Ide mendirikan sekolah kepengasuhan telah lama mendiami pikiran saya. Sudah bertahun-tahun lalu. Bentuknya, bisa di dunia nyata, maupun di jagat maya.
Meski ide ini bukanlah hal yang baru, untuk sebagian besar pemerhati pendidikan anak di Indonesia, tetapi, tetap saja ia menjadi sesuatu yang menarik buat dipertimbangkan.
Selama ini, orang-orang rela bersekolah dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, untuk dapat menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, atau mengambil spesialisasi agar menjadi ahli di bidang tertentu. Namun, mereka lupa untuk meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menguasai bidang kepengasuhan.
Menjadi ahli pada suatu bidang pekerjaan, mungkin bisa menjadi pilihan karir, akan tetapi menjadi ahli di dunia pengasuhan, tentu saja bukan ‘pilihan’ melainkan ‘keharusan’. Kecuali orang tersebut menghapus kemungkinan untuk ia menjadi orangtua suatu hari nanti.
Sebenarnya jika kita mau membuka mata lebar-lebar, bukan hanya pada saat menjadi orangtua, kita baru akan terhubung dengan anak-anak, akan tetapi hampir semua bidang kehidupan, khususnya dunia pendidikan, membutuhkan kemampuan pengasuhan yang mampu menjawab berbagai persoalan, yang berhubungan dengan perilaku dan kebutuhan anak.
Bahaya menjadi orangtua tanpa referensi
Dulu, ketika usia masih kanak-kanak, saya sempat berpikir, bahwa menjadi orangtua itu gampang, tinggal mengamati perilaku sehari-hari orangtua kita, beres. Ia tidak perlu dipelajari, apalagi sampai seserius seperti yang kami lakukan saat ini sebagai orangtua. Menjadi orangtua ternyata tidak mudah.Karena orangtua menghadapi anak kecil dengan alam pikiran yang berbeda dengan mereka.
Jika menjadi orangtua itu hanya seputar membesarkan, mencukupi kebutuhan fisiknya, dan menyekolahkannya, mungkin akan tampak sederhana dan mudah. Namun, pada kenyataannya membesarkan anak tidaklah semudah yang kita bayangkan. Ia penuh dengan perjuangan baik moril dan materiil. Mesti tarik ulur menggunakan metode yang tepat, dan lain sebagainya.
Sayangnya, orangtua terkadang kebingungan hendak belajar kemana jika benar-benar serius mau mempelajari dunia kepengasuhan secara komplit. Yang ada saat ini hanyalah buku-buku, majalah, media online dan cetak, ditambah seminar atau training kepengasuhan yang saat ini banyak tersedia. Mulai dari yang berbiaya puluhan ribu sampai yang berbiaya jutaan. Para orangtualah yang harus proaktif mencari informasi-informasi ini. Jika tidak, maka pekerjaan menjadi orangtua akan terasa berat, membebani, dan membosankan.
Lalu apa bahayanya jika orangtua tidak mau belajar, mencari informasi, atau aktif mengikuti pelatihan keayahbundaan? Orangtua jenis ini, akan bertindak dan bereaksi/merespon setiap perilaku ‘menyimpang’ anaknya, dengan cara seperti orangtua mereka dulu memperlakukan mereka ketika kecil. Berita baik jika cara tersebut sesuai dengan teori yang dianjurkan oleh para ahli, tapi jika tidak, maka anaklah yang akan jadi korban.
Misalnya, bagaimana sikap orangtua ketika mengetahui anaknya mencuri uang? Tentu beragam reaksi yang akan muncul. Ada yang langsung memukulnya tanpa sempat melakukan “interview singkat”, dengan si anak (ingat kasus masa kecil ketika ketahuan mencuri), ada yang masih memiliki stok waktu yang sedikit untuk menanyai si anak.
Namun, dengan nada yang menuduh (meraba-raba tindakan yang tepat diberlakukan untuk si anak). Di antara para orangtua ini ada yang mau meluangkan waktu yang banyak untuk berduaan, berbicara empat mata dengan si anak, memancing anak untuk mau terbuka, bercerita tentang bagaimana asal mula ia melakukan tindakan tersebut.
Sebagai penguat, baru-baru ini viral di dunia maya, via media sosial, seorang lelaki memukuli seorang anak perempuan. Kasusnya, si anak sudah berkali-kali mencuri uang. Dan, reaksi pro kontra terhadap pemukulan itu sebagai jalan keluar, berhamburan di media sosial. Akhirnya, si lelaki berurusan dengan polisi.
Ruang tulisan ini tak bermaksud membahas prilaku si anak perempuan, pemukulan yang dilakukan oleh si lelaki, dan akhirnya kasus berujung di kantor polisi. Namun, sekadar menyodorkan sebagai satu contoh nyata, bahwa ruang-ruang kepengasuhan cukup penting dihadirkan.
Pada akhirnya, sekolah kepengasuhan itu penting, untuk menjadikan seseorang pakar di bidangnya. Pilihannya kembali kepada diri masing-masing, kita ingin menjadi pakar di bidang apa?
Kredit gambar: https://devkp.klikpsikolog.com/

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply