Istilah karamah sering kita dengar, kala menceritakan keistimewaan seseorang yang dianggap memiliki kemuliaan, berupa sesuatu di luar logika manusia. Kemulian yang Allah berikan itu, biasanya berupa kemampuan diri dan pengetahuan yang melampaui dari manusia umumnya.
Sejarah mencatat, Allah Swt. memberikan karamah kepada para wali-wali Allah, seperti karamah Sunan Gunung Jati, menguasai 99 bahasa lokal nusantara, juga memiliki kemampuan ilmu kedokteran di mana ia dapat melakukan operasi tanpa bedah. Hal itu diperkuat saat mengobati sang istri yang menderita tumor.
Sekali waktu, saya berziarah ke makam salah seorang ulama kharismastik pada zamannya, di kawasan Cikini, Jakarta pusat. Seperti biasanya, setelah melakukan ritual ziarah, para pegunjung segera meninggalkan tempat makam.
Sebelum meninggalkan makam, saya terlibat ngobrol santai dengan seorang penjaja makanan yang sehari-hari berjualan di kawasan makam. Di sela-sela aktivitasnya melayani para pembeli, sejumput cerita ia kemukakan tentang karamah sang ulama yang sering dirasakan oleh para peziarah.
Penziarah yang datang dari berbagai daerah itu, menyakini sang ulama diberikan kemuliaan oleh Allah Swt. berupa ilmu agama, maupun kelebihannya lainnya. Sekian banyak penziarah yang datang, pun memliki tujuan masing-masing.
Menurut pendakuan dari penjaja makanan, tujuan para penziarah datang sekadar berharap keberkahan dari keramah yang dimiliki sang ulama. Dari karamah sang ulama itu, mereka memperoleh yang diinginkan, seperti kesembuhan dari penyakit, menemukan jodoh, dan berbagai urusannya lainnya.
Tak ayal, sebagian orang memandang aktivitas tersebut, dianggap bidah atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan Nabi atau sahabat Nabi sebelumnya. Terlepas dari itu, setiap orang mempunyai pandangannya masing-masing.
Namun, pengalaman yang dirasakan setiap berkunjung ke makan sang kiai, menepis semua anggapan miring terhadap peziarah. Mereka sendiri merasakan manfaat dari karamah sang kiai.
Karamah sang kiai tidak hanya dirasakan oleh peziarah yang berkunjung, para pedagang dan penjaja makanan di sekitar makam, ikut merasakan langsung keberkahan sang kiai. Selain berjualan, mereka sering pula memberi informasi tentang karamah sang kiyai.
Makam sang kiai yang dikelilingi gedung apartemen itu, tidak mengurangi nilai magisnya, bahkan pihak pengembang apartemen memberi lahannya untuk pembangunan makam.
Dalam cacatan sejarah, dialah Sayyid Abdurahman Bin Abdullah Al Habsyi, orang lebih mengenalnya Habib Cikini. Semasa hidup, selain ulama, beliau juga panglima perang yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hanya saja dalam literatur sejarah nama beliau jarang dikenang.
Dalam kehidupan sosial dan keagamaan, beliau sosok yang mempunyai akhlak mulia, ramah dan sering mendamaikan orang yang bertikai. Habib Cikini juga sering menyiarkan Islam mulai dari pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Diketahui pula, sang habib menikahi adik dari Raden Saleh, seorang pelukis legendaris zaman Hindia Belanda. Hingga wafat pada tahun 1879. Adapun saat ini, makam Habib Cikini menjadi salah satu cagar budaya religi oleh pemerintah DKI Jakarta.
Khalayak luas mulai mengenal Kiyai Cikini manakala karamah sang kiai terkuak 14 tahun silam. Sebelumnya, makam beliau terlihat biasa-biasa saja, layaknya makam pada umumnya, tak banyak orang tahu, kecuali kerabat dekatnya. Dulu, semasa hidup, orang mengenalnya, sosok yang tak ingin menonjolkan diri, hingga wafat pun tak banyak orang mengetahui makamnya.
Tepatnya tahun 2010, kala itu pihak pengembang apartemen berencana memperluas area gedungnya, sehingga, imbasnya akan mengusur area makam sang kiai.
Para pengembang itu, sudah menyiapkan alat berat untuk memindahkan makam sang kiai. Kala harinya tiba, saat alat berat dikerahkan memindahkan makam, entah sebab apa, alat berat itu justru mengalami kerusakan parah.
Tak mau menyerah, keesokan harinya, alat berat yang lebih besar sengaja didatangkan, dengan harapan, makam sang kiai segara lenyap. Namun, apa yang terjadi luar prediksi semua orang, sedikit pun makam sang kiai tak bergeser.
Semesta seakan menolak. Makam tersebut justru menyemburkan air deras dari bawah liang kubur. Sejenak, niat memindahkam makan sang kiai pun diurungkan. Bersamaan dengan itu, warga sekitar makam, datang berduyun-duyun menyaksikan kejadian aneh itu. Atas kejadian itulah, orang-orang mulai mengenal karamah sang kiai.
Melihat tanda-tanda alam, atas peristiwa aneh yang terjadi, warga kampung dan kerabat kiai meminta, agar proses pemindahan makan dihentikan. Proses negosisiasi terjadi antar warga dan pihak pengembang.
Akhirnya, berdasarkan desakan warga dan dampak yang terjadi, pihak pengembang rela menghentikan aktivitas pemindahan makam. Tidak hanya itu, selain mengembalikan area makam, bahkan, pihak pengembang merevitalisasi area makam, sehingga terlihat lebih elegan hingga saat ini.
Sejak peritiwa 14 tahun silam, banyak orang menyakini, air yang keluar dari makam sang kiai merupakan karamah yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Hal itu dibenarkan oleh para peziarah akan kemujaraban air tersebut.
Saat ini, jika peziarah berkunjung ke makam sang kiai, pihak pengelolah makam telah menyiapkan kran-kran air, agar pengunjung lebih mudah mendapatkan air tersebut.
Para peziarah, terlihat sering membawa botol kosong, dan mengisinya dengan air karamah saat mereka pulang , berharap air itu membawa manfaat, khususnya akan menyembuhkan penyakit.
Karamah atau keistimewaan yang dimiliki seseorang, merupakan karunia yang berikan Allah Swt. kepada setiap makhluk. Siapa pun dikehendaki-Nya akan memperoleh karunia. Karamah yang merupakan karunia-Nya, tidak identik dengan seorang kiai saja. Siapa saja akan memperolehnya jika Allah berkendak.
Keyakinan akan karamah, banyak kita temukan dalam kehidupan sosial, khususnya masyarakat tradisional, meskipun sebagian orang pun tidak meyakininya. Apa pun perbedaan itu, kembali pada pandangan masing-masing.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply