Hidup tanpa cinta bagai taman tanpa bunga. Hidup hanya berkawan tanpa lawan, bagai tanpa penyedap, hambarlah rasa. Dinamika tak elok, suasana hanya kita merasa baik dan bahkan paling benar. Butuh lawan untuk pengakuan yang jauh lebih jujur.
Kadang kala melepas yang berkenaan cara kita yang sering keliru. Atau terlalu fanatik. Padahal itu adalah pemantik yang akan membawa sebuah petaka. Seperti saat terkibuli oleh kawan, berekspestasi terlalu tinggi, maka bersiaplah kecewa. Begitulah adanya, semua akan terjalani. Begitu setiap masa yang jika tak hati-hati maka akan termangsa.
Cekatan kutarik saja pelatuk lalu menghabisi segala potensi yang akan menjadi benalu. Apakah cara itu jitu dan cukup meredam segala gejala dan gejolak? Tiada yang bisa mengakuimu. Karibku, Mubarak kemudian menyela. Bagaimana perjalanan hidup berkawan. Sambil mengajakku merasakan gairah ombak landai menepi di bibir tanggul. Dengan menyeruput kopi seperti biasa di sebuah kafe, tempat kami selalu bersua. Hingga senja menjarak di balik kumpulan kisah, cerita seharian sekerumun anak manusia, berkelompok, bergerombol lalu terpisah seketika di setapak.
Wasiat karibku itu selalu terngiang, bahwa dalam capaian seorang itu jika mampu menahan segala gejolak kudu bersabar, berusaha meredam pada sifat kita sebagai manusia yang sering berubah dan berulah. Di antara kawanan yang menurutmu jauh lebih tenang. Justru akan lebih tegang. Caramu bersenang-senang, dan terliputi lumut kebersamaan yang mulai jengah dan goyah.
Saya menekuni semua peristiwa cukup kenangan dari cerita saat gerimis dan hujan sore, atau dari kemarau setahun menjadi pula kenangan terindah. Sok puitis! Mubarak menimpali dan memang begitulah cara menghiburku, lebih suka gaya ceplas-ceplos. Dibanding tiupan pujian tetapi menipu.
Mubarak mengingatkan sebuah ungkapan di suatu bincang tentang pergolakan jiwa, individu manusia, tendensi dan tensi yang bereaksi dengan segala kesempatan dan sisi tatkala kau lengah. Sebuah ungkapan cukup menggugat seperti ini. Sambil memperbaiki posisinya. “Lawan yang jujur jauh lebih bermutu dibanding kawan yang suka berbohong dan kabur.” Secepat pula dia mengubah posisinya, berlalu meninggalkan saya yang terdiam lesu, bagai kebodohan yang telah menahun terpelihara.
Firasat yang berbeda atau secara kebetulan, mungkin pula secara alamiah mengajukan gugatan terhadap fenomena yang kian terjadi di antara peran, kebersamaan, kelompok dengan slogan “kawan tak sedarah rasa saudara”, saling memuja-muji selanjutnya di tengah gurun, terpisah saling mencari jalan pintas. Itu juga biasa terjadi. Karena terlalu sikalajjui (kedekatan yang terlalu intens dan berlebihan), potensi pecah sebelangah sikapallakki (saling meluapkan, penuh rasa kecewa) dan membuat semua tercerabut. Mubarak kembali dengan menyanderaku pada satu hal. Saya terhuyung kemudian di sebuah masa.
Semua untaian nan indah, bagai tak terpisahkan oleh waktu. Tetiba menjadi petaka. Setidaknya cukup memberi isyarat yang sudah lama berkarat bagi saya, di mana lawan jauh lebih kita terpusat menganalisa, menelusuri sisi yang tersembunyi dari segela siasatnya. Tetapi terhadap kawan justru kebablasan, terjebak, tersandera dengan sendirinya. Karena segala rasa ingin ditumpah. Tetapi kadang berakhir kata serapah merekah bagai mawar, yang seolah simbol cinta tetapi layu, Dan tersadar mawar itu berduri.
Ada pepatah yang mengatakan, jika lawan itu kawan. Mungkin, pepatah ini terdengar aneh. Namun sesungguhnya, kata-kata itu sangat benar. Setiap dari kita memiliki seseorang yang dianggap saingan. Kita ingin lebih unggul, lebih hebat, dan lebih disukai daripada dirinya.
Kemudian kutemukan satu uraian di sebuah laman, di mana sesungguhnya lawanmu itu bukan musuh bebuyutan! Ini alasan mengapa lawan itu harus dianggap sebagai kawan. Pada sebuah percakapan menarik dianggap sepele dan kita abai selama ini. Pada laman tersebut mengajak saya merunut di antaranya:
Pertama, lawan membantu mengetahui sifat jelekmu. Artinya seseorang yang selalu mencari kesalahan dalam dirimu. Mereka memperhatikanmu begitu detail sehingga bisa menemukan hal-hal jelek yang kita tidak sadari. Bahkan terkadang, dia lebih memperhatikanmu dari pada dirinya sendiri. Mengetahui bahwa ada hal kurang baik dalam diri kita, bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi kalau tidak pernah sadar akan sifat jelek tersebut, kita tidak bakal bisa berubah menjadi lebih baik.
Kedua, ada juga bersikap apa adanya di depanmu sebagai respon terlihat tidak menyukaimu, tapi setidaknya sikapnya tersebut jujur. Ini akan lebih baik dari pada mereka yang terlihat baik di depan, namun menjelek-jelekkan di belakang. Setidaknya, ketika lawan tidak suka sama kamu, dia benar-benar menunjukkan bahwa dia jujur sejujurnya. Dari sini, kamu bisa mengambil sikap apakah mau meladeninya atau menghiraukannya.
Ketiga, lawanmu mengajakmu keluar dari zona nyamanmu bahwa kamu berpikir semua orang baik-baik saja. Dunia terlalu damai dan tidak menantangmu untuk maju. Tentunya, ini menjadi sesuatu yang membosankan. Kalau diibaratkan dengan film, kamu adalah tokoh utama dan lawanmu adalah tokoh antagonis. Kalau tokoh utama tidak punya lawan, film bakal terasa hambar dan membosankan. Karena itu, lawan menjadi kawan yang baik untuk menantangmu keluar dari zona nyaman.
Benar juga uraian sebuah artikel di atas, mengajakku kemudian bertamasya lalu mereduksi, mengevaluasi, bahkan menginterogasi diri sendiri. Sesaat kemudian menyadari bahwa lawan utama kita adalah diri sendiri. Wow.
Nah. Apa yang harus kita lakukan? Kembali saya teringat kisah Cania Citta yang sejak dulu berusaha untuk tidak berlebihan, tidak perlu memiliki banyak teman. Karena Cania tidak mau terlalu menaruh harapan, begitu juga sebaliknya karena setiap harapan butuh tanggapan dan reaksi, dan ketika tak mampu memenuhinya maka semua menjadi kekecewaan yang tidak bisa tertolerir dengan alasan apa pun.
Walau begitu, juga terbantahkan bahwa tergantung cara menyikapinya, kepada pertemanan dan memahami setiap individu. Akan tetapi pilihan manusia berbeda. Katanya banyak teman banyak rezki dan hidup tentram damai. Justru menurut Cania itu menambah beban pula untuk selalu terlihat baik, sempurna, memenuhi segala keinginan, terlihat selalu tersenyum, adem, kalem. Padahal sesungguhnya kita berbohong. Itu sama dengan mengkhianati teman. Emm. Saya termenung sejenak, lalu seakan ingin kisah dan cara Cania yang ini menurut saya bisa sesekali diterapkan.
Tetap mampukah secara psikis, mental dan rasa sentimentil dari lingkungan dan budaya yang memaksakan kadang-kadang untuk mengikuti di masa penuh kompetisi, secara petisi dan amunisi, harus pandai main sulap, bahkan akrobatik, di mana saya pernah saya temui suasana seperti ini? Yah. Unik, tabu dan ganjil serta janggal. Kelak kau bakal tercekal dan ditinggal.
Berdamai dulu dengan diri, jauh lebih penting. Bersikaplah seadanya. Jauh lebih terjaga dari kemungkinan terburuk seperti banyak kejadian. Sewindu saling merindu, hal sepele jadi musibah hanya karena kepentingan, keinginan, yang tidak sesuai misalnya. Atau kejujuran yang telah lebur menjadi bubur.
Kredit gambar: https://brilian-news.id/

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Dion Syaif Saen Cancel reply