Mendengarkan Anak, Mudahkah?

Mendengarkan adalah pekerjaan yang mudah, tapi umumnya sulit dipraktekkan. Terutama mendengarkan seorang anak berbicara. Ia mudah karena sifatnya yang pasif, dalam artian seseorang tidak perlu melakukan sesuatu untuk bisa melakukan pekerjaan “mendengarkan”. Ia cukup memfungsikan kedua telinganya, untuk bisa menangkap suatu informasi yang disampaikan kepadanya.

Dan kenapa sulit? Karena hasilnya ternyata tidak seperti yang kita bayangkan. Banyak sekali anak yang mengeluh kalau orangtuanya tidak ada waktu untuk mereka, tidak nyaman diajak ngobrol atau curhat. Kenapa tidak nyaman? Karena pada saat ngobrol, orangtua biasanya main potong seenaknya.

Mending kalau memotong karena tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya. Ehhh….yang ini dipotong karena orangtua sudah tidak punya cukup waktu untuk mendengar lagi. Kesibukan yang lain sudah menanti. Menyelanya pun langsung diisi dengan nasihat dan wejangan.

Jika model hubungan seperti ini yang terjadi, maka lambat laun anak akan tidak tertarik lagi untuk bercerita kepada orangtuanya. Padahal, salah satu cara untuk orangtua dapat mengetahui perkembangan anak di sekolah atau di luar adalah lewat cerita si anak.

Mengapa banyak kasus anak remaja lebih senang bergaul dan ngumpul bersama geng/kelompoknya? Karena orangtua atau rumah bukan lagi tempat yang nyaman untuk bercerita.

Mau Didengarkan, tapi Tidak Mau Mendengarkan

Seperti sebuah pemeo yang sudah tidak asing lagi, “Manusia dikaruniai satu mulut dan dua telinga”, maka seperti itu jualah salah satu hakekat keberadaan kita. Namun sayangnya, manusia cenderung egois: mau/suka didengarkan, tapi tidak mau/tidak suka mendengarkan. Mau/suka diberi tapi tidak mau/tidak suka memberi. Mau/suka disayangi tapi tidak suka/tidak mau disayangi. Dan seterusnya.

Sebagai orangtua, tentu kitalah yang harus memulai memberikan contoh. Agama pun menjanjikan kita ganjaran yang lebih besar jika mau menjadi orang yang memulai. Meski tak dimungkiri orangtua pun butuh didengarkan atau disayangi, dll. Akan tetapi perubahan tentunya bermula dari orang dewasa. Bukan justru sebaliknya, mengharapkan awal perubahan itu dari si anak.

Sebenarnya aturan ini pun berlaku di antara manusia dengan varian umur yang berbeda. Pada intinya, memulai melakukan sebuah kebaikan/perubahan positif adalah lebih baik, dibandingkan jika kita hanya membalas sebuah kebaikan.

Jika aturan ini kita berlakukan di mana pun dan dalam situasi apa pun, maka boleh jadi masalah-masalah dalam rumah tangga, sosial, dan lingkungan masyarakat luas pun akan berkurang.

Teknik-teknik mendengarkannya seperti apa? Saya jelaskan dalam tulisan berikut ini, dengan mengadaptasi ulasan dari      Adele Faber & Elaine Mazlish, melalui bukunya, Berbicara Agar Anak Mau Mendengar dan Mendengar Agar Anak Mau Bicara.

Kekurangmampuan mendengarkan, adalah salah satu penyebab timbulnya banyak masalah. Teknik-teknik mendengarkan yang perlu dikuasai saat membantu anak mengatasi perasaannya.

Pertama, dengarkan dengan penuh perhatian. Kebanyakan orangtua ketika si anak datang melaporkan atau memberitakan sesuatu, mereka hanya mendengar sambil lalu saja. Apalagi jika saat itu mereka sedang asyik mengerjakan pekerjaan yang lain, misalnya menonton TV, memasak, menyetrika, membersihkan dapur, dll.

Sebaiknya jika situasi sedang tidak memungkinkan untuk bapak atau ibu mendengar anak dengan seksama, maka katakan padanya bahwa sekitar setengah jam lagi ibu akan sudah selesai dan siap mendengar ceritamu. Atau kalau bisa, hentikan aktivitas apa pun saat itu, dan hadapkanlah wajah pada anak untuk mulai mendengarkan ceritanya.

Dengan adanya penghargaan seperti ini, rasa percaya diri anak akan tumbuh semakin baik, begitu pun perasaan bahwa ia disayangi dan diperhatikan oleh orangtuanya akan semakin tertanam

Kedua, tunjukkan perhatian dengan satu  kata. Bahkan sekadar ucapan “Oh..”, “Hmmm…”, “Waduh…”, “Oh ya?” sudah merupakan sebuah bentuk perhatian itu sendiri. Sepanjang bapak atau ibu melakukannya dengan penuh perhatian. Bukan gumaman sambil lalu saja.

Biasanya dengan respon satu kata ini saja, anak akan sudah menganggapnya sebuah bentuk perhatian yang tulus dan kemauan untuk mendengar yang serius dari orangtuanya. Dan umumnya jika anak datang mengadukan masalahnya, dengan respon pendek-pendek ini saja ia sendiri akhirnya terdorong untuk bisa menemukan sendiri solusinya.

Ketiga, sebutkan nama perasaan itu. Misalnya seorang anak datang menghampiri orangtuanya dan mengadukan tentang binatang kesayangannya yang baru saja mati. Respon orangtua adalah mencoba menyebutkan nama dari perasaan si anak seperti contoh di bawah ini:

Anak: Kelinciku mati tadi malam dimakan tikus.

Bapak: Wah, mengejutkan sekali!

Anak: Padahal dia sudah sebulan ini bersamaku.

Bapak: Memang sedih rasanya kehilangan teman.

Anak: Aku tiap hari memberinya makan dan bermain.

Bapak: Kalian berdua pasti sudah akrab satu sama lain.

Anak: Dulu aku yang selalu merawatnya.

Bapak: Kamu pasti sangat sayang pada kelinci itu ya…

Setelah mengeluarkan uneg-uneg dan perasaannya, anak pun lega dan mulai dapat menerima kematian hewan kesayangannya itu. Orangtua tak perlu memberikan nasihat yang isinya mengabaikan perasaan si anak. Karena justru hal itu akan semakin memperparah kesedihan si anak.

Keempat, beri anak keinginannya dalam khayalan. Terkadang orangtua dihadapkan pada situasi di mana anak meminta sesuatu (makanan atau benda) yang tidak dapat kita hadirkan saat itu. Misalnya, seorang anak yang ingin sarapan dengan roti coklat, tapi yang ada hanya roti tawar biasa.

Nah ibu atau bapak bisa bermain fantasi dengan mengatakan,“Andai ibu bisa sihir. Ibu akan memberimu satu kotak besar roti yang berisi coklat.” Kontan, setelah permainan fantasi ini, si anak biasanya langsung mau menerima makanan yang ada saja pada saat itu.

Kredit gambar: https://kumparan.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *