Seorang Lelaki yang Akan Menjadi Ayah

Lelaki itu tidak pernah menyangka akan menjadi seorang ayah, hingga di suatu malam yang dingin dan berat, ketika malam makin pekat, saat suara yang terdengar hanya detak jam dinding di ujung ruangan, istrinya kaget karena sesuatu berdenyut di dalam perutnya. Jelas itu bukan ikan makan malamnya yang tetiba hidup kembali, atau serangga yang entah dari mana masuk ke pembuluh darah dan mengetuk perutnya dari dalam. Istrinya lupa kalau dirinya sedang hamil. Denyut yang mungkin sebuah tendangan dari kaki bayinya yang kecil, atau pukulan dari tangannya yang mungil menyadarkan dirinya bahwa kehamilannya bukanlah mitos.

“Astaga….” Teriak istrinya. Ia menyergap tangan suaminya, meletakkan di atas perutnya dan berharap denyut itu berulang, sehingga suaminya yang masih bingung itu mengerti. Laki-laki memang sulit paham jika belum merasakannya sendiri.

Kekagetan mereka bukan karena kehadiran bayinya tidak direncanakan. Jauh sebelum itu, saban malam, ketika orang-orang sudah menitip lelahnya pada bantal, mereka akan berbaring di kasurnya yang sempit, menatap langit-langit rumahnya yang putih. Bercakap-cakap tentang ini dan itu, menimbang-nimbang, dan sesekali berandai-andai.

“Aku tidak ingin punya anak,” kata istrinya pelan.

“Kalau tidak mau, tidak usah. Kita menikah untuk bahagia, bukan untuk punya anak.”

“Kupikir kau mau?”

“Aku memang mau.”

“Anak tidak bisa tumbuh sendiri. Mengurus diri sendiri saja kita masih repot.”

“Aku sudah bisa mengurus diriku, kaupun sama. Kita sudah dewasa, dikit lagi tua.”

“Tapi, aku kasihan pada anak-anak yang lahir hanya karena tuntutan pernikahan. Yang lahir karena tuntutan, biasanya hidup tanpa tuntunan.”

“Kita bisa memilih ingin.”

“Maksudnya?”

“Ingin menuntun atau hanya menonton anak tumbuh seperti menatap film di layar kaca dan tak melakukan apa-apa.”

“Aku masih butuh waktu.”

Lelaki itu mendengar tarikan nafas istrinya yang berat. Seolah beban di pundaknya baru saja ia hempaskan jauh-jauh.

Ketika menaruh tangannya di perut istrinya, lelaki itu membayangkan seorang manusia akan lahir, dan akan memanggilnya “ayah” dengan mulutnya yang kecil dan suci. Lalu ia akan mengajarinya nama benda-benda, mengantarnya ke sekolah, dan memberinya makanan paling bergizin. Keriuhan di kepalanya makin bertambah, ia tetiba ingat pada pagina koran Tempo 12 Mei 1979 Kepada Anak yang Sedang Tidur yang pernah ia baca, ditulis oleh Goenawan Mohammad.

Tiap anak, kata Tagore, tiba dengan pesan bahwa Tuhan belum jera pada manusia. Mungkin demikian. Namun, di tanah air Tagore saat itu konon 11 juta bayi dilahirkan setiap tahun. Berarti tiap hari lebih dari 30.000 ribu nyawa. Tiap menit lebih dari 20 anak. Dan kita tidak tahu lagi berapa lagi di Cina dan di Indonesia. Dengan statistik sekencang itu, benarkah Tuhan terus mengirimkan pesan yang sama?”

Sejak itu, istrinya makin intens mengajak perutnya bicara, menyebut-nyebut Yura dengan lembut, seolah mereka sedang duduk bersisian di bangku panjang di bawah pohon. Suaminya yang tak pandai membangun percakapan itu bingung juga melihatnya. Beberapa kali diminta, dan ia pasti membeku seperti es batu di freezer. Lelaki itu menego cukup berperan membacakan doa-doa sebelum tidur malam. Ia punya buku doa yang dibeli dari seorang nenek tua yang menjualnya dengan sedikit memaksa. Pesan dari Tuhan ini mesti dipeliharan betul, meski pertanyaan Goenawan membikinnya sangsi?

Yura makin besar dan aktif di bulan-bulan berikutnya, ditandai dengan perut ibunya yang makin “buncit”. Berkali-kali pula ibunya mengerang tiba-tiba ketika Yura bergerak-gerak menghentakkan kaki atau tangannya. Dalam erangan itu, ibunya sering berkata, “Tidak apa, Nak. Artinya Yura sehat. Ibu hanya kaget.” Mendengar itu, Yura mungkin makin tertantang dan melatih diri dengan menjadikan organ dalam ibunya sebagai samsak tinju.

Di trimester 3, kala padi mulai menguning dan jalanan sering basah karena hujan, Yura dan ibunya juga makin sering jalan kaki berkeliling komplek, katanya agar kepala bayinya perlahan-lahan masuk panggul. Agar proses lahiran jadi lebih mudah. Dengan perut yang makin besar itu, jalan istrinya seperti itik, lucu dan menggemaskan.

Hampir sebulan lamanya, lelaki itu mengawal istrinya, saban pagi dan sore mereka mengitari rumah-rumah bertembok abu-abu gelap seragam itu, tanpa alas kaki, hanya tanah yang lembab dan kerikil kecil. Dengan semua ikhtiar itu, mungkin itulah yang membikin istrinya menitikan air mata, ketika bidan bilang bahwa ia tidak bisa melahirkan secara normal. Bayi tidak masuk panggul, di usia kehamilan yang sudah semestinya. “Seberat itukah pesan Tuhan, hingga perut istrinya mesti dibelah?”

Ia terpaku, menatap suaminya yang tersesat dalam labirin pikirannya di pojok ruangan.

Setelah menarik nafas dalam, lelaki itu meyakinkan istrinya, bahwa sesar dan lahiran normal tak mengurangi kadar keibuan seseorang. Itu hanyalah soal pilihan yang disandarkan pada pertimbangan ilmiah. Demi kebaikan si ibu dan si anak. “Kalau ada yang bilang belum sah jadi ibu jika tidak lahiran normal, itu adalah sebuah kedongokan,” tegasnya.

Hening sebentar, sebutir air masih jatuh dari pipi istrinya yang resah.

“Saya ingin menyusui, Bu Bidan? “Apakah dengan sesar anak saya bisa menyusu?” Katanya penuh harap.

“Tentu bisa.” Jawab bidan optimistis.

“Kalau kalian siap, malam ini kita bisa ke rumah sakit, langsung operasi.” Mereka saling menatap, menimbang-nimbang, meminta waktu menghubungi keluarga dekat. Di luar, gerimis menyapa reranting pohon.

Mereka pulang, menembus gerimis dan aspal basah. Tak ada percakapan dalam perjalanan pulang. Mereka sibuk dengan isi kepalanya masing-masing.

“Kita akan jadi orangtua,” istrinya seolah tak percaya.

“Kita memang sudah tua. Sudah kepala tiga,” balas suaminya ketika pintu rumah terbuka.

“Isshh… itu kamu, tahun ini aku baru 29,”

Selarik senyum jatuh di bibir suaminya, besok ia sudah berstatus ayah. Akan ada anak yang merengek padanya, meminta digendong, dan sesekali ia akan marahi jika terlampau nakal. Namun, sesuatu mengganjal di hatinya, dan merasuki pikirannya seperti angin yang menyelinap dari kisi-kisi jendela.  

Di suatu malam yang panas, saya berjalan di tepi Sungai Gangga. Di satu sudut tergolek seekor anjing kurus. Tapi tak jauh dari sana terbaring makhluk yang lebih kurus lagi: seorang bocah gelandangan.

Penyair Tagore, yang saya kutip tadi (ia selalu berbicara indah tentang kanak-kanak) mungkin belum pernah melihat ini. Mungkin itulah sebabnya ia selalu mengajukan pertanyaan aneh. Ia bertanya misalnya dalam satu puisi: “Siapa yang mencuri tidur dari pelupuk-pelupuk bayi?” Padahal di tepi Sungai Gangga itu pertanyaan yang penting ialah: “Siapa yang mencuri nasi dari perut anak ini…”

Tidak, anakku. Bukan aku mau menganggu cerah mimpumu. Tapi mungkin yang “mencuri nasi” dari perut anak gelandangan itu adalah seorang bapak dari anak lain—mungkin aku. Di dunia yang penuh sesak dan penuh orang lapar, seseorang yang kekenyangan berarti merenggutkan nyawa yang lain.

Sudah lewat tengah malam, rumah sakit sudah ditinggal para pembesuk, hanya ada orang sakit dan orang sakti. Di kursi panjang depan kamar operasi, ia menarik nafas panjang, seolah semua oksigen ingin ia masukkan ke dalam paru-parunya, “Tuhan, jaga anakku baik-baik,” doanya khusyuk dan pelan. Pelan sekali.

Di luar, hujan turun lagi, dekat parkiran rumah sakit, seorang anak meringkuk dingin menatap balon yang dijualnya sendiri, dan tak ada yang peduli.

Sumber gambar: shutterstock.com


Comments

2 responses to “Seorang Lelaki yang Akan Menjadi Ayah”

  1. Keren luar biasa pak, ngena sekali sbenarnya sama saya, semua kehawatiran itu pernah ada di otakku berputar2. Terimakasih sudah falshback kala itu😃

    1. Ikbal H Avatar

      Terima kasih, Pak. Senang mendengarnya.

Leave a Reply to Ahmad Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *