Sepuluh Muharram 1446 H lalu, pada hari Assyura, saya merayakan tepat setahun menyandang status menjadi ibu. Begitu pun anakku, ia telah berumur setahun. Melaju menuju tanggal 28 Juli 2024, versi kalendar masehi, ia akan berulang tahun pertama.
Selama itu, ada banyak sekali hal-hal yang di luar ekspektasi, di luar akal, dan semua hal-hal tak terduga lainnya. Termasuk di luar asumsi-asumsi sebelum jadi ibu. Dan, yang pasti ini semua tidak akan saya tahu, apalagi mengerti jika tidak menjadi ibu. Seberapa pun saya mendengar cerita orang jadi ibu, saya melihat ibu saya, melihat teman saya jadi ibu, dan hal lain demikian. Tidak akan pernah sama jika saya tidak pernah diberikan kesempatan menjadi ibu. Suatu peran yang bisa benar-benar mengubah diri seseorang dan juga orang-orang sekitarnya.
Sebelum masuk ke dalam peran ibu. Dulu sekali, saya selalu berkata kepada umi. Kalau kelak saya menjadi istri dan ibu, saya mau seperti umi. “Lebih baik lagi nak dari umi,” katanya, begitu tiap kali percakapan ini berlangsung. Menyaksikan secara langsung, sebagai anak, secara tidak langsung pula kita melakukan observasi kepada orangtua kita ataupun orang-orang sekitar. Memunculkan refleksi masa depan kelak kita mau ataupun menolak menjadi seperti apa.
Di umur memasuki usia SD, dulu saya menganggap jika menjadi ibu adalah peran tunggal yang dimiliki. Artinya melepas semua peran lainnya ketika telah menjadi ibu. Terutama melepas diri sendiri. Begitu pun melepas hak ataupun hal-hal lainnya yang dulunya sebelum jadi ibu sudah ada. Semua demi anak. Anaklah yang menjadi prioritas pertama.
Entah kenapa, karena pemikiran ini yang kelak di usia 20-an baru saya sadari. Saya menganggap ibu yang berdandan, yang melakukan self care, ataupun ibu yang berpenampilan bagus bukanlah ibu yang baik.
Saya masih ingat betul hingga hari itu. Sewaktu SD, saya melihat ibu teman saya berpenampilan menarik, ber-make up dan tidak memakai jilbab. Ia ikut bersantai di kolam renang ketika kami satu kelas praktek berenang. Saya menganggap ia bukan ibu yang baik. Padahal dirinyalah yang menyewakan saya baju renang. Di saat saya tidak diantar oleh orangtua dan tidak tahu jika masuk ke kolam renang musti menggunakan baju renang.
Stereotip seperti ini berlangsung cukup lama, mungkin hingga memasuki fase SMA. Barulah saya menyadari tidak apa jika seorang ibu berpenampilan menarik dan berdandan. Ia tetaplah ibu. Ibu yang baik bahkan untuk dirinya. Jadi ketika saya menjadi ibu, begitu banyak paradoks yang rasanya berkecamuk. Satu hal yang saya sadari pikiran saya berubah menjadi arena riuh sekaligus sepi. Seperti ketika kita pergi ke tamasya seorang diri, dikelilingi wahana bermain.
Jadi sebelum anak kami, Shanum Assyura Macca lahir. Saya dan suami sempat menunda untuk memiliki anak. Bahkan kami memiliki pikiran untuk child free saja. Namun, setelah berbulan-bulan perasaan naik turun berkeinginan memiliki anak. Akhirnya kami jatuh hati pada pilihan siap menjadi orangtua. Walau ternyata kami tidak benar-benar siap. Sesiap dan seberancana apa pun, pastilah akan selalu saja ada kejutan. Beberapa bulan setelah kami bersepakat, saya hamil. Cukup struggle dengan kondisi mual-muntah. Sempat masuk rumah sakit. Berat badan disuruh naikkan. Pilih-pilih makanan. Alhamdulillah akhirnya, anak kami Shanum lahir di bulan ke-9 dengan operasi sesar. Maka berlanjutlah perjalanan kami dengan telah hadir secara fisik dan nyata, di depan mata kami, seorang anak perempuan, yang kelak akan menjadi guru kami sebagai orangtua.
Bulan pertama-kedua, saya namakan bulan kebingungan. Sesuai temanya, tentu saja semuanya diawali dan hampir hari-hari kami lalui dengan kebingungan. Selepas umi kembali ke Makassar selama kurang lebih 4 bulan membersamai kami.
Keesokan hari, saya sudah menelpon suami untuk segera pulang. Sambil menggendong Shanum di depan pintu dengan ikut berurai air mata. “Saya sudah menggendong Shanum selama tiga jam. Tiap kali diletakkan, dia pasti, menangis. Saya capek sekali rasanya.” Kalimat yang tersampaikan dengan sesegukan ke suami begitu ia sampai di depan pintu. Kami berdua benar-benar dibuat bingung. Mengapa Shanum demikian. Lupakan jika ia menangis karena lapar, popok penuh, dan ngantuk. Itu semua sudah dilakukan. Asumsi kami, ia kangen sama neneknya. Itulah cikal bakal kami memutuskan memakai ayunan. Padahal sebelumnya, kami tidak berniat menggunakan ayunan. Takutnya ketergantungan. Tapi kata ayahnya, toh sama juga dengan digendong. Diayun adalah cara kita berdua lebih waras dalam mengasuh.
By the way, sejak memutuskan menikah. Kami memang sudah bersepakat. Kelak, kami akan berpisah rumah dari orangtua masing-masing. Tinggal sendiri. Begitu pun ketika memiliki anak. Kami mengasuhnya berdua. Karena kami memiliki nilai, pengetahuan, yang tidak ingin diintervensi dari mana pun. Mengasuh berdua menjadi pilihan karena kami ingin menjadi lebih mandiri, kerjasama, dan menjaga semuanya lebih intim. Namun, bukan berarti kami tidak menerima nasehat ataupun bantuan dari keluarga. Kadang kala, kami juga ke rumah neneknya. Sekaligus sedikit meliburkan diri karena mendatangi bala bantuan.
Kebingungan lainnya, pernah suatu malam. Entah mengapa Shanum menangis secara terus-menerus. Kami berpikir ia sakit perut. Jadilah kami berdua berusaha membantu Shanum agar sendawa. Tapi kami begitu takut untuk menggendong dengan posisi menghadap ke dada. Karena tulang-tulangnya yang begitu kecil. Masih usia 2 bulanan. Kurang yakin dengan apa yang kami lakukan. Jadilah, saya membuka aplikasi TikTok dengan mencari postingan tersimpan, menyendawakan bayi. Sedangkan ayahnya begitu sibuk membolak-balikkan posisi Shanum. Saya lupa bagaimana pada akhirnya ia terdiam dari tangisan.
Kebingungan menjadi makanan sehari-hari kami. Beserta kegalauan problem bayi baru lahir. Kapan lagi mengganti popok, kenapa nenennya hanya sedikit, bagaimana cara sleep training, apakah pelekatan nenen sudah benar? Belum semisal bagaimana membangun bonding kami bertiga. Apakah harus selalu diajak cerita? Dibacakan buku? Cara agar kami berdua bisa bekerjasama? Seperti itulah. Kepala saya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang jika dicari jalannya ke Google, membuat lebih bingung lagi. Bahkan, mendapati diri mendapatkan pertanyaan lanjutan. Jadilah seperti pertanyaan berantai macam ujian nasional dahulu. Kemungkinan itu pula yang dirasakan oleh suami saya.
Pernah suatu ketika, ia ditunggu pulang oleh saya dan keluarga yang datang dari Makassar. Dikiranya ia diajak keluar jalan ke Pantai Seruni. Dengan balasan tanpa beban, ia berkata, “Nanti saya menyusul”. Dibuat bingunglah kami semua ini. Ditelepon tidak diangkat. Padahal, ia ditunggu bukan karena akan diajak. Melainkan siapa yang menemani saya sendiri di rumah bersama Shanum berusia 1 bulan ini. Apalagi posisi saya sedang pemulihan sesar. Setibanya di rumah, ia cerita ia mengira jika diajak dan lupa jika di rumah sudah ada bayi kami.
Di bulan ini juga, saya pernah menangis curhat kepada suami. Bagaimana perasaan saya setelah jadi ibu dan keinginan saya dari dia. Alhamdulillah, setelah semuanya dikomunikasikan. Kami menjadi lebih siap menghadapi dinamika menjadi orangtua baru.
Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

Seorang ibu pembelajar sepanjang hayat. Ketua Balla Literasi Indonesia. Bisa dihubungi di IG: @nurulaqilahmuslihah


Leave a Reply