Yang Lalu, Biarlah Berlalu

Apa yang ada di benak sahabat holistic, setelah membaca judul tulisan ini? Pasti beragam. Mungkin ada yang menghubungkan dengan lagu, mungkin ingat masalah yang pernah dialami. Bahkan, mungkin juga ada yang masih didominasi kehidupannya, terkait masa lalu yang memilukan?

Masa lalu adalah bagian dari tiga masa kehidupan manusia. Dua lainnya adalah masa kini dan  masa depan. Perbincangan tentang tiga masa kehidupan manusia, menjadi sesuatu yang sangat penting. Sebab, ketiga masa tersebut saling berhubungan sekaligus saling memengaruhi.

Saya sangat sering menemukan orang yang secara fisik hidup di masa kini,  tetapi dari segi psikis justru hidup di masa lalu atau di masa depan . Misalnya , salah seorang pasien yang sangat berhati-hati untuk melangkah , karena masa lalunya penuh dengan kenyataan yang memilukan.  Masa lalunya nyaris dipenuhi dengan pengkhianatan yang berujung pada penderitaan. Begitupun pada pasien lainnya, yang sangat mengkhawatirkan masa depannya, sehingga ia hidup dengan penuh kecemasan .

Agar lebih detail pembahasan tentang masa ini, mari kita urai satu persatu.

Masa lalu

Masa lalu secara sederhana dapat dimaknai sebagai masa yang telah lewat, atau masa terdahulu. Masa lalu seseorang beragam , ada yang baik dan menggembirakan, ada yang  biasa biasa saja, dan ada pula yang kelam berisi penderitaan. 

Terkait dengan masa lalu, maka yang baik kita tingkatkan kualitasnya, dan yang buruk  kita tinggalkan dan berusaha mencoba mengambil hikmah di balik peristiwa tersebut. Hikmah dari sebuah peristiwa buruk, hanya bisa diperoleh ketika kita tidak lagi fokus pada peristiwa itu sendiri. Sebaliknya, ketika masih fokus dan didominasi pada masa lalu tersebut , maka penderitaan akan tetap ada, dan akan senantiasa berkelanjutan.

Biasanya, masa lalu yang kelam berisi tentang kekecewaan-kekecewaan. Kekecewaan ini akan berlanjut pada dua hal, pertama adalah marah/ jengkel, dan yang kedua adalah sedih. Baik marah maupun jengkel, akan memengaruhi kesehatan seseorang. Misalnya marah, maka sel-sel akan rusak dan pada akhirnya mati. Masih ingat , satu kali marah, maka 15 ribu sel akan mati, dan 5 menit marah berakibat pada menurunnya imunitas tubuh  selama 6 jam.

Bayangkan, jikalau marahnya berhari hari, berbulan bulan hingga bertahun tahun. Akibatnya, akan terjadi penyakit-penyakit degeneratif seperti hipertensi,  diabetes , stroke, liver , kanker, dan lainnya. Begitupun rasa sedih yang berkepanjangan. Berdasarkan riset holistik, bahwa kesedihan akan memengaruhi paru-paru , dan jikalau terus  berkelanjutan, maka dapat berakibat pada penyakit kanker.

Lalu apa yang mesti dilakukan, dan dari mana mulainya? Kita bisa memulainya dengan pertama, mengidentifikasi apa pun peristiwa yang masih mengganggu di psikis. Akan lebih baik lagi jikalau dicatat di atas kertas , sehingga akan lebih mudah mengamatinya. Dengan demikian, kerja otak pun akan lebih ringan.

Kedua, setelah teridentifikasi, maka langkah berikutnya adalah hadirkan/bayangkan yang mengganggu. Jikalau orang, maka bayangkan orangnya, kemudian senyumi. Jika berbentuk kejadian atau peristiwa, maka juga hadirkan/bayangkan, kemudian senyumi. Senyuman ini bertujuan untuk menggeser emosi negatifnya. Lakukan berulangkali hingga emosi negatif yang menyertai kejadian tersebut, menjadi normal dan tidak berefek lagi pada psikis.

Ketiga, jikalau tiba-tiba muncul lagi pada ingatan,  maka segera blokir dengan istighfar,  dan setelah itu senyumi. Istighfar bertujuan agar pikiran yang tidak produktif bisa terkendali.

Keempat, lakukan pemetaan, sehingga solusinya akan lebih mudah kita peroleh. Sekaligus meminimalisir kejadian akan berulang lagi.

Sahabat holistik, target kita bukan untuk melupakan ya? Sama sekali bukan untuk melupakan, sebab tak akan mungkin terlupakan. Mengapa? Sebab sudah terlanjur menguat di memori. Sehingga target sesungguhnya,  jika teringat, maka sudah tidak berefek lagi, bahkan sudah bisa disenyumi.

Ayo sahabat holistik , yang sekarang ini masih ada memori yang mengganggu di psikis, hadirkan, bayangkan dan segera senyumi . Yo… ayo… Lepas semua “kaca spion” yang ada, sehingga kemungkinan untuk melihat ke belakang sudah tidak ada lagi. Katakan, selamat tinggal masa lalu. Yang lalu, biarlah berlalu.

Masa depan

Setelah mengurai tentang masa lalu, berikutnya adalah membahas tentang masa depan. Masa depan secara sederhana dapat dimaknai sebagai masa yang akan datang. Jadi sama sekali belum terjadi. Karena belum terjadi, maka yang ada adalah bersifat kemungkinan.

Saya sangat sering mendapati orang yang hidup di masa depan. Sangat fokus pada masa depannya. Berbagai kalkulasi, asumsi, proyeksi, hipotesa atau apa pun istilahnya dilakukan untuk masa depannya. Intinya,  hampir semua waktunya terkuras habis untuk memikirkan masa yang datang. 

Apa kemungkinan yang terjadi, ketika sangat fokus pada masa depan? Saya sering menyebutnya dengan istilah “curi start penderitaan”. Belum terjadi, sudah menderita. Sahabat holistic,  saya mau tanya,  adakah kepastian, apa yang dibayangkan terkait masa yang akan datang pasti terjadi? Masih banyak  kemungkinanya bukan? Dan, salah satu kemungkinan yang paling mungkin adalah, kita sudah berpulang ke Rahmatullah, sebelum bayangan masa depan menjadi kenyataan.

Beberapa contoh dari curi start penderitaan tersebut, pertama, seseorang yang belum pensiun, tapi sudah memikirkan dan larut dengan bayangan kehidupan saat pensiun. Fatalnya lagi, bayangan yang menguat adalah yang membuat dan mensupport penderitaan.

Kedua, seseorang yang akan melakukan perjalanan.  Belum berangkat , sudah membayangkan tidak nyamannya perjalanan. Sudah membayangkan tersiksanya saat perjalanan. Akhirnya,  yang bersangkutan sudah mabuk duluan sebelum berangkat.

Ketiga, seseorang yang biasa di-bully oleh teman-temannya. Dia enggan untuk bersosialisasi, karena berpikir akan di-bully lagi. Sehingga yang menguat adalah selalu menjadi korban. Dan di saat seperti itu, penderitaan sudah dirasakan, padahal kondisinya belum dijalani.

Apakah salah kalau memikirkan masa depan? Tidak. Sama sekali tidak salah. Justru, terkadang kita butuh akan hal seperti itu, untuk kepentingan perencanaan hidup dan membangun optimisme.  Menjadi keliru, jikalau sangat fokus pada masa yang akan datang dan  hidup di masa depan dalam bingkai pesimis. Sebab, sangat bisa mengganggu psikis dan akan melahirkan kecemasan. Kecemasan ini akan membuat asam lambung naik, dan akan berakibat pada munculnya penyakit maag, gerd, gastritis, sinusitis, dan lainnya.

Lalu, bagaimana mengatasinya? Kita bisa lakukan, pertama, ketika terpikir lagi terkait dengan masa depan, maka segeralah blokir dengan istighfar.  Kendalikan pikirannya dengan istighfar.  Ibarat kendaraan, istighfar ini akan mengerem lajunya pikiran pikiran yang tidak produktif.

Kedua, senyumi  hal yang mengganggu tersebut. Sehingga energi negatifnya bisa tergantikan dengan energi positif, dan berujung pada emosi yang positif pula. Ketiga, fokus pada masa kini.

Masa kini

Setelah membahas masa lalu dan masa depan, tampak adanya efek negatif yang akan ditimbulkan. Jika masa lalu berakibat pada kekecewaan, kejengkelan,  kemarahan dan kesedihan, maka fokus pada masa depan justru, akan membuat munculnya rasa cemas dan berujung pada kecemasan. Semua emosi negatif tersebut akan memengaruhi kesehatan seseorang.

Karena itu, mari hidup di masa kini saja. Mari fokus pada yang sekarang ini. Dengan fokus pada yang sekarang ini, maka efek dari masa lalu akan terminimalisir, begitupun terkait dengan efek dari fokus berpikir masa depan. Jikalau sekarang ini baik, maka insyaallah semuanya menjadi baik baik saja. Tidak mungkin sekarang menanam singkong, kemudian yang tumbuh adalah pisang.

Ayo sahabat holistik , kita optimalkan potensi yang ada, untuk melakukan hal terbaik sekarang ini, saat ini dan di sini. Dan, semuanya itu bermula dari senyuman.

Kredit gambar: Riris Facebook


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *