Bolehkah Orangtua Membuka Gadget Anak?

Sebagai orangtua yang hidup pada zaman yang serba canggih, tapi kadang mencemaskan ini, menjadi lumrah jika menyimpan kekhawatiran tertentu terhadap perkembangan dan pergaulan anak-anak sekarang.

Bagaimana tidak, jika setiap langkah kita saat ini, selalu dibayangi dan dikelilingi oleh ribuan godaan yang bisa muncul dari mana saja. Khususnya, godaan-godaan yang bersumber dari internet.

Internet lewat media-media sosial yang ditawarkannya, seringkali disebut sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi ia bermanfaat, pada sisi yang lainnya, ia dapat menjerumuskan.

Ia menjadi bermanfaat, jika digunakan untuk membantu mencari informasi-informasi yang dibutuhkan oleh seseorang, misalnya siswa yang ditugasi oleh guru, untuk mencari tahu tentang tradisi unik dari suatu suku bangsa, atau para ibu yang ingin mencoba resep-resep masakan baru, biasanya akan meminta bantuan ke mbah Google. Intinya, apa pun soalnya, semua akan ada jawabannya di internet.

Demikian pula sebaliknya. Ia berubah menjadi monster yang jahat dan menakutkan, manakala seseorang salah menempatkan penggunaannya. Misalnya beberapa kasus remaja yang mengunggah video mesumnya ke medsos (media sosial).

Atau anak kecil bau kencur yang penasaran dengan tampilan-tampilan gambar atau video tertentu. Sedikit saja mengarahkan kursor dan mengklik tulisan tersebut, maka dengan cepat akan muncul gambar-gambar atau adegan-adegan yang tidak pantas untuk dilihat oleh publik, terlebih oleh anak-anak yang masih di bawah umur.

Tanpa perlu bersusah payah keluar rumah atau bahkan meninggalkan kamar, seorang anak sudah dapat menikmati berbagai kemewahan dunia di balik layar. Jika ajaran agama masih dapat memagari mereka dari hal-hal yang tidak patut ditonton, maka orangtua boleh bernapas lega.

Akan tetapi bagaimana jika pagar-pagar pembatas tersebut telah roboh, tentu kemudian akan bermunculan insiden-insiden kekerasan, ataupun tindakan-tindakan asusila lainnya.

Orangtua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, terhadap masa depan anak-anaknya, tentu tidak akan tinggal diam. Timbullah kemudian berbagai usaha antisipatif yang bertujuan, agar anak-anak ini tidak semakin salah jalan atau menyimpang jauh dari koridor kebenaran. Salah satunya adalah dengan memantau gadget anak.

Siapa sih sekarang yang tidak memiliki gadget? Mulai TK saja anak-anak sudah banyak yang punya. Meski mungkin fungsinya hanya untuk bermain game, bermedsos, atau teleponan. Dan untuk anak usia remaja tentu, fungsinya jauh lebih kompleks lagi dari sekadar game, bermedsos, dan telepon saja.

Persoalannya apakah masalah akan selesai dengan orangtua memata-matai anak dengan cara diam-diam membuka Hp-nya atau mencari tahu password, untuk bisa masuk ke wall anak? Mungkin tanggapan atas pertanyaan ini akan beragam.

Pastinya, ada 2 akibat dari tindakan seperti ini. Pertama, anak akan merasa dikhianati. Orangtua yang dipercayainya selama ini, ternyata telah melanggar kepercayaannya. Masuk ke wilayah privacy anak tanpa izin adalah sebuah pelanggaran. Untuk selanjutnya anak akan sulit percaya pada orangtua.

Kedua, perasaan anak akan terluka. Boleh jadi tindakan anak akan semakin jauh menyimpang dikarenakan anak akan berpikir: saya berbuat yang baik-baik, orangtua tidak percaya. Sekalian saja saya melakukan penyimpangan. Toh hasilnya sama saja. Sama-sama tidak dipercayai.

Untuk memulihkan kondisi-kondisi terluka di atas, orangtua perlu meminta maaf  karena telah bertindak gegabah. Jangan ragu meminta maaf. Orangtua juga manusia yang bisa saja salah.

Kepercayaan yang telah berhasil direbut dari anak, hendaknya menjadi pegangan buat orangtua, agar tidak lagi mengulangi hal yang sama di kemudian hari.

Kredit gambar: https://jeo.kompas.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *