Kontekstualisasi Rukun Iman sebagai Prinsip Kehidupan

Saya mengamati lalu merenungkannya, ternyata kehidupan yang dijalani ada pula seperti yang dialami Adam-Hawa di surga, kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakannya masih saja diwarnai dengan godaan.

Saya menggunakan diksi “ada pula” karena tidak semua manusia dalam kehidupan ini yang merasakan kenikmatan dan kebahagiaan, ada juga yang hidupnya sejak awal penuh cobaan dan penderitaan.

Saya memulai dengan hasil pengamatan dan renungan di atas karena manusia dalam menjalani kehidupannya, baik dalam ruang-ruang kesuksesan dan/atau kebahagiaan, dinamika yang positif, produktif dan konstruktif, itu tidak terbebas dari godaan-godaan dan rintangan yang senantiasa mengiringinya. Meskipun berbeda dengan Adam-Hawa, yang godaannya dipastikan hanya bersifat eksternal (dari luar, dalam hal ini iblis), manusia hari ini, godaan dan rintangannya tidak hanya bersifat eksternal tetapi termasuk yang bersifat internal (baca: nafsu, ego, kepentingan sesaat dan duniawi, dan/atau kecendurangan lainnya).

Godaan dan rintangan eksternal bagi kehidupan manusia hari ini, tidak selamanya dari iblis yang posisinya telah ditegaskan sebagai makhluk lain selain manusia. Hal eksternal yang dimaksud di sini, termasuk pula dari manusia lainnya (baca: orang lain)—untuk hal ini, waktu masih sekolah, saya sering menyebut dan mengistilahkannya “setan nyata”.

Manusia yang sejak awal kehidupannya penuh cobaan, penderitaan dan godaan, lalu masih mampu bertahan untuk tetap berjalan di atas rel kebenaran, kebaikan, etika, kepatutan dan kepantasan berdasarkan ajaran dan nilai-nilai universal—terutama  yang bersumber dari agama—berarti dirinya adalah manusia mulia, berintegritas, dan pantas dijadikan suri teladan. Sebaliknya, yang penuh kesuksesan dan kebahagiaan, kemudian dirinya tidak mampu bertahan, justru terseret dalam arus godaan dan rintangan negatif-destruktif, maka dirinya akan menjadi hina.

Dalam kehidupan ini, kita tidak kesulitan menemukan fakta empiris terkait kehidupan manusia dengan dua model di atas—yang tetap “mulia”, dan yang akhirnya menjadi “hina”. Ada yang awalnya mencapai kesuksesan dengan jabatan yang luar biasa, dan akhirnya dalam perjalanannya bermuara pada lumpur kehinaan karena tidak mampu menahan godaan yang lebih menggiurkan dan memesona.

Tidak sedikit pula, dengan jabatan, dirinya menjalani mekanisme operasional dalam relasi kuasa sehingga antara dirinya dengan orang lain berada dalam posisi ketimpangan. Dirinya sampai ke puncak superioritas sedangkan orang lain ditempatkan dan mengalami inferioritas. Orang lain mengalami subordinasi.

Selain godaan, baik bersifat internal maupun eksternal yang sering kali pula menyeret kita ke lumpur kehinaan, ada pula rintangan yang berwujud “ancaman”, yang berpotensi membuat diri kita hina meskipun tetap berada dalam ruang kesuksesan tetapi tanpa kebahagiaan. Model “ancaman” yang seperti itu menggunakan pula mekanisme relasi-kuasa.

Dalam dua bagian besar model kehidupan yang dijalani manusia di atas, agar tetap berada dalam ruang kesuksesan dan kebahagaiaan serta tidak berakhir dengan kehinaan. Begitu pun yang menjalani cobaan dan penderitaan hidup agar tetap mampu menjaga kemuliaan dirinya, tidak terpengaruh oleh godaan yang akan menyeretnya dalam kehinaan, dan kekufuran, maka dibutuhkan dalam diri selaku manusia satu hal mendasar sebagai modal utama—sejenis mekanisme psikologis—yang disebut dengan “prinsip”.

Prinsip mengandung pedoman yang beroperasi di dalam mental dan/atau jiwa manusia. Prinsip mengandung tuntunan yang akan senantiasa menjadi penggerak sekaligus pengendali diri setiap manusia yang memilikinya agar tetap dalam koridor atau rel yang relevan dengan nilai dan makna yang melekat dalam prinsip yang dimilikinya.

Prinsip yang terpatri dalam diri setiap manuia memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap dirinya. Prinsip akan memercikkan semangat bahkan keberanian dalam menghadapi badai sekali pun. Yang pasti prinsip yang kukuh akan mampu menjadi benteng yang kuat menghadapi berbagai rintangan, cobaan, godaan, dan ancaman. Bahkan, prinsip dalam kondisi tertentu rela mengorbankan yang paling berharga pada diri sang pemiliknya demi mewujudkan “suara” dan/atau “dorongan” yang terpancar dari prinsip.

Ary Ginanjar Agustian menegaskan bahwa “Setiap orang terbentuk sesuai dengan prinsip yang dianutnya”. Ketika Ary Ginajar pun mengungkapkan tentang prinsip, “Hasilnya bisa dipandang hebat, mengerikan, bahkan menyedihkan”, dan saya tambahkan bisa pula membahagiakan, dan memuliakan. Termasuk menenangkan hati, jika prinsipnya itu mengandung nilai dan makna kebenaran, kebaikan, dan kepatutan.  

Orang Jepang jika gagal dalam memimpin suatu operasi tertentu, kalah dalam peperangan dan/atau gagal menjalankan amanah dengan baik, maka tidak sedikit di antara mereka rela bunuh diri dengan menusukkan pedang Katana ke perutnya. Ini adalah salah satu pengaruh kuat dari “prinsip” yang dimiliki orang Jepang.

“Merdeka atau Mati” adalah satu jenis prinsip yang dimiliki oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia sehingga memiliki keberanian luar biasa di balik kekurangan dan keterbatasan persenjataan yang dimiliki. Tentunya prinsip ini, yang membuat setiap personal para pejuang atau pahlawan Indonesia sehingga berhasil mengantarkan bangsa ini menjadi negara yang merdeka.

Namun, kita pun perlu mengetahui dan memahami bahwa tidak semua prinsip mengarah pada sesuatu yang positif, konstruktif, dan produktif bagi semua orang. Ada pula yang sebaliknya, negatif dan destruktif. Prinsip yang muncul pada saat krisis ekonomi, dan sering pula ditemui dalam konteks politik adalah “Tidak ada persahabatan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Ada juga prinsip “Tidak ada makan siang gratis”. Bagi saya ini adalah dua contoh prinsip yang negatif dan destruktif.

Ada prinsip “Ubber Alles” atau ras tertinggi. Begitu pun yang diungkapkan oleh Ary Ginanjar ada prinsip yang disebut Biefl its Biefl atau perintah adalah perintah. Prinsip yang kedua ini dikumandankan oleh Jenderal Besar Nazi dan dipegang teguh oleh tentang Nazi Jerman di dalam Perang Dunia II.

Ada prinsip “tiba masa tiba akal”, ada pula “waktu adalah uang”. Dalam konteks budaya Bugis Makassar ada prinsip “Siri’ na pacce”, yang secara substansial menanamkan atau mengandung sikap dan tindakan tunduk, patuh, malu, dan bertanggungjawab terhadap misi pengembaraan.

Prinsip-prinsip yang negatif, destruktif dan tidak bertahan lama itu, biasanya karena tidak memiliki basis yang kuat atau merupakan prinsip yang memang rapuh. Bersyukurlah bagi umat Islam, khususnya yang telah memahaminya, bahwa ternyata dalam ajaran agama Islam ada sesuatu yang bisa menjadi prinsip—jika dikontekstualisasi atau makna dan nilainya diderivasi—yang kukuh. Atau minimal dimaknai sebagai basis nilai prinsip yang kukuh.

Dalam agama Islam dikenal tiga dimensi agama: iman, Islam, dan ihsan. Yang dipandang bisa—jika mengikuti dan memahami dengan baik rumusan atau konsepsi ESQ Ary Ginanjar—sebagai basis nilai dan/atau pun sebagai prinsip itu sendiri yang sangat kukuh adalah “Rukun iman, yang terdiri atas enam”.  

Hanya saja rukun iman maupun rukun Islam, selama ini oleh kebanyakan umat Islam hanya dipahami secara eksoterik jika relasinya dengan konteks kehidupan duniawi, bahan hafalan semata atau hanya pengetahuan biasa. Jika pun dipahami secara esoterik, itu hanya menyentuh dimensi ukhrawi atau transendensi. Tidak dikontekstualisasi. Tidak “dibumikan” sebagaimana harapan secara umum Quraish Shihab terhadap al-Qur’an, tentunya termasuk seluruh ajaran Islam.

Padahal agama, dalam hal ini ajaran dan nilai agama hanya akan nyata jika melewati perjalanan sejarah kehidupan manusia. Sebagaimana ditegaskan M. Amin Abdullah, agama menganduang dua sisi: normativitas dan historitas. Ahmad Norma Permata pun menegaskan agama mengandung mekanisme institusionalisasi, “Agama sebagai sebuah nilai tidak pernah semata konseptual. Melainkan Agama selalu merupakan upaya untuk mengubah kondisi atau untuk membangun kehidupan”.

Di sinilah relevansi dan signifikansi upaya untuk mengontekstualisasi rukun iman sebagai prinsip kehidupan. Lalu, apa dan bagaimana caranya?

Sebagaimana hadits yang dikenal sebagai “hadits Jibril” menegaskan rukun Iman itu ada enam: iman kepada Allah; iman kepada malaikat; iman kepada kitab-kitab; iman kepada rasul; iman kepada hari kiamat; dan iman kepada qada dan qadar. Upaya mengontekstualisasi rukun iman sebagai prinsip kehidupan, saya memahaminya dengan baik dari Ary Ginanjar. Meskipun, dalam tulisan ini saya sedikit memparafrase dan mempresentasikan dengan bahasa yang lebih mudah dan/atau lebih singkat.

Iman kepada Allah bukan hanya berisi tuntunan sekaligus tuntutan untuk percaya bahwa Dia memang ada. Melampaui dari itu mengandung tuntunan bahwa kita harus percaya Allah dalam menjalani bidang apa pun dalam kehidupan ini. Menurut Dr. Muhammad Nursamad Kamba (2018) ini disebut “iman yang aktif” sejajar dengan penyerahan diri yang ditemukan dalam makna Islam.

Iman kepada Allah bukan sekadar mampu menjawab “man rabbuka” tetapi harus mampu memahami dan mengimplementasikan dalam kehidupan pertanyaan atau yang menurut Asep Zaenal Ausop adalah pertanyaan yang berbentuk question tag “alastu birabbikum”. Ini mengandung komitmen ilahiah antara ruh kita dengan Allah sebelum ditiupkan ke dalam janin diri kita.

Ketika orang Bugis-Makassar menunjukkan keberaniannya dalam setiap peperangan dan perjuangan sering kali terlontar “Tidak akan jatuh sehelai rambut dan/atau tidak akan mengalir setetes darah pun tanpa se-izin Allah”. Ini adalah wujud nyata dari kontekstualisasi iman kepada Allah sebagai prinsip hidup.

Ketika saya menerjemahkan ulang misi mulia pertama manusia “beribadah” dalam makna “rida Allah”, kemudian membarengi atau mengawali setiap aktvitas dengan pertanyaan “Apakah ini diridai Allah”. Ini juga bisa menjadi prinsip yang berbasis pada iman kepada Allah.

Iman kepada malaikat, tentunya bukan hanya sekadar percaya ada malaikat lalu menghafal nama-nama dan tugasnya. Idealnya iman kepada malaikat, harus meneladani kinerja malaikat dalam hal kejujuran dan ketaatannya kepada Allah. Kinerja malaikat sesungguhnya mencerminkan spirit ihsan yang seharusnya diimplementasikan oleh manusia di muka bumi ini.

Iman kepada kitab-kitab. Tentunya bukan hanya memahami isinya, tetapi dari Ary Ginanjar kita mendapatkan pencerahan bahwa semestinya itu mengajarkan prinsip pembelajaran yang paling ideal. Kitab adalah sesuatu yang harus dipelajari dan dipahami. Apatah lagi untuk al-Qur’an surah pertama yang diturunkan adalah perintah iqra, yang substansinya mengandung prinsip pembelajaran, spirit literasi.

Iman kepada rasul. Sebagaimana yang saya pahami dengan baik dari Ary Ginanjar adalah mengajarkan prinsip kepemimpinan yang ideal. Dari para rasul kita bisa menemukan karakter dan sifat-sifat kepemimpinan yang sangat ideal dan seharusnya dijadikan sebagai panutan bagi para pemimpin hari ini.

Iman kepada hari kiamat. Mengajarkan prinsip agar hidup, orientasi hidup atau segala aktivitas duniawi kita, jangan hanya dimuarakan kepada kepentingan material dan duniawi. Setelah kehdiupan dunia, ada kehidupan akhirat. Menuju kehidupan akhirat, tentunya tempat terbaik untuk mempersiapkan bekal menuju ke sana (baca: akhirat) adalah di dunia. Berbicara tentang akhirat, setiap manusia pasti tujuan dan harapannya adalah surga. Kita semua sudah memahami bekal apa yang pantas yang bisa menjadi tiket untuk ke surga.

Selain itu iman kepada hari kiamat dalam konteks duniawi mengajarkan tentang prinsi masa depan. Jika segala sikap, tindakan dan orientasi kita diarahkan kepada masa depan, maka bisa dipastikan akan ikut semangat untuk memelihara kehidupan. Mencegah keserakahan, dan target-target jangka pendek.

Iman kepada qada dan qadar, menurut Ary Ginanjar  mengandung prinsip keteraturan. Ada kesadaran akan pentingnya proses. Pilihan sikap dan tindakan instan menjadi antitesis dari iman kepada qada dan qadar.

Implementasi dari iman ini melahirkan pemahaman dan kesadaran akan kepastian hukum alam. Begitu pun tentang hak prerogatif Allah.

Kredit gambar: tuanartikel.blogspot.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *