Man Huwa Muhammad?

Penanda seorang muslim, selain pengakuan iman akan kebeeradaan dan keesaan Allah, secara bersinambung diikuti pernyataan iman kedua tentang kenabian Muhammad saw. Allah dan Muhammad adalah dua nama yang bersanding dalam pengakuan iman (syahadat).

Pengakuan iman mensyaratkan ilmu dan meniscayakan implementasi amal. Bila iman kepada Allah mensyaratkan makrifat tentang-Nya (Makrifatullah), pun demikian dengan pernyataan iman atas kenabian Muhammad, mensyaratkan Makrifat Rasul.

Jika iman kepada Allah meniscayakan laku amal menaati hukum syariat-Nya, demikian halnya dengan iman kepada Nabi, mensicayakan laku amal mengikuti jejak teladannya. Makrifat rasul adalah proses awal untuk menghampiri Muhammad dan “menuhan” bersama Muhammad saw.

Nama Muhammad sedemikian agung, hingga dengan nama Allah, namanya bersanding. Annemarie Schimmel mengutip seorang penyair Urdu yang berujar, “Ketika pena menulis Nama Allah, ia juga menulis nama sang Rasulullah (Muhamamd).” Pertanyaannya, “man huwa Muhammad”, “siapa Muhammad?” Ini adalah pertanyaan pertama dalam menyibak tirai makrifat Rasul. Nabi Muhammad saw adalah sosok manusia dwi dimensi yang paripurna, sebagai fakta historis sekaligus personalitas transhistoris.

Jawaban pertanyaan tentang siapa Muhammad? Bila dijawab dengan narasi historis, dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, yang lahir 570 M di Mekkah dan wafat 632 M di Madinah. Beristrikan Khadijah, anaknya bernama Fatimah, kakek dari Hasan dan Husain.

Manusia yang mencatatkan namanya dalam lembar sejarah, sebagai manusia besar yang mengubah sejarah dunia. Manusia yang hadir dengan kemilau risalah di tengah kegelapan masyarakat Jahiliyah. Bak hujan yang turun di tengah gurun nan kering, Muhammad hadir membawa harapan pada tatanan kehidupan yang baru. Dialah Muhammad, Nabi yang sekarang diimani oleh hampir dua milyar orang di kolong langit ini.

Siapa Muhamamd? Kebesaran historisnya adalah manifestasi keagungannya yang divine (rabbani). Di alam metafisika, dialah yang pertama tercipta namun di bumi dia nabi yang terakhir. Sebagai yang pertama dia disebut al-Aql al-Ula (Akal Pertama) atau sebagai Nur al-Aqrab (Cahaya yang dekat).

Sebagai pamungkas dia disebut sebagai Khatamun Nabi (penutup para Nabi atau cincin para Nabi). Dalam Hadis Riwayat Tirmizi diriwayatkan bahwa Kenabian Muhammad saw telah ditetapkan, saat Adam as masih berada di antara roh dan jasad. Dalam Hadis Riwayat Thabrani disebutkan, “Akulah nabi yang pertama diciptakan, tapi yang terakhir diutus.”

Dialah yang mengawali segenap ciptaan, karena dari manifestasinya hirarki semesta hadir dalam gradasi. Dialah ahad disisipi mim (Ahmad) dengan identitas Rabb dimula ain (Arab). Jika kita membuka literatur filsafat Islam atau tasawuf irfani, maka akan kita temukan narasi tentang sosok Nur Muhamamd, sebagai makhluk pertama yang tercipta langsung dari Allah dengan tanpa perantara.

Bahkan diyakini pula, semesta raya diciptakan dari dan karena Nur Muhammad. Dalam sebuah Riwayat dinyatakan, “Aku adalah bapak dari segala roh dan Adam adalah bapak dari sekalian tubuh manusia.” Nabi Muhamamd as adalah bapak rohani, sedangkan Adam as adalah bapak biologis manusia.

Sebegitu agung nama Nabi Muhammad saw, hingga Al-Qur’an menyebutnya dengan salah satu nama Allah, “Wa innaka la’ala khuluqin `azhim”, yaitu sebagai orang yang berakhlak agung (QS. 68:4). Kata ‘azhim adalah salah satu Nama Allah yang juga disematkan sebagai gelaran kepada Nabi Muhamamd saw. Penyematan kata ‘azhim kepada pribadi Nabi Muhamamd saw, menunjukkan keagungan beliau dalam deskripsi keagungan yang ilahiah.

Dalam sebuah hadis qudsi dikatakan, “Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah”, dan Nabi Muhammad saw adalah personifikasi sempurna untuk hal tersebut. Karena itulah Muhammad saw ditetapkan sebagai uswatun hasanah atau suri teladan yang baik (QS. 33:21) dan sebagai jalan untuk meraih Cinta dan Ampunan Ilahi (QS. 3:31).

Muhammad saw adalah personifikasi dan prototipe dari kemanusiaan yang paripurna, manusia Rabbani yang sempurna dalam “menuhan” sekaligus memanusia. Sosok yang rohaninya menjulang tinggi hingga langit tertinggi, namun baktinya kepada manusia begitu subur di atas bumi.

Jalan Muhamamd saw adalah Jalan Allah, menghampiri Nabi Muhammad berarti menghampiri Allah. Menjalankan sunnah dan meneladani akhlaknya, berarti mewujudkan citra Rabbani dalam pribadi insani.

Bershalawat kepadanya adalah mengikuti jejak Allah yang lebih dahulu bershalawat kepadanya. Melaksanakan sunnah, meneladani akhlak dan bershalawat adalah jalan “menuhan” dan menjadi seorang mukmin. Ketika predikat mukmin telah benar-benar kita raih, maka Sang Nabi Agung lebih dekat kepada diri kita ketimbang diri kita sendiri (QS. 33:6)

Siapakah Muhammad? Dialah yang insani sekaligus Rabbani. Dia bukan Tuhan, tapi Dia manusia yang menuhan.

Siapakah Muhammad? Dia yang historis sekaligus trans-historis. Dia yang imanen sekaligus transenden.

Siapakah Muhammad? Dia tak disembah, tapi salat tak absah tanpa bersalawat padamya.

Siapakah Muhammad? Dialah Sang Penebus, Penggenap, dan Penyelamat.

Selamat bergembira di hari kelahiran Sang Nabi Agung. Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad. Wa ala alihi Sayyidina Muhammad.

Kredit gambar: detik.com


Comments

One response to “Man Huwa Muhammad?”

  1. Assalaamualaika Yaaa Rasulallah…Assalaamualaika.yaa Nuurullah.
    Assalaamualaika yaaa Habiiballah…wa Rahmatullah wa barakatuh…😭😭😭🥰🥰🥰

Leave a Reply to Aminah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *