Saat rilis awal, betapa manis dibumbuhi penuh jimat, mantra sakti mandraguna. Beberapa reaksi penuh harapan, menggugah.Tetiba menggugat. Ada tercekat, terpikat, ada terdiam kalabangngaang (kaget, terhentak tak menyangka).

Masih kusimak permainan hompimpa alaium gambreng saling mengutuk.  Ada yang berwasiat, dan pula bermuslihat.

Pesona ditabuh bertalu-talu. Tetiba si Petong hadir di tengah pergulatan adu kesaktian. Mereka yang merasa tokoh, kaum akademisi, para jawara, dan pendekar sakti, ikut dalam kontes tanpa peduli risiko, menggugurkan hajat menjadi hujat.

Pengakuan, identitas, dengan  begitu genit dimainkan.  Budaya tutur tercemari limbah bahasa sampah.  Yang terpelajar, para pemula, merasa milenial, toh juga omongannya semakin jorok, jauh dari  budaya kesantunan. Begitu karut bin kibang-kibut. Seperti tawuran kata dan ributnya yang cukup ribet.

Selain lambung, ada lumbung kehidupan yang juga menjadi sasaran, sampai pada busur-busur imajinasi terbentur dinding zaman.  Dari peran pikiran, sekuantum yang dikulum.  Perangai yang tertuai, setelah tabur mereka kabur.  Memburu  kuantitas, melibas ritus pengetahuan, budaya  tak mampu diretas secara waras.

Sebuah kontes dan pentas dihelatkan, ada menabuh, ada cukup main  instrumentalia, ada yang genjreng-genjreng, menjaga ritme, hingga menenteng tasbih berharap surga.

Sementara seorang Kunta Dewa saat ditolak masuk surga, hanya karena membawa seekor anjing. Lalu dia melepas surga memilih sahabatnya (anjing), untuk kembali ke dunia sambil mengucap, “Kalaulah hanya karena saya tertolak gara-gara bersama sahabat saya ini, maka saya tidak apa-apa tidak masuk surga. Bahkan sekeping pun surga untukku, karena saya tidak mau mengkhianati persahabatan saya dengannya.”

Atau peran Arjuna saat  menolak kemenangan, karena merasa menginjak  bangkai saudaranya untuk menuju tahta kemenangan peperangannya.  lalu  membalikan busur dan anak panah ke dewa. Tetapi dibantah oleh  Khrisna, “Kamu tidak tahu, kau  tidak paham! Suaranya bergetar.  Mereka ini yang kau anggap saudaramu sebangsa? Adalah mereka yang mengkhianati dirimu dan bangsanya sendiri. Maka  raihlah kemenangan itu.”

Wow. Saya memcoba memahami jauh lebih dalam, bahkan sampai ke dalam-dalam. Tetapi tetap  mengingat berenang ke tepian. Agar tidak terlalu tenggelam merasuk dendam. Dan meraba pintar merasa.

Jejak intelektual terbentur pada prilaku. Mereka  Lupa sejatinya bahwa  intelektual itu adalah berpihak pada nilai-nilai yang dan luhur. Wow begitu menohok kalimat seorang Ahmad Sobary, sebagai  akademisi dan pemerhati budaya. Intelktual itu adalah yang mampu menerjemahkan keindahan langit dan membawanya ke bumi. Yang bisa mengubah kemuliaan di langit menjadi kemuliaan di bumi.  Bang Sobary menukilkan di sebuah bincang melihat fenomena di negerinya, saat para intelktual berparade kecerdasan ujungnya kebabalasan. 

Begitulah sebagian dari kita, yang merakit jalan ampuh , anggun memesona. Minim pada nilai dan kemuliaan keagungan kemanusiaan, budaya, agama, politik, dan keluhuran.  Bagian dari senjakala perjalanan, di tengah gairah seperti saat ini di hajatan pesta pertarungan yang saling menutur, ada yang ngelantur, ada yang ngawur. Seperti pesta  huru-hara berujung   hura-hura. 

