Jebakan Media Sosial di Musim Politik

Dunia kini adalah era media sosial. Ia menjelma menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa ditolak. Kehadirannya menjadi kebutuhan. Bukan lagi sekelas gaya-gayaan.

Dahulu, informasi-informasi hanya lewat selembar kertas dan goresan tinta di atasnya, yang disebut dengan koran atau surat kabar. Informasi yang disajikannya hanya lewat tulisan.

Atau melalui sebentuk kotak kecil yang terbuat dari logam, besi dan plastik, dengan fasilitas audio yang disediakannya, yaitu radio. Atau setingkat lebih di atas, informasi datang melalui layar kaca yang menyajikan gambar bergerak dan audio, yang disebut dengan televisi.

Dulu, penyebaran informasi sangat terbatas. Informasi datang hanya kepada masyarakat menengah ke atas. Hanya datang kepada orang-orang yang mampu membeli surat kabar atau koran. Atau melalui televisi dan radio yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu.

Selain terbatas, juga tidak terlalu update. Informasi yang hadir adalah informasi yang peristiwanya sudah berlalu beberapa saat. Butuh proses waktu untuk sampai kepada audiens atau viewers.

Dulu, tidak semua orang bisa terlibat dalam menyampaikan berita. Tugas itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang terdaftar dalam profesi pewarta. Hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia surat kabar, radio dan televisi, yang disebut dengan wartawan/pewarta dan reporter.

Kini semuanya berbeda. Kehadiran media sosial, mengubah semuanya. Informasi yang awalnya limited, menjadi unlimited. Informasi yang awalnya delay time, seketika menjadi live time. Informasi yang awalnya hanya bisa dilakukan oleh special person, kini bisa dilakukan oleh general people.

Kini, dengan adanya media sosial, sekelas Facebook, TikTok, Tweeter, Instagram, YouTube,dan jenis media sosial lainnya, informasi yang awalnya terbatas itu, menjadi tak terbatas. Informasi yang tertunda, menjadi langsung. Penyampai informasi yang awalnya hanya bisa dilakukan oleh orang khusus, menjadi bisa dilakukan oleh semua orang. Di era sekarang, semua orang bisa menjadi “wartawan/pewarta/reporter”.

Dengan kehebatan media sosial itu, kemudian menjadi sarana yang strategis dalam dunia politik. Ia digunakan sebagai salah satu media atau sarana untuk menyampaikan informasi tentang kerja-kerja politik seseorang. Bahkan menjadi sarana yang paling ampuh dalam melakukan personal branding bagi seorang politisi.

Media Sosial menjadi ajang untuk memublikasikan ide, gagasan, kelebihan dan kehebatan seorang politisi. Media Sosial menjadi sarana yang paling mumpuni untuk menjangkau warga yang akan memilih, sekaligus memengaruhi pilihan politiknya.

Sayangnya, maksud yang semestinya menjadi ruang positif dalam mendistribusi dan memengaruhi warga, untuk menentukan pilihan politiknya, menjadi ajang untuk saling merusak. Tulisan dan tontonan yang sejatinya arena untuk mengedukasi pemilih, menjadi ajak saling tuduh yang  tak menyehatkan.

Media sosial tidak lagi menjadi arena pertarungan ide, gagasan dan program, tetapi menjadi ajak provokasi dengan narasi hitam semisal black campign dan penyebaran berita hoax. Bahkan, tak jarang cacian, makian dan saling fitnah juga menyertainya.

Perdebatan-perdebatan yang terjadi melalui media sosial, sering menghadirkan diskusi yang kurang sehat, tak elok dipandang mata, tak merdu didengar telinga. Sebab, yang tampak adalah tuduhan-tuduhan kepada lawan politik yang tak berdasar. Tak punya data. Tak punya basis fakta yang kuat. Itulah black campign.

Perilaku kampanye hitam ini, sepaket dengan penyebaran berita hoax. Informasi yang didistribusi adalah informasi yang tak berdasar. Sumbernya tak valid. berisikan kebohongan dan bermotifkan kebencian.

Menjelang musim politik, perilaku kampanye hitam dan hoax, semakin menjadi-jadi. Ia seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Para pihak, saling serang dalam diskursus yang abnormal. Informasi yang disampaikan, lebih karena luapan emosi, bukan basis intelektual, tanpa melakukan validitas.

Anehnya, tidak sedikit orang yang menyukai dan terjebak dalam terungku medsos yang tak menyehatkan. Apa pun informasi yang datang kepadanya, jika itu menguntungkan kandidatnya, dan dapat menyudutkan pihak politik lain, langsung dilahapnya. Tak cukup dilahap, langsung pula disebarluaskan, tanpa melakukan filter informasi sebelumnya.

Sering didapati, bagaimana sebuah video yang awalnya utuh, lalu diedit. Ditampilkan potongan-potongannya. Lalu, dibuatkan narasi-narasi dari potongan video atau gambar itu yang dapat menimbulkan persepsi dan perspektif negatif.

Lalu kemudian, untuk keuntungan pihak-pihak tertentu, dan dengan maksud mengaburkan informasi yang benar, potongan-potongan video itu kemudian, langsung pula disebarluaskan oleh pihak yang menerimanya. Hanya karena, informasi itu dianggapnya viral dan dapat menguntungkan kelompoknya.

Padahal. Jika dilakukan penelusuran secara utuh terhadap tampilan gambar dan video tersebut, tidaklah sama persis, bahkan sangat berbeda, dengan potong-potongan video atau narasi yang disebarluaskan tersebut.

Saya dan mungkin juga Anda, betapa sering menemui sebuah percakapan via medsos, potongan-potongan video dan informasi yang viral dan tiba-tiba membangkitkan kebencian, tetapi sumber informasinya tidak jelas. Dan setelah dilakuan penelusuruan, data yang disajikan tidak valid.

Jika benar, bahwa dengan adanya informasi-informasi yang sumber dan datanya tidak jelas itu, menimbulkan bara api kebencian Anda kepada pihak tertentu, lalu hanya karena alasan viral, Anda pun menyeberluaskannya, sungguh misi penyebar berita berhasil merasuki Anda. Anda terjebak dalam kampanye hitam dan termakan berita hoax.

Yang mengherankan, jebakan-jebakan kampanye hitam dan hoax ini, juga sering terjadi kepada orang yang dari sisi kecerdasan berada di atas rata-rata masyarakat pada umumnya. Ia bisa melanda kalangan akademisi dan agamawan.

Distributor informasi yang bernarasi kampanye hitam dan hoax itu, ternyata dilakukan oleh orang yang padanya ada titel sarjana. Bahkan, sering pula dilakukan oleh orang-orang yang dipundakanya ada label seorang yang agamawan.

Sepertinya di era kekinian, kerja-kerja literasi semakin menantang. Karena bukan hanya literasi politik yang perlu digaungkan, tetapi literasi media sosial, juga perlu digalakkan.

Mungkin benar kata orang, bahwa titel sarjana, tidak menandakan kedalaman ilmu seseorang, tetapi hanya penanda bahwa yang bersangkutan adalah tamatan sebuah perguruan tinggi.

Mungkin benar kata orang, bahwa seorang agamawan, tidak mencerminkan kesalehan seseorang, tetapi hanya penanda bahwa yang bersangkutkan sering berkhotbah di atas mimbar. Wallahu A’lam.

Kredit gambar: liputan6.com


Comments

One response to “Jebakan Media Sosial di Musim Politik”

  1. Bacaan yang sangat mengenyangkan otak, sehat selalu bagi Sang Penulis( Beliau adalah guru sekaligus panutan Bagiku).

Leave a Reply to Hasan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *