“Berkeluh kesah kala bekerja, sebentuk alamat nyata, cinta belum menjadi selimut pekerjaan.” (Sulhan Yusuf, Maksim Daeng Litere)
Menjadi seorang pekerja sosial memberi pengalaman tersendiri. Menghadapi banyak orang, beserta segala kelebihan dan kekurangan.
Bekerja dalam tim berlatar karakter berbeda-beda, bertugas di berbagai tempat dengan segala potensi dan kearifan lokalnya, bekerjasama dengan berbagai pihak dengan segala dinamikanya, memenej diri, bekerja di bawah tekanan, menahan rasa rindu terhadap orang-orang terkasih. Dan, berbagai kisah-kisah lainnya. Semuanya menjadi pengalaman berharga.
Perkara bekerja bukan tentang besar dan kecilnya gaji, atau tentang hidup dan matinya kehidupan. Namun, bekerja serupa prestise, guna mengaktualkan potensi diri, serta tidak menjadi beban orang lain. Tentu, dinamika dalam sebuah pekerjaan, lazim kita alami. Ada kalanya, perasaan bahagia menjalaninya, tidak jarang pula, kegabutan datang menghidu diri.
Setiap person mempunyai penilaian terhadap sebuah pekerjaan, dengan sendirinya, hal itu membentuk pandangan dunianya terhadap suatu pekerjaan. Bisa dipastikan, semua pekerjaan berlapik cinta, akan membuat jiwa bahagia. Berkat cinta pula, suatu pekerjaan menjadi bermakna adanya.
Seringkali, rutinitas membuat kita menjadi bosan, letih, galau, dan sebagainya. Sesungguhnya, sumber kebosanan itu terbentuk dari alam pikiran . Menurut para psikolog, sebuah perasaan bersumber dari pikiran. Rutinitas akan bernilai, apabila kita mampu menggali makna di balik rutinitas pekerjaan. Makna inilah yang menjadi pandangan dunia dalam melakoni pekerjaan.
Salah satu makna paling agung, bekerja untuk melayani. Makna melayani dapat dipadankan dengan berkhidmat. Tentu, maksud berkhidmat di sini tidak lain untuk kebaikan.
Laku berkhidmat bukan saja menjadi ajaran pokok agama-agama, bahkan, dipercaya merupakan kunci kesuksesan melakukan pekerjaaan apa pun dan di mana pun. Sulhan Yusuf, sampai-sampai menuliskan minda dalam bukunya, Maksin Daeng Litere, “Tirakat terbaik adalah berkhidmat. Kapan dan di mana saja.”
Menjalani rutinas tanpa makna akan mengalami semacam alienasi. Bukankah sebuah makna tergantung dari kesadaran seseorang, semakin tinggi kesadaran orang, makin banyak makna terserap dalam dirinya.
Meskipun rutinitas dilakukan setiap hari, akan semakin banyak pula makna yang didapat setiap harinya, sekecil apa pun sesuatu atau peristiwa yang kita alami, pasti tersimpan makna di dalamnya.
Suatu makna membawa manfaat baik bagi seseorang, apabila berlapik cinta, kebaikan dan kebenaran, apalagi jika pekerjaan tersebut dilakukan bersama-sama (team work).
Dalam pergumulan, sering kita bekerja dalam tim, salah satu tujuannya, agar lebih cepat mendapatkan hasil yang diinginkan, tapi tak jarang pula kendala merintanginya, sehingga berujung kegagalan.
Manusia dengan latar belakang berbeda dan berbagai keunikannya, tidak serta merta dapat bekerja sama dalam tim, diperlukan resonsasi yang sama, baik ide, tujuan, dan berbagi syarat lainya.
Menurut Arvan Pradiansyah, seorang motivator nasional, dalam sebuah acara webinar, mengatakan, keberhasilan team work ditentukan oleh nilai primer pekerjaan itu sendiri. Nilai itu tidak lain adalah kebenaran dan kebaikan, sedangkan nilai sekundernya berupa keberhasilan atau kegagalan.
Seorang teman pernah mengatakan kepada saya, bila kau ingin mengetahui karakter dasar manusia, lihatlah saat bekerja sama dengannya. Mungkin, pengetahuan teman saya itu berasal dari pengalamannya sebagai pelayan masyarakat.
Bekerja apa saja dan di mana saja berlapik maknawi, menunjukan wujud syukur kita kepada Tuhan. Potensi yang berikan Tuhan seyogianya mampu kita eksplorasi semaksimal mungkin. Menerima potensi yang diberikan Tuhan, lalu mengaktualkannya, menunjukan eksistensi manusia sesungguhnya.
Wujud eksistensi manusia mengantarkan pada sebuah peradaban, hal ini menjadi salah satu alasan mengapa manusia mau bekerja.
Bekerja di kalangan suku Bugis-Makassar sudah dianggap sebagai jati diri. Laki-laki Bugis–Makassar mempunyai rasa malu apabila hidupnya mesti berpangku tangan, apalagi hidup dari belas kasih orang lain.
Laki-laki Bugis–Makassar rela meninggalkan rumahnya, jauh hingga ke pelosok negeri, hanya untuk membuktikan eksistensi dirinya, sebagai laki-laki pantang menyerah. Maka tak heran banyak ditemukan suku Bugis-Makassar, tersebar di seantero negeri, bahkan beranak pinak di negeri orang.
Kelihaian laki-laki Bugis–Makassar dalam membuktikan eksistensinya, tidak lepas dari pandangan dunianya, ketika memaknai kehidupan. Leluhur Bugis–Makassar mempunyai ajaran purba, manakala seseorang berada jauh dari kampungnya. Ajaran atau prinsip itu kemudian memberikan makna dalam perjalanan hidup.
Prinsip itu dikenal dengan istilah Tallu Cappa. Cappa lila, cappa laso, dan cappa badik. Cappa Lila atau ujung lidah maknanya, keahlian bersosialisasi secara verbal kepada masyarakat sekitar, sehingga terjalin kerjasama saling menguntungkan.
Sedangkan Cappa Laso atau ujung kelamin, manakala seseorang melakukan pernikahan dengan warga setempat. Biasanya laki-laki Bugis-Makassar mempersunting gadis dari anak atau keluaraga dari seseorang yang dianggap tetua dan dihormati di suatu wilayah.
Adapun Cappa Badik, menunjukkan kehormatan laki laki Bugis-Makassar, manakala harus menjaga harga diri dan martabatnya, dengan cara bertarung menggunakan badik, hingga meneteskan darah sekalipun.
Salah satu landasan etik dalam sebuah pekerjaan yakni rasa malu dan takut. Minda tersebut dibeberkan Yudi Latief, seorang pemikir kontemporer dalam sebuah acara webinar. Beliau mengatakan, rasa malu dan takut merupakan nilai etik manusia yang terbentuk secara alami dari diri manusia. Nilai tersebut tidak didapat melalui pengetahuan di luar manusia, misalnya lewat hukum atau aturan formal negara, melainkan karunia yang diberikan oleh Tuhan.
Lebih lanjut beliau mengatakan, biasanya untuk mendapatkan pengetahuan tersebut manusia mesti melatih diri melakukan riyadah. Rasa malu dan takut yang dimiliki seseorang menjadi benteng penyeimbang dalam dirinya, agar tidak berbuat semena-mena, yang akan merusak dirinya dan orang lain.
Laku manusia dalam memaknai setiap pekerjaan, tak pelak menunjukan beragam pandangan dunia. Hal ini sangat dipengaruhi sejauhmana dirinya hidup dan berkembang selaku mahluk sosial di lingkungannya, dan sejauhmana seseorang mengenal dirinya sendiri, sebagai makhluk yang beri potensi berpikir dan bertindak sesuai dengan cita-cita luhur manusia.
Walhasil, bekerja apa pun dan di mana pun, tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup, melainkan sebentuk jalan menghargai diri sendiri, sebagai makhluk yang diberi nikmat dan karunia oleh Sang Pencipta.
Kredit gambar: Bored Panda

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply to Idha Massiri Cancel reply