saat lamanya, tidak melakukan silaturahmi  dengannya.

Sang menantu sudah melakukan banyak hal, agar mertuanya berubah. Dia sangat berharap, suatu saat nanti, saya dipertemukan dengan mertuanya, sehingga saya bisa melakukan terapi padanya, agar mertuanya pun berubah sesuai dengan kehendaknya.

Ketiga kasus di atas memiliki persinggungan dan  kesamaan, di mana seseorang menjadi terusik, karena perbuatan orang lain. Keterusikannya semakin menguat, karena ia mau mengubah orang lain, tetapi perubahan tersebut tidak kunjung didapatkan. Bahkan, orang yang dia mau ubah, semakin berulah dan semakin jauh dari harapannya.

Adakah di antara sahabat holistik  yang sedang mengalami kasus seperti di atas? Jikalau mendapati kasus yang seperti itu, bagaimana mengatasinya? Apa yang mesti dilakukan dan dari mana memulainya? Beberapa hal berikut, sebaiknya diperhatikan, yaitu:

Pertama, berdasarkan Al Quran,  bahwa perubahan itu harus bermula dari diri sendiri, kemudian berlanjut pada orang lain. Terkadang, kita sangat bernafsu untuk mengubah orang lain dengan berbagai alasan, seperti untuk kebaikan yang bersangkutan, dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, dan juga atas nama dakwah. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita berubah terlebih dahulu?

Kedua, pada kasus tertentu, termasuk tiga kasus di atas,  apa yang terjadi pada orang yang bermaksud dia ubah, sesungguhnya adalah akibat dari sebuah sebab. Sebagai contoh, anak yang dianggap nakal tersebut dan tidak betah di rumah, itu adalah akibat, dan sebabnya karena ibunya sendiri. Sang ibu sangat mengawasi anaknya, sangat protektif, tidak memberi ruang dan sangat dominan pada anaknya. Ketika anak keluar rumah, pikiran sang ibu dipenuhi dengan pikiran negatif, penuh kecemasan dan pada akhirnya sangat sering menelepon anaknya. Akibatnya, anak tertekan , terusik dan pada akhirnya memberontak. Pemberontakan sang anak dalam bentuk perilaku yang tidak dikehendaki oleh sang Ibu.

Ketiga, dari sudut pandang ilmu komunikasi,  lebih khusus lagi pada psikologi komunikasi, terkadang diabaikan model dan cara yang efektif untuk menyampaikan sebuah informasi. Karena merasa benar plus atas alasan kebaikan, kita terkadang menyampaikan semaunya saja, tanpa mempertimbangkan waktu, tempat, dan kondisi seseorang. Begitu pun emosi yang menyertainya, terkadang dipenuhi dengan emosi yang negatif, seperti jengkel, marah, dan kecewa, sehingga cenderung menggurui, menghakimi, dan menghukumi.

Sahabat holistic, sang Ibu, istri, dan menantu pada kasus di atas,  selanjutnya saya sebut sebagai pelapor. Sebab, merekalah yang melaporkan anaknya, suaminya dan mertuanya. Adapun anak, suami , dan mertua, selanjutnya saya sebut sebagai terlapor .

Dari 3 poin di atas, pelapor  kemudian bisa memahami, bahwa sekalipun bermaksud baik untuk perubahan orang lain, maka   yang harus berbenah lebih dahulu adalah pelapor itu sendiri. Jadi, telah terjadi perubahan status, dari pelapor menjadi pasien .

Karena pelapor sudah menerima penjelasan saya,  maka yang harus diterapi adalah sang Ibu, sang Istri, dan sang menantu. Bukan pada anak, pada suami, dan pada mertua. Awalnya memang agak berat, sebab yang dianggap bermasalah adalah anak, suami, dan mertua.

Singkat cerita, setelah melalui terapi holistik pada pelapor, alhamdulillah,  terjadi perubahan yang luar biasa pada yang terlapor. Terjadi perubahan pada sang anak, sang suami, dan sang mertua. Padahal saya tidak pernah bertemu, apalagi melakukan terapi pada mereka. Pihak terlapor saya abaikan, justru pelapor menjadi pihak yang ” terdakwa “, dan kemudian menjalani terapi.

Beberapa penekanan yang saya lakukan pada pelapor, pertama,  menerima. Bahwa apa yang terjadi pada terlapor, semuanya adalah kondisi yang netral saja. Dan, cara pandanglah yang akan mengubahnya, menjadi negatif (masalah) atau justru menjadi positif (anugerah).

Kedua, stop bermaksud dan bernafsu, apalagi memaksakan kehendak untuk merubah terlapor. Pelapor tidak punya kekuatan dan kekuasaan untuk mengubahnya. Buktinya, setelah sekian lama mau mengubah terlapor, bukannya berubah, malahan semakin berulah. Allah saja yang punya kekuatan dan kekuasaan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya pada hamba-hamba-Nya. Buktinya, ada hamba yang belum taat pada-Nya.

Ketiga, terdapat hukum fisika yang erat kaitannya dengan kasus ini, yaitu hukum aksi = reaksi. Semakin bernafsu dan ngotot mau mengubah, maka reaksi penolakanpun juga seperti itu.

Keempat, menyadari bahwa kondisi terlapor merupakan akibat dari sebuah sebab pelapor itu sendiri. Karena pelapor menjadi sebab, maka pelaporlah yang harus berubah.

Kelima, perubahan pada pelapor di antaranya adalah, memandang semuanya dalam bingkai berproses, baik dalam memandang dirinya maupun pada yang dilaporkan.

Keenam, ketika kemauan untuk mengubah itu kembali muncul, maka segeralah blokir dengan istighfar. Insyaallah,  dengan istighfar, nafsu untuk mengubah akan terkendali.

Ketujuh, gunakan semaksimal mungkin fasilitas doa. Dengan doa, jangankan nasib, takdir saja bisa berubah. Mohon kepada Allah Swt.,  agar Allah memberikan jalan terbaik untuk perubahannya.

Kedelapan, hadirkan dan  bayangkan pihak terlapor, kemudian senyumi.

Alhamdulillah, semuanya karena izin dan kehendak Allah Swt.,  sang terlapor kemudian berubah seperti kemauan sang pelapor dengan metode yang berbeda. Pelapor pun kembali menikmati perubahannya. Kata sang pelapor, “Tternyata… oh…ternyata untuk mengubah seseorang, harus didahului dengan perubahan pada diri sendiri terlebih dahulu.”

Kredit gambar: https://kumparan.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *