Pindahkan Isi Pikiran Anda

Suatu ketika, saya kedatangan seorang pasien, dengan wajah yang sangat murung, pucat pasi, suara agak bergetar, dan tidak bersemangat plus tidak bisa tersenyum.

Ketika saya ajak untuk bercerita, dia pun tidak tahu harus bercerita apa, dan mulai dari mana. Untuk kasus seperti itu, saya biasa memancing untuk bercerita tentang apa saja, kemudian pelan pelan dan secara alami masuk kepada yang sesungguhnya dia mau sampaikan .

Bermula dari apa yang dia rasakan, gangguan dan gejala yang diderita. Katanya asam lambung selalu naik, tekanan darah juga sering naik, bahkan tidak stabil, kolesterol, juga diabetes plus susah tidur.

Beberapa saat kemudian, dia menambahkan, bahwa kecemasan tinggi, berpikir negatif kepada orang lain, mudah tersinggung dan sesekali terkadang tiba tiba langsung  menangis.

Semakin lama, semakin banyak yang disampaikan. Ibarat saluran air, krannya semakin terbuka, tidak lagi menetes, melainkan sudah mengalir deras.  Alhamdulillah, semakin terungkap, dan akhirnya satu per satu masalahnya tersampaikan.

Ternyata memang lumayan banyak masalahnya. Mulai dari urusan rumah tangga, sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai seorang kakak tertua, sebagai seorang anggota masyarakat dan seterusnya. Pokoknya banyak sekali.

Seperti biasa dan pada umumnya orang alami, ketika seseorang sudah bercerita, maka yang bersangkutan pun sudah merasa lebih nyaman. Ternyata, pikirannya sudah sangat mumet, akibat banyaknya objek yang dipikirkan, hingga menjadi kepikiran.

Apa yang dialami oleh sang pasien, sebetulnya bukan sesuatu yang baru terjadi, atau baru kemarin. Melainkan akumulasi dari kondisi kondisi yang setiap saat bertambah, hingga menumpuk dan terus bertambah tinggi hingga menggunung dalam pikirannya.

Sahabat holistik bisa bayangkan, ketika berada pada posisi seperti itu. Sebetulnya sang pasien sudah sangat capek secara fisik dan lelah secara mental. Kenapa bisa begitu?

Hal seperti itu bisa terjadi karena adanya pembiaran. Pembiaran bermula dari istilah cuek. Sangat sering saya mendengar pernyataan, “Saya kalau ada masalah, ku cuekin saja.” Apa ini keliru? Untuk langkah awal, memang tidak keliru, bahkan terkadang sikap cuek dibutuhkan.

Akan tetapi, sikap cuek ini tidak bisa diandalkan, sebab terkadang justru sebuah kondisi tidak akan selesai dengan sikap cuek tersebut.  Terkadang ada kondisi yang yang butuh pemetaan untuk mencari jalan keluarnya.

Lalu , apa yang mesti dilakukan? Dan dari mana mesti mulai? Ketika sudah mumet dipikiran akibat banyaknya objek yang dipikirkan, maka hal yang pertama kali dilakukan adalah PINDAHKAN ISI PIKIRAN ANDA.

Kemana? Ke media yang lain. Ambil selembar kertas, kemudian tulis apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Tuliskan apa saja, dan hindari mengidentifikasi dan mengintervensi dari segi berat dan ringannya masalah tersebut.

Pokoknya, tulis saja. Sekali lagi, tulis saja. Dengan menuliskannya, maka sesungguhnya, disadari atau tidak, isi pikiran Anda yang sebelumnya bermukim di kepala, sekarang sudah pindah ke kertas dalam bentuk tulisan.

Haruskah di atas kertas? Bagaimana kalau di HP saja? Pengalaman saya, sebaiknya di atas kertas. Sebab, di atas kertas lebih mudah untuk kita amati dan melakukan tahapan berikutnya. Di atas kertas lebih mudah untuk mencoret-coret sebagai upaya pemetaannya, dibandingkan dengan disimpan di HP.

Apa manfaat ketika masalah tersebut sudah ditulis di atas kertas? Pertama, ketika masih di kepala, maka kita sangat sulit mengurainya. Ibarat benang kusut. Mau diurai dari sisi manapun akan tarik menarik. Akan berbeda, ketika sudah ditulis, maka menguraikannya jauh lebih mudah.

Kedua, ketika masih di kepala, maka sebetulnya masih bersama dan akan selalu bersama dengan masalah tersebut. Ibarat pertandingan sepak bola, kita bertindak sebagai pemain. Sebaliknya, jikalau sudah dipindahkan di atas kertas, maka kita sudah bukan pemain lagi, melainkan sebagai penonton. Penonton lebih mudah mengamati dibandingkan dengan pemain.

Ketiga, ketika masalah tersebut sudah ditulis di atas kertas , maka beban otak menjadi berkurang. Otak kita akan berkurang kerjanya, dan setidaknya sudah lebih rileks dibandingkan sebelumnya. Sebagai ilustrasi sederhana, seorang ibu yang berbelanja  di pasar, karena tidak membuat catatan dan mengandalkan ingatannya, maka akan berusaha terus untuk mengingat apa yang akan dibeli. Bandingkan kalau sudah ditulis, kan tinggal melihat catatan bukan?

Keempat, ketika sudah ditulis di atas kertas, maka kita akan lebih mudah melakukan tahapan berikutnya, yaitu pemetaan, mana yang segera, dan mana yang bisa ditunda. Kita akan lebih mudah untuk membuat skala prioritas,  dan pada akhirnya akan lebih mudah untuk mencari solusinya.

Saya agak heran, sejak kapan tradisi menulis ini berubah. Dulu, hampir semua orang memiliki diary atau catatan harian. Bahkan ada jenis buku diary yang dilengkapi dengan gembok , agar orang lain mungkin tidak bisa membacanya.

Semuanya ” ditumpahkan ” pada buku diarynya. Sehingga wajarlah,  kalaU orang dulu lebih tenang dan rileks dan pada akhirnya lebih sehat. Bandingkan dengan sekarang, yang semuanya disimpan di kepala dan akan membebani kerja otak.

Sebetulnya, ada kesamaan antara orang dengan HP. Kenapa HP biasa lambat loading, bahkan biasa hang? karena memorInya sudah sangat penuh melebihi kapasitasnya. Begitupun otak kita, punya kapasitas tersendiri.

Ketika sudah melebihi kapasitasnya, maka akan terjadi gangguan, seperti gagal fokus, pusing, lambat merespon dan semacamnya. Daftar belanja harian saja yang tersimpan di kepala bisa membebani otak, apatah lagi kalo kondisi kondisi tertentu yang sudah dianggap sebagai masalah. Iya bukan?

Ayo sahabat holistik, ringankan beban otak kita, dengan memindahkan isi pikiran kepada media lain, seperti kertas. Bahkan, saat saya melakukan terapi, saya menggunakan media papan tulis, yang sangat berguna untuk mengidentifikasi, memetakan dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh pasien. Dan, ini sangat luar biasa manfaatnya, baik saya sebagai terapis maupun pasien yang bersangkutan.

Menggunakan media lain seperti kertas, papan tulis dan semacamnya akan membuat proses berpikir lebih maksimal dan tidak akan pernah full memory. Mengapa? Sebab selalu ada ruang kosong untuk berpikir kreatif dan produktif.

Eh iya sahabat holistik, sesungguhnya, sejak kata pertama tulisan ini hingga sekarang, saya sedang memindahkan isi pikiran saya.

Kredit gambar: liputan6.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *