Kepada Zetkin dan Alita
Sebelum memutuskan berangkat ke Jakarta, saya dan mamakmu melakukan diskusi kecil. Membuat daftar alasan kenapa harus bekerja di Jakarta. Salah salah satu alasan yang saya ingat, “Bekerja di Jakarta akan memberikan banyak kesempatan, untuk mengunjungi berbagai tempat di gugusan pulau-pulau di negeri kita yang indah ini.”
Saat itu bapak percaya diri, punya ketekunan untuk menulis cerita-cerita kunjungan ke berbagai pulau. Cerita yang bisa kau baca untuk menggatinkan kehadiran bapak. Namun kenyataannya tidak demikian. Sepertinya bapak malah tenggelam dalam rutinitas dan kebisingan ibu kota. Atau barangkali kesibukan hanyalah kambing hitam dari kemalasan bapak.
Dalam hal membuat catatan jalan-jalan bersama, mamakmu lebih teruji. Meski hanya tulisan pendek di dinding Facebook, mamakmu bisa membuat pengingat yang manis dari momentum kecil yang kita lewati bersama. Di bawah ini bapak kutip salah satu postingan dari dinding Facebook–nya, yang mamakmu bikin setelah kita bertiga jalan-jalan menyusuri sawah, mencari bangau yang ingin kau lihat.
“Sebelum berangkat ke kantor, bapaknya Zetkin suka membawanya melihat burung gelatik dan kutilang di hutan kota belakang RSUD Jeneponto. Akhir pekan lalu, ada waktu agak panjang menemani Zetkin melakukan ekplorasi sawah dan padang rumput yang membentang di jalan lingkar batas kota.
Zetkin mau melihat burung bangau, kata bapaknya ada jenis bangau yang suka berada di sekitar kerbau. Informasi tersebut membantu memudahkan pencarian, kami menemukan kerbau yang sedang merumput, seekor bangau tampak berdiri tegak dekat kaki kerbau.
Bapaknya menjelaskan bahwa bangau yang suka berada dekat kerbau juga dikenal dengan nama kuntul kerbau, bentuknya lebih kecil dibandingkan bangau yang sering terlihat mencari udang dan ikan kecil di tambak/empang, dan paruhnya lebih pendek. Kuntul kerbau suka berada di dekat kerbau untuk memangsa serangga yang beterbangan setiap kali kerbau bergerak melangkahkan kakinya.
Sayangnya saya, Zetkin dan bapaknya hanya bisa melakukan observasi kecil ini dari jauh. Karena takut kuntul ini terganggu.”
Demikinlah, mamakmu punya kemampuan mencatat hal-hal kecil, kerap kita lalui dan segera kita lupakan, menjadi catatan manis yang setiap saat bisa kita tengok.
Untuk sedikit mengobati rasa bersalah, bapak menceritakan sebuah kisah, tentang gadis kecil yang kehilangan bonekanya.
Surat-surat Kafka pada Gadis Kecil yang Kehilangan Boneka
Suatu hari, Kafka bertemu gadis kecil yang sedang menangis sendirian, di sebuah taman, di Berlin. Gadis kecil itu bernama Nancy. Bonekanya yang ia beri nama Suzie, hilang. Kafka lalu membantu Nancy mencari bonekanya, tapi gagal. Kafka bingung, lalu ia membisikkan sesuatu di telinga gadis kecil itu.
“Bonekamu sedang melakukan perjalanan panjang,” kata Kafka.
“Dari mana anda tahu?” gadis itu bertanya.
“Karena dia menulis surat untukku,” jawab Kafka.
Gadis itu tampak curiga. Bagaimana bisa orang yang baru ia kenal langsung dipercaya oleh bonekanya, untuk dititipkan surat.
“Kalau begitu tolong bacakan suratnya,” pinta gadis itu.
“Tidak, maafkan aku,” jawab Kafka. “Aku tidak sengaja meninggalkannya di rumah, tapi akan aku bawa besok.”
Kafka bergegas pulang untuk menulis surat. Dia duduk di mejanya, lalu mulai berpikir serius. Kafka tidak bermaksud membohongi gadis kecil itu, Nancy. Ia ingin menggantikan kehilangan gadis itu dengan kenyataan lain. Sesatu yang nyata dalam ruang fiksi. Kafka ingin menuntun gadis kecil itu dengan sastra. Perlahan Kafka mersakan ketegangan, selalu saja begitu. Setiap karya sastra yang lahir, selalu dengan ketegangannya masing-masing.
Esok hari, Kafka kembali ke taman dengan membawa surat. Nancy kecil menunggunya. Gadis kecil itu belum bisa membaca, Kafka membacakan suratnya.
“Aku ingin pergi dan melihat dunia. Tapi bukan karena aku tidak lagi mencintaimu, namun karena aku merindukan perubahan. Oleh sebab itu, kita butuh berpisah untuk sementara waktu. Tolong jangan menangis. Nanti setiap hari akan kutuliskan kisah petualanganku dan akan kukirim kepadamu”.
Sejak surat pertama tiba di tangan Nancy, dimulailah kisah perjalanan Suzie sang boneka. Nancy menerima banyak surat dari boneka kesayangannya. Surat-surat yang berisi kisah-kisah petualangan. Selama tiga minggu berjalan dengan surat-surat baru. Pada akhir minggu ketiga, Kafka membelikan boneka. Pada Nancy, ia berkata, bonekanya sudah kembali, pulang dari perjalanan panjang.
“Boneka ini sama sekali tidak mirip dengan Suzie,” kata sang gadis.
Pernyataan Nancy dijawab Kafka dengan membacakan surat terbaru.
“Perjalanan telah mengubahku.”
Nancy langsung memeluk bonekanya dan membawanya pulang.
Setahun kemudian, Kafka meninggal akibat penyakitnya yang semakin parah. Dan bertahun-tahun kemudian, gadis itu menemukan surat yang ditulis oleh Kafka di dalam bonekanya. Surat itu berisi: “Semua yang kamu cintai mungkin akan hilang, namun pada akhirnya cinta akan kembali dengan cara yang berbeda.”
Demikianlah nak, bagaimana imajinasi yang diceritakan dengan baik (melalui sastra), bisa menjadi kekuatan yang luar biasa. Surat-surat yang ditulis Franz Kafka, telah menjadi sumber keceriaan bagi Nancy, gadis kecil yang kehilangan boneka kesayangannya.
Setiap surat yang dikirimkan Kafka membawa cerita baru yang membuat Nancy tersenyum dan bersemangat. Suzie, boneka yang hilang itu, tidak lagi hanya sekadar barang yang hilang, melainkan tokoh dalam serangkaian petualangan penuh warna, imajinatif dan penuh kejutan.
Melalui surat-surat Kafka, boneka Suzie digambarkan mengalami berbagai perjalanan ajaib. Setiap kisah baru membawa Nancy pada dunia baru, yang kaya dengan fantasi. Menjadi jalinan cerita, menjadi narasi tentang petualangan dan keberanian yang akan terus diingat Nancy.
Alih-alih terfokus pada kesedihan karena kehilangan, gadis kecil itu bisa membayangkan bonekanya berkelana di negeri-negeri jauh nan indah, bertemu dengan makhluk-makhluk fantastis, dan menghadapi tantangan-tantangan yang menegangkan.
Kisah-kisah Kafka mengajarkan Nancy, kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah petualangan baru. Imajinasi yang dihadirkan Kafka, membawa harapan dan kebahagiaan dalam hari-hari gadis kecil yang suka bermain di taman itu.
Cerita-cerita menggantikan rasa duka dengan kegembiraan dan keajaiban. Cerita-cerita ini menunjukkan, betapa kuatnya sebuah narasi dalam mengubah perspektif seseorang, bahkan di saat-saat yang paling sulit sekalipun.
Kisah Kafka dan surat-suratnya untuk Nancy, mengajarkan kita bahwa cerita dapat melahirkan kekuatan untuk mengatasi kesedihan. Imajinasi mengisi kekosongan dengan keajaiban.
Bapak sungguh berharap bisa segera pulang dan menyita ponsel yang bapak berikan padamu. Rasanya ponsel itu telah menjauhkanmu dari cerita-cerita penuh imajinasi, yang bisa memperkenalkanmu pada berbagai tempat, tokoh, dan petualangan baru.
Mengarungi dunia cerita, sebentuk cara untuk menjelajahi keindahan. Juga serupa cara buat memupuk keberanian.

Penggiat lingkungan asal Bantaeng, tinggal di Jakarta. Buku favorit Kepulauan Nusantara. Film favorit “Naga Bonar”


Leave a Reply to Pia Cancel reply