Terlalu mudah mengatakan satu realitas buruk. Ongkosnya murah, cukup melontarkan sederet kata mematikan jiwa. Namun, lebih mudah dan murah lagi, menyodorkan kebaikan, cukup dibuktikan dengan keinginan segelintir orang, mau belajar pada pencapaian prestasi layanan kebaikan.
Kamis, 12 September 2024, menyata peristiwa unik di Kabupaten Bantaeng. Apa pasal? Hadirnya kunjungan studi tiru dari Kementrian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Repuplik Indonesia (Kemenko Marves) dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Sidrap.
Masing-masing tim, membawa rombongan sekitar 20 orang. Tim Kemenko Marves dipimpin oleh Rahayu (Kepala Biro Hukum) sedangkan Tim Brida Sidrap langsung dipimpin Plt. kepalanya, Herwin. Diterima secara resmi di Ruang Pola Bupati Bantaeng. Setelahnya, mereka ke lokasi studi: RSUD dan Dinkes Bantaeng.
Ada latar belakang menarik, mengapa Tim Kemenko Marves bertandang ke Bantaeng melakukan studi tiru? Melalui suratnya, terkuak maksud yang melatarinya. Pertama, setiap tahun Kementerian PANRB melakukan pelaksanaan penilaian Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP), tetapi di tahun 2024 ditiadakan dan digantikan oleh Pemantauan Keberlanjutan dan Replikasi Inovasi Pelayanan Publik (PKRI). Pada Tahun 2024, Kemenko Marves belum memiliki inovasi yang dapat diikutsertakan pada KIPP, sehingga pada pelaksanaan PKRI, Kemenko Marves hanya dapat mengikuti penilaian pada aspek pembinaan inovasi.
Kedua, berdasarkan hasil penilaian PKRI, untuk dapat mengetahui strategi pembinaan inovasi dan mengikuti Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP), kami berencana melakukan benchmarking ke Pemerintah Kabupaten Bantaeng atas rekomendasi dari Kementerian PANRB.
Ketiga, sehubungan dengan hal tersebut, kami akan menugaskan pejabat/staf terkait dengan urusan pengelolaan pelayanan publik di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, untuk melakukan benchmarking pada Pemerintah Kabupaten Bantaeng, dalam rangka mempelajari proses pembinaan inovasi dan studi tiru inovasi.
Sedangkan kedatangan Tim Brida Kabupaten Sidrap, untuk melakukan studi tiru, dikarenakan begitu banyak prestasi yang telah dicapai Kabupaten Bantaeng dalam seluruh ajang kompetisi inovasi. Dan, paling menakjubkan di tahun 2024, mencapai peringkat terbaik di seluruh Indonesia dari tiga katagori: pembinaan, keberlanjutan, dan replikasi. Artinya, Kabupaten Bantaeng tersukses di kekinian.
Sebagai satu konsep, lebih elok bila terlebih dahulu, saya berikan batasan sederhana terhadap apa yang diperkarakan: inovasi. Yoris Sabastian, dalam bukunya, Biang Inovasi, mendedahkan, inovasi adalah proses kreatif yang menghasilkan perubahan, sehingga memberi nilai tambah atau value dari sebuah produk. Boleh pula didefenitkan, innovation merujuk pada asal kata to innovate, berarti melakukan suatu perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru, memberikan nilai tambah baik pada produk, layanan, atau proses kerja.
Perkara inovasi di Bantaeng, paling tidak lima tahun terakhir, sudah tumbuh ekosistemnya. Ekosistem inovasi lahir melalui 6 tahapan perjalanan. Pertama, komitmen dan semangat berinovasi. Komitmen Pemkab Bantaeng, lewat Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, tahun 2019, mencanangkan program One Agent Three Innovation, satu agen-instansi tiga inovasi.
Kedua, pelembagaan inovasi. Menetapkan regulasi inovasi, menyiapkan anggaran inovasi, melakukan rekrutmen tenaga ahli inovasi, menghadirkan laboratorium inovasi, membentuk tim koordinasi dan kreatif, dan membikin kolaborasi melalui MoU dengan berbagai pihak.
Ketiga, pembinaan inovasi. Wujud langkah-langkah yang dilakukan, berupa penguatan kapasitas, penciptaan inovasi, dan replikasi inovasi. Keempat, pengembangan inovasi. Caranya antara lain, penerapan inovasi, pendokumentasian inovasi, dan penyebarluasan inovasi.
Kelima, pemantauan dan pengendalian. Aktivitasnya berbentuk road show, membuat rapor inovasi, dan mengukur indeks kepuasan masyarakat. Keenam, penilaian dan penghargaan. Bentuknya, memfasilitasi kompetisi inovasi (mulai dari tingkat kabupaten, hingga nasional), mengadakan pameran inovasi, dan memberikan hadiah baik berbentuk materi maupun nonmateri.
Sekotah tahapan tersebut, tidak terlepas dari goal, mendukung tercapainya visi dan misi Kabupaten Bantaeng, 2018-2023, di bawah kendali pemerintahan Ilham Azikin, Bupati Bantaeng.
Jadi, ekosistem inovasi ini tercipta, bukan perkara semudah membalik telapak tangan, lalu membaca mantra sim salabim. Bahkan, sebagai pegiat literasi dan pendamping inovasi, dapat saya pendapatkan pula, ekosistem inovasi ini, sungguh merupakan buah inovasi terakbar selama lima tahun terakhir.
Apa yang dicapai pada 10 Juli 2024, lewat pengumuman Kemen PANRB tentang kompetisi inovasi ajang PKRI, menobatkan Bantaeng Terbaik Nasional 2024, pada (1) Katagori Instansi Pembina Inovasi Terbaik (2) Katagori Keberlanjutan, Inovasi Raja Smile RSUD Anwar Makkatutu (3) Katagori Replikasi, Inovasi Jedar Saskia, PKM Pa’bentengang (4) Katagori Replikasi, Inovasi Saskia Puber, PKM Campagaloe. Upacara pemberian penghargaannya pada tanggal 8 Oktober 2024, bertempat di Hotel Sheraton Gandaria Jakarta.
Pencapaian 4 terbaik tersebut, tidak terlepas dari adanya ekosistem inovasi di Bantaeng. Secara praktis, merupakan godokan dari laboratorium inovasi. Dua laboratorium inovasi bernuansa kesehatan, RSUD Prof. Dr. Anwar Makkatutu Bantaeng lewat “Raihan” dan Dinas kesehatan Bantaeng via “Klik Baik”.
Laboratorium lainnya, “Kelas Baik”, selaku pembina inovasi, berbasis di Bappeda, mengorkestrasi seluruh inovasi di lingkup OPD Bantaeng. Bila diibaratkan tim sepak bola, OPD adalah klub sepak bola dan Bappeda dengan “Kelas Baik”-nya, seperti tim nasional. Tentu di klub ada yang punya akademi sepak bola dan ada yang belum punya. RSUD dan Dinkes adalah contoh klub sepak bola, eh klub inovasi yang punya akademi. Ya, laboratoriumnya itu.
Beberapa waktu lalu, ada lontaran pernyataan pelayanan kesehatan buruk di Bantaeng. Satu perkataan melantang dari mantan penguasa negeri, demi kepentingan ambisi politik. Sebab, disampaikan pada satu hajatan politik, cukup meresahkan insan kesehatan di lingkup RSUD Prof. Dr. Anwar Makkatutu dan Dinas Kesehatan Bantaeng. Padahal, sekotah prestasi inovasi tersebut, merupakan pelayanan kesehatan publik.
Apa pun motif pernyataan buruk itu, prestasi yang dicapai para insan kesehatan di Bantaeng, plus adanya keinginan dari sekaum anak bangsa dari negeri lain untuk belajar ke Bantaeng, cukup diajukan sebagai bukti, buat mendudukkan perkara. Mana buruk dan mana baik. Siapa menebar keburukan dan siapa menuai kebaikan.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply to Kamaruddin, S.Pd.I.,M.Pd. Cancel reply