Tokyo banyak disebut-sebut sebagai salah satu kota penting di dunia. Saya sudah membayangkan betapa ramainya jalanan-jalanan kota yang konon dua kali lipat lebih sibuk dibanding Jakarta. Keluar dari Bandara Internasional Haneda saya sudah membatin. Memang Jakarta masih sangat jauh dari Tokyo. Jaraknya? Bukan! Keteraturannya!
Saya masih terkesan dengan hotel di bandara itu, Villa Fontaine. Perangkatnya memang mewah namun bukan karena itu yang membuat saya merasa kagum. Desainnya saja telah menandakan bahwa kita sedang dilayani. Ia dirancang untuk menyatakan kepada penggunanya bahwa ia ada untuk melayani. Belum lagi keperluan dasar seorang musafir di dalam hotel sudah disiapkan.
Memang tak ada penunjuk arah kiblat seperti lazimnya hotel di Indonesia namun itu gampang diatasi dengan perangkat kompas kiblat online. Kebutuhan untuk berada di sana sementara waktu sudah disediakan. Benar-benar siap kota ini. Barangkali korupsinya kurang. Itulah yang terus ada di dalam batin saya ketika menumpangi kereta listrik yang sangat cepat menuju penginapan. Penginapannya bukan hotel tetapi kamar apartemen di Akabanebashi.
Setibanya saya di Akabanebashi saya tidak melihat ingar-bingar kota sebagaimana kota-kota di Indonesia, seperti Jakarta. Beberapa kali saya merasa tergoda untuk bertanya kepada kawan saya, benarkah ini adalah Tokyo? Dapat dimaklumi bahwa cetakan di otak saya mengenai kota itu adalah keramaian yang membuat perlunya permakluman atas kesemrawutan hingga kegaduhan sosial. Kalau ramai, disesaki kendaraan, dan rada semrawut, itulah kota!
Saat ini musim panas. Tokyo diguyur terik semenjak Pukul 05.00 pagi hari sampai 19.00 sorenya. Serasa ingin komplain ke sepupu saya yang pernah tinggal lama di Jepang, tepatnya di Chiba. Ia menyelesaikan doktoralnya dalam studi remote sensing di Chiba University, 2018 lalu. Ia bercerita banyak tentang kelebihan kota-kota di Jepang, tentu saja terutama ibukotanya, Tokyo. Lagi-lagi dikatakannya bahwa kesibukan manusia di Jepang berkali lipat daripada Indonesia. Apa yang saya saksikan? Jalan protokol ibu kota hanya dilalui oleh kendaraan yang jumlahnya tidak sepadat Jakarta. Tak ada kata ‘padat merayap’.
Meski begitu, kesibukan di Tokyo tetap ada. Warga memang sangat sibuk. Kesibukannya tak tergambar dengan padatnya kendaraan yang “melata” di jalan raya melainkan di alat transportasi umum, stasiun kereta, atau terminal dan lokasi kerjanya masing-masing.
Tak ada manusia yang sengaja istirahat pada hari-hari atau jam kerja. Mereka bangga dan senang bekerja. Itulah wajarnya jika orang Jepang tak senang mencari-cari tanggal merah di kalender. Jumlah hari liburnya tidak banyak. Indonesia saja masuk urutan kesepuluh negara dengan jumlah hari libur terbanyak di dunia. Belum lagi yang liburnya tiap hari alias menganggur.
Mana manusia sibuk itu?
Saya tak langsung tidur pada malam itu. Saya diajak ke Sibuya saat warna cahaya matahari masih berpengaruh kuat di ufuk. Konon ini mirip Blok M di Jakarta dari segi perbelanjaannya. Entah mengapa saya diajak ke sana. Tadi saya memang merasa ingin tahu pusat keramaian kota. Ternyata ramainya itu saat kita dapat menyaksikan orang-orang yang jumlahnya sangat banyak bergerak bak arus bah ketika keluar ataupun masuk ke dalam commuter line.
Transportasi yang digunakan adalah commuter line, kereta listrik cepat. Saya baru tahu inilah salah satu tanda keramaian kota. Manusia yang beraktivitas dengan kesibukan masing-masing terlihat di setiap jalur menuju atau dari transportasi umum. Suasana jalur keluar dari kereta bak orang yang baru saja beranjak dari lapangan Salat Id. Sangat ramai. Itu terjadi sepanjang hari.
Saya memang mengambil indikator keramaian kendaraan di jalan raya. Macet berarti sibuk. Banyak pengguna jalanan. Itulah kesalahan saya membayangkan sebuah kota, padahal pelajaran di Program Studi Ilmu Lingkungan menjelaskan karakteristik kota bukan pada kesibukan jalan rayanya. Saya lupa itu. Bahkan saya lupa juga tentang filosofi kota.
Tokyo dirancang untuk dihuni para pengguna transportasi umum. Artinya, koneksivitas antartitik di kota ini tersedia meskipun untuk jarak dekat. Kereta cukup meluncur selama satu atau paling lama tiga menit penggunanya sudah tiba di stasiun tujuan. Semuanya terjadi di subway, jalur dalam tanah.
Warga tak perlu moda transportasi sejenis ojek, mikrolet atau pete-pete untuk bisa sampai ke stasiun. Tak perlu terlalu jauh berjalan untuk sampai ke stasiun dalam tanah itu.
Sesampai di stasiun para pengguna hanya perlu menempelkan kartu yang telah diisi uang elektronik untuk menyewa kendaraan tersebut. Tak ada antrian yang panjang. Kalaupun ada antrian itu sangat teratur dan lancar sebab setiap orang yang baru datang akan menuju ke belakang orang yang berdiri paling belakang, bukan mencari celah di urutan paling depan atau di sela barisan. Tertib! Harga kartunya terjangkau masyarakat segala lapisan.
Pengguna asing dapat menggunakan kartu sekali pakai yang sudah disediakan. Harganya juga terjangkau dan dapat dilakukan swalayan di mesin konter yang tersedia di sekitar pintu masuk stasiun. Penukaran koin sudah terpadu dalam kerja mesin itu. Koin-koin Yen dapat diperoleh dengan mudah untuk membeli selembar tiket sekali pakai. Pengguna yang bingung akan segera didatangi oleh petugas untuk memberi bantuan. Takkan ada orang yang tersesat kecuali sangat sedikit, itu pun pasti dapat bantuan petugas. Selain itu bagi yang pintar membaca dapat terbantu dengan buku manual perjalanan yang disediakan di sekitar pintu.
Warga tidak bangga bepergian dengan kendaraan pribadi. Tak ada pamer merk kendaraan di kota ini. Antrian sesak di persimpangan jalan raya tak terjadi. Hanya dalam paling lama dua menit semua pejalan kaki sudah menyeberang dan kendaraan bermotor pun sudah bisa melintas. Pengendara sepeda motor tidak akan merasa seperti berada di dalam ruangan sauna, kegerahan atau kepanasan.
Mereka tidak memilih kendaraan pribadi bukan hanya karena pajaknya sangat tinggi, beratnya biaya pemeliharaan kendaraan, atau karena faktor biaya parkiran melainkan karena transportasi umum tersedia ke semua titik, lekas datangnya sehingga tak perlu menunggu lama, cepat jalannya sehingga tak perlu khawatir telat. Moda transportasinya juga aman, nyaman, dan murah.
Seorang bertampang Melayu saya dekati. “Anda dari Indonesia?” tanyanya. Saya iyakan. Lalu kami berbincang ringan. Saya sampaikan bahwa di sini semua tertib dan disiplin. Tempat ramai seperti ini mereka sudah bisa membuang sampah sesuai jenis sampahnya. Saya katakan kepada kawan orang Indonesia itu bahwa di negeri kita jangankan diminta untuk turut membuang sampah sesuai pengelompokannya yang rumit itu, membuang sampah ke tong sampah yang hanya satu untuk semua jenis sampah itu saja demikian sulitnya. Pengelompokan sampah di Tokyo paling sedikit sembilan macam. Ada yang sampai berjumlah empat belas macam.
Anda tak perlu terganggu asap rokok di tempat umum. Perokok akan menikmati sendiri rokoknya di ruangan khusus. Lalu, tentu saja akan membuang puntung rokoknya di tempat yang disediakan tanpa menyisakan abu rokok di lantai. Lain dengan prokok di tempat lain yang hanya nyaman menghisap rokok setelah berada di sekitar orang lain.
Kata orang Indonesia itu bahwa siapa pun yang datang ke Tokyo akan secara otomatis ikut kebiasaan mereka, tertib, disiplin, dan peduli. Anda tiba-tiba akan pandai mengantri, mendahulukan orang yang turun dari kendaraan umum terlebih dahulu, tidak berdesakan dan berlomba menaiki kendaraan umum, sabar untuk membuang sampah sesuai kelompoknya, dan peduli untuk memberikan prioritas terhadap orang berkebutuhan khusus.
Kota di Arab disebut madinah. Kota merupakan tempat menerapkan tata laku beradab. Lawannya adalah kampungan. Kampungan di antaranya tidak tertib, sembrono, semrawut, jorok, tidak peduli, dan sebagainya. Bukan karena ramainya kendaraan bermotor di jalan raya sehingga suatu tempat dapat disebut kota. Ia akan disebut kota kalau kehidupan beradab dapat terwujud di sana.
Berepradaban berarti mengota. Tamaddun atau peradaban seakar kata dengan madinah atau kota. Sekali lagi, kota bukan keramaian. Kota adalah pusat kehidupan beradab. Kota adalah kota.
Kredit gambar: https://m.tribunnews.com/

Lahir di Kasambang, Sulbar, 19 April 1973. Doktor Interdisipliner Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Bekerja sebagai dosen, peneliti, dan penulis. Mengajar di Universitas Cokroaminoto Makassar, Universitas Paramadina Jakarta, Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta. Anggota Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) dan Indonesia Environmental Scientists Association (IESA). Koordinator Riset ICC Jakarta. Terakhir, Dosen Universitas Nasional, Direktur Eksekutif Poros Pemikiran dan Partisipasi Publik Indonesia (P4I).


Leave a Reply