Para pencari populisme semakin merambat, menjamur, pada setiap penjuru, menerobos apa saja. Atas nama etika dan budaya menjadi tameng. Atas nama identitas saling melibas.

Menyimak setiap percakapan saling membusung, tak urung pula saling merundung. Saya kemudian cekatan mengumpulkan beberapa lembar cerita dan kisah. Dari surau/masjid, di gedung,  di tempat menyeruput kopi, pada sebuah komunal dari yang kumal, hingga merasa paling aktual dan intelektual.  Sesekali kulirik, dan tetiba seseorang penguntil dengan bedil-bedil, melihat saya bagai bandit yang tengil.

Jangan jadi pecundang! Petong menggugat. Danu segera berlalu tak hirau. Selepas siang itu pada kemarau yang begitu menyengat. Karena begitulah Petong, tanpa menemukan kalimat lain untuk lebih membuat betah lawan bicaranya. Setiap percakapan ada debat. Dalam debat pasti ada interupsi dan interpretasi  dengan menggunakan gaya lebih elegan, relevan serta lebih edukatif. 

Sambil melempar senyuman sepertinya terpaksa juga. Pesona Danu juga redup karena terbawa suasana, yang membuatnya keliru dan merasa goyah dalam logika dasar,  untuk mencerna dan menjalankan imajinasinya seperti biasa. Sambil berlagak intelek, Danu sepertinya kelihatan cukup tengil juga.

Pesona itu setiap saat hadir dan bisa menjadi bencana, sembari numpang tampang. Dan sebagai pesona cukup menabur dengan luhur, secara kultur, dan tutur.  Mengabarkan nilai-nilai. Sebagai kerindangan dan keteduhan manusia.  Tempat bernaung, dari gerah geliat manusia yang semakin tidak elok. Saling mengolok-olok, menghujam hendak merajam sesamanya.  kehilangan makna siri napacce hanya sitallangngang merasa paling benar, pandai tapi lalai.

Segerah siang kemarin, seresah gunda yang tak bisa terlerai, tetiba Buya menggedor dinding HP. Di sana ada panggilan tak terjawab tanpa nama. Menyapa dengan lembut. Sepertinya kalimat ini saya cukup mengenalnya. Tapi rasa penasaran itu tak bisa saya bendung. Saya menelponnya langsung, dan benar suara itu adalah Si Buya. Kami segera bersua di suatu tempat.  

Percakapan  yang menyembuhkan rindu sekian dari pertapaannya, tetiba hadir membumbuhi kisah masing-masing. Hingga pada hal-hal yang tersublim terangkum dari sekian episode, kami lalui hingga kebersudahan diri merasakan klimaks. Bukan merayakan sensasi dari sekian fantasi yang suka mencari suaka/pengakuan.

Buya menaruh sekuntum kuantum, pada wangi semerbak kemanusiaanku  yang telah keliru menebar pesona. Saya terdiam menadahnya, sembari merunut kembali geliat tempo hari saat saya dalam keadaan candu demi  pesona, hingga membuatku menjadi semakin paranoid.

Buya menyeduhkanku sebuah hamparan peristiwa, bagai air mengalir, sesekali mengutip pesan-pesan pappikatu surang appakatau ri langika (pesan-pesan langit),  hingga matahari hampir terbenam,  semilir angin selat, menepikan gairah yang lengah hanya karena bisik rayu syahwat pada suaka pesona.

Kredit gambar: Kompassiana.com


Comments

2 responses to “Pesona”

  1. Kisah kekinian dalam bersemesta dipadu dengan rima yg apik dan diksi yang elok…lanjut sobat

    1. Dion Syaif Avatar

      Wow. Siaoa gerangan ini tanpa nama? Makasih apresiasinya

Leave a Reply to Dion Syaif Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *