Hidup Penuh Gorengan: Manusia dan Ruang Pencerahan

Era digital, manusia tidak hanya menggoreng makanan lalu menikmatinya. Informasi, isu, dan/atau berita pun digoreng dan tidak sedikit yang ikut menikmatinya. Bahkan, bisa disimpulkan hidup hari ini penuh dengan gorengan, baik yang berbentuk makanan maupun informasi.

Mencermati grup-grup WhatsApp, di mana diri kita bergabung di dalamnya, saya yakin dari sekian banyak grup yang ada tidak kurang dari 90% hanya menjadi ramai ketika sedang ada informasi, isu dan/atau berita yang sedang digoreng. Terutama yang bernuansa politis, dan minimal yang bersentuhan dengan perebutan “kekuasaan” atau pencapaian kepentingan-kepentingan tertentu.

Ada orang menjadi kaya atau sukses karena usahanya dalam bisnis makanan gorengan. Tidak sedikit pula, oknum tertentu menjadi kaya atau minimal berpenghasilan banyak setiap bulannnya karena kerjanya “menggoreng” informasi, isu dan/atau berita. Konon para buzzer, yang salah satu kerjanya adalah menggoreng informasi, penghasilannya tidak sedikit/kecil. Penghasilannya besar.

Aktivitas “goreng-menggoreng” informasi, isu, dan/atau berita menemukan ruang relevansinya di tengah perkembangan revolusi teknologi digital, maraknya penggunaan aplikasi media sosial-baru, dan pergeseran kehidupan manusia dari ekspansif ke inersia. Kehidupan inersia dalam bahasa agama bisa dimaknai malas tabayyun.

Sebagaimana makanan gorengan, gorengan informasi pun sebenarnya tidak selamanya memberikan dampak buruk atau negatif, ada pula yang memberikan dampak positif, terutama bagi orang tertentu. Hanya saja, belakangan ini, banyak gorengan informasi atau berita yang lebih terasa dampak buruk atau negatifnya.

Apa yang dikenal dengan hoax, fake news sampai dengan lahirnya satu kondisi kehidupan yang dikenal dengan sebutan post truth, pada dasarnya di dalamnya diawali dengan aktivitas yang bisa dimaknai “goreng-menggoreng” informasi. Hal ini pun diperparah dengan kondisi kehidupan manusia baik secara individual atau personal maupun secara kolektif di tingkatan kehidupan masyarakat.

Secara individual, rendahnya literasi tanpa kecuali literasi digital berdampak negatif terhadap lahirnya kondisi kehidupan yang disebutkan di atas. Secara kolektif pun, jika memahami pandangan Yasraf Amir Piliang yang terinspirasi dari Baudrillard, “Perkembangan nilai dalam kehidupan masyarakat hari ini telah sampai pada tahap keempat yang disebut fraktal atau viral”.

Tahap keempat, fraktal atau viral menegaskan satu kondisi kehidupan yang bisa dimaknai bahwa hari ini yang dipandang sebagai suatu kebenaran adalah sesuatu yang viral. Selain itu, hal ini pun menegaskan satu kondisi kehidupan di mana orang-orang kehilangan titik referensi, dalam makna—menurut saya—kehilangan sumber informasi yang otoritatif.

Saya selalu teringat dengan tulisan Bernando J. Sujibto dalam buku Muslim Milenial: Catatan & Kisah Wow Muslim Zaman Now (2018). Ada beberapa poin yang bisa saya parafrasekan atau direinterpretasi. Di wilayah virtual, gorengan informasi mengalahkan kesadaran kritis.

Bernando menegaskan, “Gerakan sosial virtual didominasi pengelolaan isu yang lebih memanfaatkan emosi dan opini daripada kesadaran faktual yang berpijak pada ilmu pengetahuan”. Ada pula kecenderungan untuk tidak menghiraukan legitimasi, grand narration, kebenaran, atau fakta-fakta empiris dalam memainkan resistensi dan chaos.

Informasi negatif yang terus diproduksi, direproduksi, dan/atau digoreng tentunya itu sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan yang lebih baik pada masa yang akan datang. Akan senantiasa memberikan dampak buruk yang berkelanjutan.

Informasi, terutama informasi negatif jika kita memahami cara pandang dan/atau aksioma sikap John C. Maxwell, itu cepat menular dan diterima atau menjangkiti orang lain. Informasi pun secara umum jika memahami mekanisme meme dalam memetika sebagaimana yang pernah diulas dengan baik oleh Eko Wijayanto, tentunya itu bisa menular, dan bahkan mereplikasi dirinya.

Serupa dengan yang pernah dijelaskan oleh Budi Setiawan Muhammad—meskipun yang ditegaskan adalah efek dari suatu “kata”—tentunya informasi yang digoreng pun berpotensi bukan hanya sekadar menjelaskan suatu realitas tetapi membentuk realitas itu sendiri. Apatah lagi digoreng di media sosial berbasis digital hari ini—sebagaimana sifat media sosial—bukan hanya merepresentasikan kondisi suatu realitas tertentu tetapi akan menjadi realitas itu sendiri, selanjutnya akan kembali direpresentasikan dalam kehidupan sosial empirik.

Apa yang saya ungkapkan di atas, sebagian bisa dipandang bahwa faktor eksternallah yang menjadi ruang subur lahirnya dampak buruk dari suatu informasi, isu dan/atau berita yang digoreng. Namun, secara internal ada pula potensi di dalam diri manusia yang bisa menjadi faktor untuk menyuburkan dampak buruk dari informasi, isu dan/atau berita yang terus digoreng.

Faktor internal yang dimaksud, bahwa dalam diri manusia pun—bukan hanya di teknologi digital—apa yang dimaknai proses algoritma, itu pun terjadi. Jika di teknologi digital ada istilah big data, maka dalam diri manusia pun tentunya hal itu ada.

Jadi ketika big data manusia atau  orang tertentu lebih didominasi oleh informasi, isu, dan/atau berita negatif hasil gorengan, karena yang bersangkutan sering menikmatinya maka mekanisme otak dan alam bawah sadarnya merekam dan menjadi kesatuan sebagai big data dalam diri. Selanjutnya hal ini memengaruhi proses algoritmik dalam dirinya.

Hal di atas, bisa pula dimaknai, bahwa dominasi yang bersifat negatif dalam big data dan proses algoritmik dalam diri manusia tersebut, akan memengaruhi nalar seseorang. Secara sederhana dipahami bahwa nalarlah yang memengaruhi dan/atau menentukan doing (tindakan), relating (relasi), meaning (pemaknaan), thinking (pikiran), dan being (proses menjadi) seseorang.

Pandangan Al-Ghazali pun, sebagaimana yang pernah dikutip oleh Fahruddin, bahwa apa pun yang dibiasakan, itu akan membentuk karakter. Jadi informasi apa yang sering dinikmati, itu akan memengaruhi karakter kita.

Dari awal, judul tulisan ini, saya terinspirasi dari buku karya Fahruddin Faiz, Menghilang, Menemukan Diri Sejati (2022). Dalam kondisi kehidupan yang identik dengan gorengan informasi tersebut, ada hal menarik, penting dan strategis yang bisa digunakan dari pandangan Fahruddin dalam bukunya tersebut.

Fahruddin menegaskan, “Hari-hari ini kita perlu membersihkan banyak hal yang tidak penting dalam pikiran kita. Isi kepala kita kotor luar biasa. Apa saja masuk. Sumbernya banyak, dari mana saja”. Menurutnya, untuk membersihkannya perlu mempelajari kembali konsep filsafat rasionalis Rene Descartes.

Sekilas saja kita memahaminya, kita akan bersepakat dengan Fahruddin. Alasannya, secara umum filsafat mengajarkan kemampuan berpikir secara mendalam dalam memahami realitas, dan tentunya termasuk informasi dan/atau pengetahuan yang ada. Sedangkan, gorengan informasi yang diulas di atas, yang terkesan mengandung banyak dampak negatif, mengalami reproduksi dan/atau digoreng terus menerus dan tidak sedikit penikmatnya, karena kita larut dalam “kedangkalan” memahami suatu realitas, informasi dan/atau pengetahuan yang ada.

Satu rumus filsafat dari Descartes yang diungkap oleh Fahruddin adalah “Dubium sapientiae initium (doubt is the origin of wisdom)”. Maksudnya “Meragukan adalah sumber kebijaksanaan.” Fahruddin, menegaskan “Ragukanlah dan pertanyakanlah apa pun.”

Saya memperhatikan dan memahami, bahwa terjadinya aktivitas produksi dan reproduksi gorengan informasi yang memberikan dampak buruk, dan banyaknya penikmat terhadapnya, itu disebabkan salah satunya karena rumus filsafat di atas tidak lagi atau minimal “jarang lagi” menjadi bagian dari diri manusia.

Padahal, ketika kita meragukan dan mempertanyakan apa pun informasi, isu dan/atau berita yang ada, maka dengan sendirinya, kita tidak akan menerima secara mentah, namun akan diawali dengan aktivitas berpikir, keterlibatan akal, dan akan cenderung menelesuri sumber yang otoritatif.  

Atas dasar di atas, maka kita yang memiliki pemahaman, dan kesadaran termasuk dalam hal tanggung jawab sosial yang harus diperankan harus senantiasa membuat ruang-ruang pencerahan, sesederahana apa pun itu. Dan apa pun bentuknya, termasuk dalam bentuk tulisan-tulisan sederhana yang mencerahkan.

Penegasan ini, bukan tanpa alasan. Sesungguhnya, sekilas telah terungkap di atas, bahwa dalam diri manusia pun terjadi proses algoritmik yang selanjutnya akan memengaruhi nalar. Sedangkan Fahruddin menegaskan setelah mendapatkan banyak pandangan inspiratif dari Descartes, “Jika nalar kita benar, akan kita bisa memandu untuk menemukan kebaikan.”

Hanya saja, lanjut dijelaskan oleh Fahruddin, agar akal bisa menemukan kebenaran dan kebaikan membutuhkan bahan berupa pengetahuan.

Meskipun di atas, saya terkesan hanya mengungkapkan pentingnya akal, namun dalam buku Fahruddin tersebut—dan itu juga sangat penting untuk menghadapi kondisi kehidupan yang di mana informasi, isu dan/atau berita terus digoreng—ditegaskan pula pentingnya “intuisi”. Terkait intuisi, dalam bukunya tersebut, Fahruddin banyak mengulas atau terinspirasi dari Henri Bergson.

Akal, tetap harus diimbangi dengan fungsi intuisi. Akal secara fungsional lebih cenderung ke hal-hal yang bersifat material, praktis dan teknis. Sedangkan intuisi, tanpa kecuali dalam memproduksi informasi, isu, dan/atau berita mampu memantik lahirnya kepekaan awal untuk merasakan sinyal, seperti apa dampak yang akan ditimbulkan. Bahkan intuisi pun bisa dimaknai memiliki basis spiritualitas dan/atau suara hati, sehinggal kalkulasi dampaknya akan lebih mendalam sebelum memproduksi suatu informasi atau sejenisnya.

Di akhir tulisan ini, ada hal menarik dari Eleanor Roosevelt agar kita tidak “termakan” informasi, isu dan/atau berita yang terus digoreng, begitu pun sebaliknya agar diri kita tidak ikut aktif dalam “goreng-menggoreng” informasi. Roosevelt menegaskan “Orang hebat berbicara mengenai ide-ide, orang biasa tentang kejadian sekitar, dan orang kecil berbicara tentang orang lain.”

Kredit gambar: RMOL.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *