Sudahkah tersenyum sahabat holistik? Oh ya, akhir akhir ini saya sangat sering mendapati pasien yang menderita kecemasan. Dari segi usia, mereka sangat beragam. Ada yang sudah tua, dewasa, bahkan ada yang masih remaja.
Begitu pun dari jenis kelamin, baik perempuan maupun laki-laki mengalami kecemasan. Dan, yang sering dicemaskan adalah dirinya sendiri ataupun orang lain.
Ragam kecemasannya pun bervariasi. Ada yang terkait dengan kematian, perjalanan, pasangannya, anaknya, cucunya, sahabatnya, dan juga terkait dengan masa depannya.
Alhamdulillah, atas izin dan kehendak Allah Swt., setelah melalui terapi holistik, kecemasan menjadi masa lalu saja. Hidupnya tidak lagi diliputi dengan kecemasan.
Dari sekian banyak kasus yang saya dapati, ada satu kasus yang betul-betul menguat dalam memoriku. Yaitu, seorang ibu yang mencemaskan tentang kematian dan hari kiamat. Menurutnya, yang paling sering mengganggu, adalah ketika terdengar sirene dari mobil ambulans, maka spontan yang ada pada perasaannya, bahwa dialah yang berada di dalam mobil ambulans tersebut.
Saking fokusnya pada hari kiamat, maka setiap mendengar dan membaca informasi tentang hari kiamat, maka spontan tubuhnya bergetar disertai dengan keringat, sesak napas, dan juga sakit kepala. Masih menurut pengakuannya, kecemasan yang dialami sudah sangat lama, sudah puluhan tahun, dan obat penenang dari psikiater yang menangani sudah tidak lagi manjur untuk menghalau kecemasannya.
Kecemasan juga sering saya dapati pada seorang ibu yang mencemaskan anaknya, karena belum pulang ke rumah. Apalagi kalau anaknya perempuan. Apalagi kalau anak tunggal. Sang ibu tidak akan pernah merasa nyaman sebelum anaknya berada di rumah.
Seorang kepala keluarga pun yang bernama ayah tak luput dari kecemasan. Banyak ayah yang kemudian mencemaskan kehidupan dan masa depan keluarganya, termasuk anak-anaknya. Apatah lagi jika sang ayah akan memasuki masa pensiun. Bagemana dengan Anda?
Juga ada semakin menguat kecemasannya karena divonis oleh dokter, bahwa minum obat seumur hidup, tidak lagi bisa sembuh, tidak ada lagi obatnya dan berpantang makanan dan minuman tertentu selamanya.
Bahkan ada yang sangat cemas ketika dalam keadaan sendiri, berada dalam kegelapan dan mengira akan ada setan/jin yang akan selalu mengganggunya.
Kecemasan, apalagi kecemasan tingkat tinggi, pastilah sangat mengganggu. Sebetulnya, kecemasan muncul akibat dari perasaan cemas yang tidak terkendali dan berkepanjangan. Hampir semua orang pernah merasakan cemas. Perbedaannya, ada orang yang segera bisa mengatasinya, dan ada orang yang larut, hingga menjadi penyakit yang disebut dengan kecemasan.
Sesuatu yang terjadi dengan kondisi yang berulang-ulang, maka ini akan menguat pada pikiran bawah sadar seseorang. Hal ini biasa diistilahkan dengan repetisi ide. Beberapa kalimat yang sering menyertai kecemasan semisal ,”Nanti begini…, nanti begitu…, jangan-jangan…, dan sebagainya.”
Ada beberapa hal yang terkait dengan kecemasan ini. Kita mulai dari penyebab rasa cemas. Perasaan cemas disebabkan oleh, pertama, mengandalkan kekuatan sendiri untuk menyelesaikan sesuatu. Misalnya ada pekerjaan yang menurut kita bisa selesai tanpa bantuan orang lain, dan ternyata sampai pada waktu yang ditentukan belum juga selesai, maka kita mulai merasa cemas.
Kedua, lemah sandaran dalam berikhtiar. Kita sangat sering menggunakan kalimat, “Berusaha dulu, kemudian berdoa.” Kita tidak melibatkan Allah Swt. saat akan memulai sesuatu. Sehingga ketika gagal, maka akan menimbulkan perasaan cemas. Padahal Allah Swt. sebaik-baik penjaga dan penolong atas hamba-hamba-Nya
Ketiga, pikiran negatif. Perasaan cemas bermula dari adanya ketakutan akan sesuatu. Ketakutan tersebut muncul karena dianggap berbahaya. Berbahaya dan tidaknya sesuatu, tergantung sudut pandang yang digunakan. Jikalau negatif, pastilah berbahaya. Begitupun sebaliknya.
Keempat, trauma. Ini terkait dengan masa lalu. Hal tersebut bisa disebabkan karena belum tuntasnya peristiwa yang pernah dialami. Ketakutan itu begitu menguat hingga ada kekhawatiran akan berulang jika menghadapi kondisi yang sama di saat sekarang.
Kelima, pengasuhan (parenting) yang keliru. Berhati-hatilah bagi orang tua, kakek, nenek dan yang lainnya, jika bermaksud mau dituruti dengan cara yang instan, yaitu dengan menakut-nakuti. Misalnya ketika magrib, kemudian meminta kepada anak untuk segera masuk karena nanti ada setan.
Keenam, pengaruh energi negatif jin. Keberadaan jin sangat bisa memengaruhi tingkat kecemasan seseorang.
Ternyata, kecemasan ini tidak berdiri sendiri. Melainkan akan memengaruhi kondisi berikutnya. Beberapa efek dari adanya kecemasan (1) ketidaktenangan/ gelisah bagi yang bersangkutan (2) insomnia, yaitu sebuah kondisi sulit tidur (3) menular pada orang yang dicemaskan (4) merasakan sakit pada tubuh bagian belakang sampai tulang ekor (5) hipertensi (tekanan darah tinggi) (6) asam lambung naik, dan bisa menyebabkan penyakit maag, gerd, sinusitis, dan lainnya (7) mengganggu fungsi ginjal (8) produktifitas akan terganggu, dan (9) ibadah kurang berkualitas.
Mengamati begitu banyaknya efek dari kecemasan, maka hal tersebut tidak bisa dibiarkan, dan sebaiknya segera mengatasinya.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecemasan, pertama, istigfar. Kecemasan adalah hasil dari pikiran negatif tentang sesuatu. Sebelum pikiran negatif semakin menguat, maka segera kendalikan dan blokir dengan beristigfar.
Kedua, berdoa, “Bismillahilladzi la yadurru ma asmihi syaiun fil ardhi wa la fis samai wa huwas samiul ‘alim”. Artinya, “Yang dengan namanya, tidak ada yang berbahaya di bumi maupun di langit, karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Ketiga, merasa yakin/percaya diri, bahwa manusia adalah sebaik-baik makhluk. Jadi, tidak perlu takut dengan makhluk lain, termasuk jin.
Keempat, pemetaan kondisi. Pemetaan kondisi sebaiknya dilakukan, agar apa yang dicemaskan, ditakutkan dan dianggap berbahaya bisa dicarikan solusinya.
Kelima, membaca zikir, bismikallahumma. Ini bermanfaat untuk menghalau energi negatif jin.
Keenam, berserah diri pada Allah Swt. Bahwa sebaik-baik penolong , pemberi perlindungan dan pertolongan adalah Allah Swt.
Ketujuh, tersenyum. Salah satu manfaat tersenyum, mampu menggeser suasana hati, termasuk kecemasan.
Sebagai penutup tulisan ini, saya mau berbagi hasil penelitian dari seorang dokter, Prof. DR. Dr. Hiromi Shinya, ahli saluran cerna dan hati, yang kemudian dalam perjalanan hidupnya beralih ke sistem pengobatan holistik.
Dokter Hiromi, seorang berkebangsaan Jepang dan sangat konseren dengan perkembangan teknologi endoskopi. Menurutnya, obat penenang yang diberikan oleh dokter jiwa (psikiater) tidak akan pernah memberikan ketenangan dan kesembuhan pada pasien. Mengapa? Karena obat penenang tersebut mengandung toksin/racun yang justru membuat usus pasien menjadi semakin kotor.
Kotornya usus memengaruhi ketenangan seseorang. Semakin kotor ususnya, maka akan semakin gelisahlah yang bersangkutan. Begitu pun sebaliknya. Karena itu, dibutuhkan proses detoksifikasi untuk mengeluarkan racun dari usus. Detoksifikasi ini melengkapi cara mengatasi kecemasan di atas.
Kredit gambar: RRI.co.id

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply