Senggol Esainya Kak Sulhan Yusuf
Kak Sulhan benar. Ungkapan pendek: “Memberi tidak akan mengurangi”, yang tersebar di sudut-sudut kota dan pelosok desa adalah maksim yang ingin saya tegaskan pada seluruh khalayak Butta Toa Bantaeng.
Sebuah perenungan sederhana atas makna perayaan Iduladha yang baru saja kita tunaikan, bahwa begitulah hakikat kehidupan dan pemberian. Ungkapan pendek itu sesungguhnya sebentuk pengingat bagi saya sebagai pribadi, bagaimana hidup dan kehidupan harus dijalankan.
Ungkapan tersebut memancing ingatan dan perenungan akan hakikat pemberian. Ungkapan ini, bagi saya, serupa cerminan dari filosofi hidup yang kita pegang teguh sejauh ini. Saya banyak belajar dari perenungan lautan dan pesisir Bantaeng yang memanjang yang selalu memberi tanpa mengharapkan imbalan. Laut adalah guru yang mengajarkan kedermawanan dan kekuatan dalam memberi.
Kehidupan pesisir mengajarkan kita bahwa setiap ombak yang datang membawa berkah, setiap ikan yang ditangkap adalah anugerah. Laut memberi tanpa mengurangi, ia tetap luas dan penuh kehidupan.
Begitu pun, kolaborasi dengan Kak Sulhan dalam berbagai program literasi memperkuat keyakinan saya akan kekuatan memberi. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membuka pintu dunia bagi setiap individu.
Program-program yang digerakkan bersama mengajarkan, bahwa setiap tindakan kecil dalam memberi dapat membawa dampak besar. Saat kita memberi waktu, energi, dan pengetahuan, yang kita dapatkan kembali adalah kebahagiaan murni dari siapa saja yang merasakan kebermanfaatan.
Sepanjang ingatan saya, esai dalam salah satu bukunya, Pesona Sari Diri, yang terbit pada 2019, selalu menjadi bahan perenungan bagi kita akan pentingnya memberi dengan hati, dengan esensi diri kita yang paling murni. Dalam setiap langkah kolaborasi kami dan berbagai program yang diinisiasi bersama, saya melihat bagaimana ide-ide tersebut membumi dan membawa perubahan nyata.
Setuju dengan nukilan Kak Sul tentang Marcel Mauss: The Gift, bahwa pemberian tidak pernah benar-benar cuma-cuma. Setiap pemberian membawa serta esensi dari si pemberi, memperkuat hubungan antar manusia.
Dalam konteks ini, saya mengerti bahwa memberi bukan hanya tentang apa yang kita serahkan, tetapi tentang bagaimana pemberian itu memperkaya kedua belah pihak. Memberi, dalam pandangan Mauss, adalah tentang menciptakan ikatan dan komunitas yang lebih erat.
Sebagai seorang yang berada dalam ruang interaksi, saya sering merenungkan kata-kata ini. Saya percaya bahwa memberi kepada masyarakat adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan tulus.
Setiap program yang kita jalankan atau setiap bantuan yang kita salurkan, serupa upaya untuk memperkuat ikatan antara pemerintah dan masyarakat. Memberi merupakan bentuk pengabdian yang sejati.
Erich Fromm dalam To Have or To Be, berbicara tentang dua modus eksistensi: memiliki dan menjadi. Di dunia modern, dorongan untuk memiliki sering kali mendominasi, menciptakan persaingan dan ketegangan. Namun, Fromm menekankan bahwa menjadi adalah modus yang lebih bermakna, yang mengarahkan kita untuk mengaktualisasi potensi diri tanpa terikat pada kepemilikan. Dalam memberi, kita bergerak dari memiliki menuju menjadi, menciptakan keserasian dan kebahagiaan yang lebih dalam.
Merenungkan esai kak Sulhan, sembari mengingat beberapa percakapan yang sering diselingi dengan candaan di banyak waktu. Saya merasa, setiap tindakan kecil, setiap pemberian, sejenis langkah menuju kehidupan yang lebih kaya dan bermakna. Seperti yang diajarkan oleh Ibrahim dan Ismail, pengorbanan adalah bentuk pemberian tertinggi yang melibatkan hubungan dengan Tuhan, mengarahkan kita untuk menjadi lebih baik.
Saya teringat akan pertemuan-pertemuan kami, baik dalam acara formal maupun informal. Setiap kali berjumpa, selalu ada diskusi mendalam tentang makna hidup dan pemberian. Seperti saat Kak Sulhan menuliskan esainya tentang memberi dengan sari diri, menginspirasi kita untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna. Pada akhirnya saya percaya, bahwa memberi bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang waktu, perhatian, dan cinta.
Ungkapan “Memberi tidak akan mengurangi” itu bukan hanya sebuah slogan atau simbol perjuangan yang tarpampang di baliho atau media sosial, tetapi sebuah ajakan untuk menjalani hidup dengan keikhlasan dan ketulusan.
Ini adalah panggilan untuk terus memberi, untuk terus berkontribusi pada sekitar, untuk terus menciptakan dunia yang lebih baik melalui setiap tindakan kecil kita. Saya sangat percaya bahwa di saat-saat penuh tantangan dan perubahan, filosofi ini menjadi landasan kuat yang membawa kita maju.
Terima kasih, Kak Sulhan, atas kata dan inspirasi yang selalu menyentuh hati. Kolaborasi, adalah bukti nyata bahwa memberi, berbagi, dan bekerja sama selalu membawa kebaikan yang lebih besar. Semoga senantiasa ada napas untuk kita terus melangkah bersama, memberi tanpa henti, dan menemukan kebahagiaan sejati dalam setiap pemberian. Mari kita jaga dan hadirkan ruang yang lebih baik, di mana setiap individu merasa dihargai dan setiap tindakan membawa perubahan positif.
Setiap langkah yang kita ambil, setiap program yang kita hadirkan, adalah bentuk pengabdian yang tak terhingga. Sekali lagi, saya percaya bahwa dengan memberi, kita akan terus memperkaya kehidupan kita dan masyarakat sekitar. Inilah hakikat dari “Memberi tidak akan mengurangi”.
Kredit gambar: Tempo.co

Bupati Bantaeng Periode 2018-2023


Leave a Reply to alwy rachman Cancel reply