Sebentang harapan di pusaran bilik-bilik khayali, menjadi apa saja, atau masih bertualang menggelandang mencari sejatinya kehidupan yang katanya telah tertakdir. Atau tertakar.
Seorang petualang melenggang kangkung. Terhuyung langkahnya terbusung mimpinya. Di balik cahaya dan bukit ditemui satu persatu jejak peradaban manusia yang keok.
Teringat karib bertarung menghadapi gelombang kehidupan. Petualangannya begitu menarik untuk kita belajar. Menjadi tukang masak, sampai tukang cuci pakaian di sebuah asrama mahasiswa, dan tenaga honorer. Namun, dia tak urung atau larut termenung. Dia bangkit dengan penuh spirit. Melawan dirinya sendiri, menaklukkan segala ketakutan dan kekalutannya.
Dudung bukan tipikal manusia menyerah atau pasrah. Pada akhirnya segala cita, mimpi diraihnya. Kini telah dia petik buah keluhuran dari kelahirannya sarat penuh peristiwa. Mengarungi kehidupan yang tidak semudah orang lain. Dia tempuh dan tertempah.
Sebagaimana penceritera yang mampu membuat saya terbawa masuk ke alur kisah seorang pencari harta karun. Paulo Coelho dalam bukunya berjudul, Sang Alkemis. Dia menceritakan perjalanan seorang gembala dalam mencari harta karun di mana harta karun tersebut berawal muncul dalam mimpinya.
“Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?” Tanya si bocah, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.
“Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.”
Demikian selintas percakapan antara sang Alkemis dan Santiago, gembala yang mengikuti suara hatinya dan berkelana mengejar mimpinya. Perjalanan tersebut membawanya ke Tangier serta padang gurun Mesir, dan di sanalah dia bertemu sang Alkemis yang menuntunnya menuju harta karunnya, serta mengajarinya tentang jiwa buana, cinta, kesabaran, dan kegigihan.
Perjalanan itu pulalah yang membawanya menemukan cinta sejatinya: Fatima, gadis gurun yang setia menanti kepulangannya.
Seperti Dudung, dengan suara hati menjalani setiap persoalan, kerumitan hidup. Hingga pada satu titik hendak pulang ke rumah mencari suaka dari ibunya. Sebuah senyum yang dirindukannya selama ini. Dudung dengan petualangannya kembali pulang tersemat sebuah hamparan ilmu sebagai sarjana strata dua (S2). Yah. Sang tukang cuci piring, tukang masak di sebuah asrama mahasiswa itu telah meraih mimpinya.
Betapa kekuatan pikiran. Mampu menerobos kemungkinan-kemungkinan dari segala keniscayaa-Nya.Mereka bukan sekadar hadir menjadi bumbu cerita. Sebagaimana lazimnya kisah dihampar lalu jadi hambar.
Dudung dan bocah Santiago sang pengembala dalam menemukan seorang penuntun (Alkemis) adalah petualang sejati. Dengan menembus badai, tantangan, perjalanan nan jauh. Tanpa kompas. Hanya semangat dari segala konsekuensi resiko akan dihadapinya. Sampailah dia pada satu titik yang mengubah segalanya.
Secara mental kadang terpental. Sebagai proses belajar melewati tahapan, yang tidak tahu menjadi mengerti, kemudian berilmu hingga ahli pada bidang yang dipelajari. Rangkaian itu menjadi salah satu pola pada penempaan di ranah petualang sejati.
Saya merasa ciut dan kembali menjadi pengecut. Tiada berani mengambil keputusan seperti Santiago dan Dudung. Hanya teori hendak lepas dan lekas terbang dalam kubangan ruang lingkup sekitar merimpung, dijatuhkan mentalnya, ditohok dengan pikiran-pikiran masa lampau. Sementara masa lalu terbahak menyungging mengolok-olok.
Ada juga pura-pura menyuguhi keju dan membangun tugu. Seolah pemandu menuju dunia baru. Ditepuki, didongengkan lalu membuat kita menjadi penikmat “halu”. Dan riuh semara tepuk tangan.
Santiago bersama Dudung adalah pustaka. sementara seperti saya hanya tahu menyeruput kopi dan cerita usang. Sukses manakala kau konsisten. Pusatkan pikiranmu dan menjalani secara serius. Maka kau tempuh menemukan sesnasinya dengan tidak berpikir dan berhitung mundur. Itu ngawur. Dengan konsisten tak mengenal gengsi. Meski di sekitar kita berlimpah sumpah dan sampah serapah. Bodoh amat! Ucap Dudung.
Terlahir dengan kehidupan di antara pasrah dan menyerah. Saat kehinaan “nitile biring mata, tama pacce, tama pa’rikongang, tani saile”(dipandang sebelah mata, tanpa kasih, ibah, dan peduli), Dudung menyeka air matanya sendiri, batin, jiwa dan raganya hampir goyah dan rapuh. Tetapi dia meyakini dengan bertualang setidaknya melupakan semua kepedihannya dan berpikir jauh lebih matang. Melangkah menuju arah penjuru mata angin pengharapan, meninggalkan jejak dan peradabannya yang sulih. Petualangannya saat itulah dimulai.
Orang hebat dan sukses, bukan seolah menjadi pintar dan cerdas. Itu relatif. Punya fase dan proses untuk bisa meraihnya. Bagaimana kau menjalani, menempuh hal yang di luar dugaan, dan nalar, berjalan (pencarian) memijak air mata sendiri. BerpIkir, berjiwa besar. Seorang petualang bukan semata selera atau ingin merasakan sensasi atau pengalaman saja. Petualang sejatinya mengenal ilalang, dan rambu rimba raya semesta. Menjalani dengan pikiran, hati nan teguh.
Selagi dunia belum melarangmu berpikir dan berimajinasi dan bebas bertualang. Kenapa harus takluk oleh hal yang mengganggu pikirani? Jika ketakutan tidak mendasar itu menjadi alasan, maka setiap langkah dan mimpimu akan terenggut, segera direbut.
Jangan pula gegabah dan terlalu merasa. Potensi setiap manusia ada. Jiwa petualang itu ada setiap individu. Berjuang walau kadang ada penguntil centil di antara lereng, ada mengintip di antara ilalang, ada siap menghadangmu di depan, di samping kiri-kanan. Bahkan orang-orang terdekatmulah segera menjarah murka yang kau tak terka menjagalmu. Dudung bagai meneguhkan dan sambil menyeduh kopi pada jiwa ini yang kian kisruh.
Bangkit, lalu jangan kau ungkit segala hal membuatmu pernah merasakan sakit. Melangkah, menepis badai, membelah tantangan. Hidup itu pilihan kata orang, juga perjalanan, berlarilah jika perlu. Sebab di sana sejuta asa menantimu. Suaranya semakin serak membuatku terjenak.
Dudung menghentakku. Segeralah beranjak, dari semua hal kebiasaan buruk. Keluarlah di zona nyaman! Sebab itu juga ancaman. Tidak larut dalam kecewa dan membuatmu kian terpuruk. Setapak langkah ayunannya adalah isyarat dan syarat, untuk segera bersepakat pula dengan hati, pikiran serta niat. Seakan membantaiku di tengah percaturan hidup. Antara memilih jalan statis saja atau merintis petualangan seperti Santioago atau karib Dudung!? Dudung menatapku lirih. Dan kutemukan diriku dalam fase kelana yang hanha mengutip sang gembala dengan baladanya.
Banyak jalan menuju Roma. Sambil cengengesan Dudung menyiasatiku seperti biasa, dengan lontaran yang tajam, jujur dan apa adanya. Kritis, tidak hanya sekadar memuji seperti kebanyakan tunduk tapi menanduk, bahkan menyelinap menancapkan belati.
Kredit gambar: Pixabay

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to RIKA WAHYUNI Cancel reply