Tiada Maaf Bagimu

Suatu ketika, saya kedatangan seorang pasien. Seorang lelaki yang sudah berumur sekitar 60-an tahun lebih, sebab yang bersangkutan sudah lama pensiun dari sebuah instansi pemerintah. Saya memanggilnya dengan panggilan Pak Fulan, tentu saja bukan nama sebenarnya.

Pak Fulan datang dengan keluhan penyakit pada kulit. Sering gatal, seperti ada bisul bisul kecil, terasa tertusuk tusuk, kulit melepuh, terkelupas, memerah disertai sensasi panas membara. Saking panasnya, tidur di ruangan ber-AC sekalipun, tidak membuatnya merasa lebih sejuk. Menurut pengakuannya, sudah sangat lama tidak pernah mendapatkan tidur berkualitas. Tidur pulas menjadi sesuatu yang sangat dirindukan kehadirannya.

Saat mengunjungi tempatku pun, yang bersangkutan harus membuka bajunya, sebab tidak tahan dengan rasa panas pada badannya, padahal kipas angin sudah langsung mengarah pada tubuhnya. Tidak hanya merasa panas, tetapi sangat gelisah dan tidak fokus, sebab harus selalu menggaruk badannya yang gatal. Bahkan tampak adanya bekas garukan sebelumnya.

Masih menurut pengakuannya, Pak Fulan sudah berkeliling baik di Makassar maupun di luar Makassar. Begitu pun model penanganannya,  juga sudah beragam. Mulai dari medis, nonmedis , alternatif, hingga orang pintar. Bahkan ada banyak tempat yang baru didatanginya, hanya untuk keperluan berobat.

Hasil dari pengobatan tersebut beragam. Ada yang hilang gejalanya untuk beberapa waktu, ada yang membaik sesaat, dan ada juga yang tidak memberikan  efek sama sekali. Intinya, harapan belum sesuai dengan kenyataan.

Pada pertemuan-pertemuan awal terapi, saya lebih banyak mendengar keluh kesahnya. Dan diantara keluh kesahnya yang membuat saya kaget adalah keyakinannya, bahwa sakit yang diderita adalah nonmedis dan lebih spesifik lagi adalah kategori guna-guna. Kekagetanku semakin memuncak, ketika Pak Fulan menyebut bahwa guna-guna tersebut berasal dari mertuanya, lebih tepatnya lagi adalah mertua perempuan, ibu dari istrinya . 

Keyakinannya bukan tanpa alasan , sebab banyak indikatornya, termasuk informasi saat diobati. Bahkan pernah diobati dan Pak Fulan kesurupan, kemudian saat kesurupan itulah , ia berbicara dan mengatasnamakan mertua perempuannya. Menurut pengakuannya saat kesurupan, bahwa Pak Fulan sudah berulangkali diguna-gunai oleh sang mertua.

Sakit gatalnya adalah serangan guna guna untuk kesekian kalinya. Sebelum gatal, juga pernah beberapa kali sakit dan dihubungkan dengan guna-guna. Begitu menguatnya keyakinan, bahwa sakit yang diderita adalah guna-guna dari mertuanya, maka Pak Fulan pun bersumpah tidak akan memaafkan mertuanya. “Tak ada kata maaf untuk mertuanya,” begitu kesimpulannya.

Lalu apa yang saya sampaikan sebagai terapis? Saya memulainya dengan pemetaan, bahwa sakit nonmedis itu tidak harus berhubungan dengan guna-guna, melainkan bisa jadi karena ikutan penyakit,  atau memang jin sebagai sumber utama penyakit.

Saya pun menyampaikan,  bahwa sakit yang diderita memang ada nonmedisnya, tetapi pada kategori ikutan penyakit. Maksudnya? Penyakit sudah ada sebelumnya, tetapi jin ikutan untuk membuat penyakit semakin serius. Sehingga nonmedis hanyalah faktor pendukung dari penyakit sebelumnya, yaitu gatal-gatal dengan berbagai gejala penyertanya.

Sesuai dengan metode causal teraphy, bahwa harus dicari akar penyebab penyakitnya, maka saya pun menelusurinya. Alhamdulillah,  atas izin dan kehendak Allah Swt., penelusuranku mengungkap, bahwa gatal gatal yang diderita, adalah akibat kebencian dan dendam yang sangat dalam, hingga tidak mau memaafkan mertuanya.

