Berangkat dari sebuah pertayaan monohok oleh kawan ngopi. Mengapa Tuhan memberi izin iblis mengoda dan menyesatkan manusia? Jika begitu, berarti iblis sedang menjalankan tugas yang diamanahkan oleh Tuhan. Artinya, apabila iblis menjalankan tugasnya, kelak iblis akan diganjar surga oleh Tuhan, ujarnya.
Saya sedikit mengernyitkan dahi. Berusaha menjawab pertanyaan kawan saya itu. Jedah sejenak, lantas saya menukas. Sejatinya, Tuhan tak pernah memberi perintah kepada siapa pun makhluknya, untuk melakukan perbuatan dosa dan nista. Tuhan adalah pemilik kebaikan, maka mustahil Tuhan bertentangan dengan sifat dan perbuatan-Nya sendiri.
Logika pertanyaan salah, tentu melahirkan jawaban salah pula. Saya menganggap, pertanyaan kawan saya itu salah, atau sekadar ingin menguji pendapat saya. Tidak sampai di situ, kawan itu melontarkan lagi pertayaan mengelitik. Apakah Tuhan akan memberi ampunan jika iblis memohon ampun? Lalu, bagaimana dengan nasib orang-orang yang telah disesatkan iblis?
Saya pun menukas, dosa maupun pahala merupakan kehendak Allah. Segala peristiwa apa pun terjadi, tanpa terkecuali, seluruhnya atas kehendak Ilahi. Tak ada satu pun yang terjadi tanpa kehendakn-Nya, termasuk dosa manusia yang disesatkan iblis sekalipun.
***
Setiap makhluk mengukir sejarahnya masing-masing. Masa depan atau nasib manusia merupakan algoritma dari perkataan dan tindakan setiap insan. Hakikatnya, manusia terlahir dari manisfestasi kebaikan Ilahi.
Benih-benih kebaikan telah lama tertanam sejak manusia lahir di muka bumi. Adapun sisi gelap manusia, adalah akibat dari godaan hawa nafsu yang perankan oleh setan dan sejenisnya.
Setiap perkataan maupun perilaku akan menemukan takdirnya masing-masing. Kebaikan bakal melahirkan sari kebaikan, begitu sebaliknya. Semacam beranak pinak. Semangat kebaikan yang dibaluti dengan ilmu, melahirkan kebijaksanaan, sebaliknya, kebaikan tanpa ilmu melahirkan kecerobohan.
Sebagaimana semesta bekerja dengan caranya sendiri, saat kita berusaha menjadi persona garib, semesta menghadirkan piranti pertemanan lainnya. Sehingga, ke mana pun kita berada akan menemukan semacan kedamaian dan keselamatan.
Prinsip kebaikan yang bersemayam lama dalam jiwa, mesti diupayakan teraktual pada bentangan kehidupan. Memang tak mudah, bak membalik telapak tangan, sebab, di waktu bersamaan tirai kegelapan pun bersemayam dalam jiwa.
Tentu, pertentangan dalam jiwa niscaya adanya. Pada konteks inilah, upaya kesadaran melalui pergelutan diri akan menentukan nasib seseorang. Waktu akan menjawab sendirinya, sejauh mana manusia mewarnai kemelekatan hidupnya.
Sejak manusia melata di buana, gejolak harapan dan putus asa, atau bahagia dan derita terus bergelora. Dua opsi yang menggelayuti hidup manusia menjadi pilihan sadarnya. Nabi berkata tegas, ikatlah kaki unta dengan tawakkal, dengarkan rahasia ini, al-Kasibu habibullah. Dan, jangan sampai karena tawakkal engkau lari dari usaha.
Karena pilihan sadarnya, tak ada manusia ingin berakhir dengan derita. Segala upaya pun dilakukan demi meraih kebahagian. Maulana Rumi ingin menyampaikan bahwa manusia memerlukan strategi, agar bebas dari derita dirinya.
Bagi Rumi, ruh terpenjara dengan kenikmatan-kenikmatan tubuh, sehingga ruh tak bisa bebas naik menuju singgsana Ilahi. Dengan kata lain, manusia memerlukan riyadhah atau latihan yang sungguh-sungguh agar bisa benar-benar bebas dari tubuhnya.
Meraih kemenangan sama halnya dengan memerdekan diri dari segala kemelekatan hidup. Dengan sendirinya, kehidupanya akan selaras dengan semesta. Pada tingkat ini, seseorang akan diselimuti energi kebaikan dalam setiap langkahnya. Manusia mahkluk yang paling sempurna dari seluruh ciptaan Tuhan, bagaimana tidak, dalam diri manusia memilliki semacam alam semesta.
Gambaran alam semesta dalam diri manusia, pernah diterangkan oleh Bagas Hokky Ardyantoro Karyadi, seorang pakar algoritma rezeki. Sekali waktu, beliau membeberkan dalam sebuah acara webiner, bahwa alam semesta terdiri dari mikrokosmos, makrokosmos, metakosmos, dan teokosmos. Lebih lanjut, Bagas menerangkan satu demi satu pembagian alam itu.
Pertama, Mikrokosmos adalah, lapisan alam semesta yang berada pada tiga dimensi (panjang, lebar, dan tinggi) yang secara spesifik hanya terdiri tubuh fisik dan beserta keseluruhan isinya.
Kedua, Makrokosmos adalah lapisan alam semesta yang berada pada tiga dimensi (panjang, lebar, dan tinggi) yang melingkupi segala sesuatu di luar tubuh fisik. Inilah alam semesta yang umumnya kita kenal.
Ketiga, Metakosmos, lapisan alam semesta yang berada pada empat dimensi (panjang, lebar, tinggi, dan waktu) yang melingkupi mikrokosmos dan makrokosmos. Alam ini juga merupakan lapisan peralihan menuju alam lebih tingggi.
Keempat, Teokosmos, lapisan alam semesta yang berada pada lima dimensi (panjang, lebar, tinggi, waktu, dan misteri) alam yang melingkupi mikrokosmos,makrokosmos, dan metakosmos. Alam ini merupakan lapisan yang tidak dapat terjangkau.
Bagi teori algoritma rezeki, kehidupan seseorang akan bahagia, beruntung, berkelimpahan dst, apabila kehidupannya telah selaras dengan hukum alam semesta.
Tak perlu jauh-jauh untuk menyelaraskan dengan hukum semesta, pasalnya, Tuhan telah menciptakan alam semesta dalam diri manusia. Ada berbagai aspek kehidupan manusia. Dari beragam aspek itu, jalan spiritual merupakan satu-satunya yang diyakini menjadi pintu masuk ke dalam alam semesta yang tak bertepi itu.
Para pejalan spiritual menjadikan hati sebagai fakultas yang mampu melihat, merasakan dan menampung hakikat kehidupan. Sebagimana kata hadis Qudsi, Hati orang mukmin adalah arsy Ilahi. Menjadikan hati sebagai gerak kesadaran, artinya, kita tak punya lagi keinginan selain kepada Tuhan.
Manakala manusia menempatkan hatinya sebagai wadah Ilahi, di saat yang sama, manusia akan menemukan dirinya tak lagi memiliki apa pun. Kesadaran ini membuat manusia memahami, bahwa wujud mutlak hanya milik Ilahi, sedangkan, selainnya hanyalah manifestasi-Nya.
Sebagaimana kata Rumi, Kami adalah ketiadaan-ketiadaan. Keberadaan-keberadaan kami telah sirna. Engkau adalah wujud mutlak. Memfanakan segala eksistensi.
Memfokuskan diri dengan nama-nama semesta, maka dengan sendirinya hukum algoritama bekerja, nama- nama itu akan bertajali di dalam diri. Lamat-lamat, semesta akan menunjukkan diri-Nya di dalam diri. Jika sudah begitu, manusia telah selesai dengan dirinya sendiri.
Kredit gambar: Inspirasi Master Rajneesh Facebook

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply