Kala pagi menyingsing, ibu (begitu kami menyebutnya sejak 3 tahunan ini, rumahnya kami jadikan basecamp ‘pengungsian’ bagi manusia-manusia yang mendamba ketenangan dari huru hara perkotaan) bergegas menuju dapur, memastikan stok kayu bakar cukup, buat mengenyangkan perut keluarga hari ini. Jika kayu bakar tak cukup, berarti ibu harus ke hutan, untuk mencari kayu bakar agar tungku kayu tetap menyala.
Di beberapa pemukiman, memasak dengan tungku kayu tradisional dari tanah liat atau sekam padi, masih digunakan hingga hari ini. Meskipun beragam alat masak modern telah ditemukan dan di perjual belikan cukup murah, tungku kayu tetap menjadi primadona di desa-desa. Urung terganti, seperti ialah penanda nilai-nilai luhur yang mesti dijaga marwahnya.
Bagi orang yang mengidap penyakit sesak nafas, memasak dengan tungku kayu tentu sangat menyulitkan hidup. Namun, dari tungku kayulah satu keluarga, satu perkampungan dihidupi. Makanan yang dimasak menggunakan arang atau kayu bakar memiliki citarasa dan aroma yang khas. Citarasa dan aroma khas inilah yang disukai banyak orang. Lebih wangi, dan disebut lebih menggoda selera makan.
Tidak hanya itu, sumber daya alam di desa adalah bentuk solidaritas antara warga, sekaligus simbol ketahanan pangan, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan makanan pastilah dekat dengan masyarakat. Itulah sebabnya, banyak kaum borjuis yang gemar berkunjung ke desa-desa, untuk sekadar mengadakan perayaan dan pencitraan berkedok makan bersama, berswa foto dan membagikannya di lini maya, tak ketinggalan caption pamungkas, “Kami telah berbagi kesejahteraan kepada masyarakat.”
Desa begitulah adanya, terlepas dari kebiasan-kebiasan komunal yang merakyat nan bersahaja. Desa ternyata juga menjadi suatu ‘arena’ bagi para borjuasi, mulai membangun berbagai perangkat politik, yang dapat mendukung operasi kapitalnya di tingkat lokal. Di mana desa kian sibuk menjelang perayaan 5 tahun sekali, tak lain adalah Pilkada.
Ibu akan lebih rutin ke hutan, mencari kayu bakar dibantu oleh anak perempuannya yang harusnya ke sekolah, tapi karena akan ada perayaan di desanya, sang anak tidak ke sekolah, lantaran harus membantu ibu mencari kayu bakar lebih banyak, agar sang tamu bisa kenyang.
Pada perhelatan pemilihan kepala daerah, tungku kayu juga berguna menanak budaya patronase, di mana ada hubungan timbal balik antara masyarakat desa dan elit politik, yang menawarkan bumbu-bumbu masakan, sejenis harapan-harapan kebajikan, pilihan-pilihan hidup yang lebih baik dimasa mendatang, sebagai jalan keluar dari kesengsaraan sebagai imbalan atas dukungan politik.
Budaya ini mengalir deras, karena desa lebih merasakan kondisi kerentanan akibat berbagai momen kritis, yang kita hadapi dalam beberapa tahun terakhir—mulai dari pandemi covid-19, hingga efek dari kebijakan-kebijakan kapitalistik—masih kita rasakan hingga sekarang. Hadirnya sajian politis ini, menjadi penyegar dahaga, untuk mengatasi persoalan tersebut.
Reaksi cepat ini bertumpu pada satu asumsi, bahwa berderma adalah solusi jitu dan tepat sasaran di momen-momen kritis atau bahkan di masa krisis panjang sekalipun. Di momen inilah, masyarakat desa diberdaya, di hegemoni atas nama kepentingan bersama, padahal berderma adalah aksi etis nan politis para dermawan sebagai pelopornya, sialnya lagi jika komunitas dijadikan sebagai kendaraan politiknya.
Pergolakan yang tidak bisa dihindari oleh orang-orang desa, tatkala kaum kroni dari berbagai kubu Pilkada mulai berduyun-duyun berdatangan. Bagaimana tidak? Bantuan dan masyarakat Indonesia menjadi dua hal yang patut dinikmati, sebab kebaikannya jarang ditemui bisa datang ke desa terpelosok sekalipun.
Akibat dari hegemoni kepentingan di tingkat lokal tersebut, rakyat kehilangan hak-haknya secara ekonomi-sosial-budaya dan politik. Mengakibatkan rakyat kehilangan hak berdaya, potensi sekaligus kemampuan dalam bertahan, melawan atau mengontrol sistem lokal yang mereka miliki. Singkatnya, rakyat telah atau akan kehilangan kedaulatannya, sebab menghadirkan ketergantungan politis. Sehingga, kita patut mencurigai kebaikan tiba-tiba di musim Pilkada.
Sajian-sajian kaum borju inilah yang mematikan gerakan-gerakan sosial di desa. Padahal, mereka—simpatisan pasangan calon kepala daerah hanya datang dan mengenyangkan egonya. Lalu, setelah kegaduhan itu, bagaimana api di tungku bisa tetap menyala? Ya tentu hanya dilakukan oleh orang desa, tanpa bantuan orang borjuis lagi.
Tapi bagaimana jika desa telah porak-poranda oleh ulahnya? Pedulikah mereka? Tidak. Mereka telah berpesta merayakan kemenangannya. Lalu setelah perayaan, bagaimana? Ibu akan tetap bertani, menanak harapan, esok akan ada pembeli hasil kebun yang lebih arif nan bijaksana.
Karena itu, intervensi dari gerakan sosial kerakyatan, sangat diperlukan dalam pertarungan politik di tingkat lokal. Kita mesti membongkar altruisme fanatik dan praktik politik berkedok ‘kebaikan semu’.
Dengan cara ini, perlawanan di lokal diberi perspektif kelas, untuk melawan politik identitas yang dibawa oleh para elit politik lokal, guna membangun kekuasaan dan oligarki politiknya, yang berelasi dengan kepentingan modal mereka saja. Sebab, sikap altruisme fanatik nan tiba-tiba yang kerap di eksploitasi oleh kaum borjuis itu melahirkan ketergantungan semu bagi masyarakat khususnya yang bermukim di desa hingga pelosok.
***
Bapak tergopoh-gopoh menuju dapur, “Ada mi karaeng, nia’ na erang anu baji. Assulu’ maki liba,” yang artinya “Sang raja sudah tiba, membawa kebaikan. Segeralah keluar.” Bapak bersorai dengan mata berbinar-binar. Ibu dan anak perempuannya bergegas menyajikan ubi masak di atas piring kaca, hadiah sabun cuci yang didapatnya dari toko langganan di kota.
Kredit gambar: Kompas.com

Mahasiswa magister Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Gemar mengunjungi pasar dan tempat-tempat unik, sesekali menjadi relawan di komunitas pendidikan dan sedang mengasuh Sikola Jantung Pisang di pelosok Kabupaten Bantaeng. Bisa bersua melalui instagram di nswalii


Leave a Reply