Itulah sesungguhnya yang membuat gatal-gatal yang diderita tak pernah bisa tersembuhkan, sebab selama ini hanya mengobati gejala yang dirasakan dan bukan pada akarnya. Masih ingat, bahwa 90% penyakit disebabkan oleh psikis, bukan?

Singkat cerita, saya kemudian mensupport untuk membenahi psikisnya, meminta agar Pak Fulan bisa memaafkan mertuanya. Itu pun jika keyakinannya betul, bahwa mertuanya telah berbuat jahat padanya. Tapi, Pak Fulan tetap ngotot, tidak akan pernah memaafkan mertuanya, sekaligus menolak rekomendasiku sebagai terapisnya.

Akhirnya, saya pun memohon maaf kepada Pak Fulan, karena tidak bisa melanjutkan terapiku. Telah terjadi jurang pemisah di antara kami, sehingga harus berpisah, pasien dan terapisnya.

Oh ya, sahabat holistik, kisah nyata di atas hanyalah salah satu contoh,  akibat jikalau seseorang tidak mau memaafkan orang lain. Terkait dengan sikap tidak mau memaafkan orang lain, saya akan mengulasnya lebih rinci, supaya kita terhindar dari akhlak tercela  tersebut.

Saya mulai dari penyebab sikap tidak mau memaafkan yah.  Tidak mau memaafkan disebabkan oleh, di antaranya, pertama, harga diri. Seseorang akan merasa kehilangan harga dirinya ketika mau memaafkan. Harga dirinya seperti terinjak-injak jikalau mau memaafkan. Sebaliknya, jikalau tidak memaafkan, maka harga dirinya tetap utuh dan tidak tergoyahkan.

Kedua, mau memberikan pelajaran. Pembenaran yang dilakukan ketika tidak mau memaafkan adalah mau memberikan pelajaran. Supaya orang lain juga bisa merasakannya. Betulkah untuk memberi pelajaran?

Ketiga, marah yang amat sangat. Keempat, adanya pihak ketiga (provokator). Mungkin yang bersangkutan sudah akan memaafkan. Tapi karena ada provokator yang selalu mengingatkan akan peristiwanya, maka yang bersangkutanpun kembali enggan untuk memaafkan

Kelima, dendam. Keenam, adanya energi negatif (jin). Salah satu pintu dan celah jin merasuki manusia adalah ketika seseorang marah, apalagi marah yang berkepanjangan.

Sedangkan efek tidak mau memaafkan, di antaranya, pertama, silaturrahmi terganggu/terputus. Kedua, dendam berkepanjangan. Ketiga, tidak bahagia. Keempat, sel-sel akan rusak dan mati. Kelima, kembali mengingatkan, satu kali marah 15 ribu sel yang rusak dan pada akhirnya mati. Keenam, kekebalan tubuh menurun. Berdasarkan penelitian, 5 menit marah membuat imunitas tubuh menurun selama 6 jam. Bagaimana kalau sudah marah berjam- jam, berhari-hari,  berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun.

Ketujuh, memicu penyakit seperti penyakit kulit (seperti kisah di atas), hipertensi, halusinasi, bahkan kanker. Kanker disebabkan karena marah berkepanjangan dan tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Kedelapan, jin akan semakin leluasa menguasai hati dan pikirannya.

Untuk mengatasi sikap tidak mau memaafkan, bisa dilakukan langkah langkah (a) istighfar, untuk mengendalikan pikiran dan perasaan yang negative (b) menyadari efek dari sikap tidak mau memaafkan tersebut (c) meminjam sifat Allah Yang Maha Pengampun (d) mengingat kebaikan orang yang bersangkutan. Seburuk-buruknya orang, pasti ada juga kebaikan yang telah dilakukan kepada kita.

(e) menyadari resiko terputusnya silaturahmi, baik untuk saat sekarang, maupun untuk di hari kemudian (akhirat) (f) mengamalkan zikir BISMIKALLAHUMMA untuk menghalau energi negatif jin dan (g) tersenyum. Senyumi orang yang telah menyakiti kita plus peristiwanya.

Saya sungguh berharap, bahwa informasi di atas cukup memberikan alasan, untuk tidak berlama-lama larut dalam kemarahan. Segera maafkan, dan semuanya bermula dari senyuman.

Kredit gambar: sabda.org


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *