Pada tulisan sebelumnya, saya sudah membahas tentang “Konsep Diri”, yaitu cara pandang kita terhadap diri sendiri, yang terdiri atas konsep diri negatif dan positif. Lalu, kalau cara pandang kita terhadap orang lain, bagaimana?
Ada banyak istilah terkait dengan cara pandang terhadap orang lain, di antaranya adalah persepsi. Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya yang berjudul, Psikologi Komunikasi, mendefinisikan persepsi sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Jikalau kita membingkai sesuatu dari aspek negatif dan positif, maka kesimpulan dan tafsiran pun pada definisi persepsi akan seperti itu, sehingga persepsi kemungkinannya bisa menjadi negatif atau positif.
Kita mulai dari persepsi negatif. Saya jadi teringat dengan salah seorang pasien yang sangat sering memiliki persepsi negatif terhadap orang lain. Hampir semua perlakuan orang kepadanya dipersoalkan. Jangankan yang mungkin memang bermaksud kurang baik, perbuatan yang baik sekalipun dipersoalkannya.
Buktinya, ketika seseorang berbuat baik padanya, maka dia pun mempersoalkannya. Kalimat yang paling sering meluncur dari mulutnya, “Pasti ada maunya, kenapa berbuat baik sama saya.” Pernyataan seperti ini, mungkin juga sahabat holistik pernah mendengarnya. Atau, sahabat holistik juga pernah mengucapkannya?
Pada kesempatan lain, ada pasien yang selalu memandang negatif pada orang lain. Saking seringnya disakiti, pasien tersebut memandang, bahwa orang tersebut sudah akan seperti itu seterusnya. Tak ada lagi kebaikan pada dirinya. Semuanya tercatat dalam buku keburukan .
Juga sangat sering saya mendapati, pasien datang dengan beragam keluh kesahnya. Di antara sekian banyak keluh kesahnya, dia merasa orang lain tak pernah mengerti dirinya. Sudah sebegitu banyak pengorbanannya, tapi orang lain tersebut tidak pernah mengerti.
Kalimat yang paling sering keluar dari mulutnya, “Bateku mami bantu, sudah sangat sering membantunya, tapi disaat saya butuh bantuannya, tidak ada sekaaaaali pengertiannya.”
Pasien tersebut merasa sangat tersiksa, sebab ia mau dimengerti, sementara orang lain belum bisa mengerti dirinya. Apakah sahabat holistik juga pernah mengalaminya?
“Mau dimengerti” adalah sebuah pernyataan yang sebetulnya racun kebahagiaan pada sebuah interaksi. Mengapa? Sebab, disadari atau tidak, kita sedang memaksakan kehendak pada orang lain.
Ketika kemauan kita tidak sesuai dengan kenyataannya, maka kita pun menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak pernah mau mengerti. Lalu , bagaimana seharusnya?
Tiga kasus di atas menjadi contoh seperti apa kita mempersepsi orang lain. Yang kalau disimpulkan, maka semuanya adalah negatif.
Sebagai manusia berakal sehat, tentu saja mau berubah, dari yang negatif menuju positif. Lalu, apa yang mesti dilakukan dan dari mana memulainya? Beberapa hal yang bisa dilakuka , di antarany:
1. Menyadari, bahwa persepsi negatif kepada orang lain adalah sesuatu yang kurang baik dan tidak produktif. Al Quran sudah mengisyaratkan pada surah al Hujurat ayat 12, yang artinya: “Hai orang yang beriman, hindarilah prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa.”
2. Jika persepsi negatif kita bersumber dari informasi orang lain, maka sebaiknya memperhatikan al Quran surah al Hujurat ayat 49, artinya: “Hai orang yang beriman, jika orang fasik membawa berita kepadamu, periksalah kebenarannya.” Dari ayat ini, kita diminta untuk cek and ricek , dan tidak menelan mentah mentah sebuah informasi. Harus ada fakta dan bukti yang menguatkan informasi tersebut.
3. Untuk kasus mau dimengerti, maka sebaiknya diganti dengan selalu mengerti orang lain. Sampai kapan? SETERUSNYA, selama kita masih hidup. Ada yang protes? Masih ingat hukum energi? Salah satu hukum energi adalah energi akan menarik yang sejenis. Ketika kita selalu mengerti orang lain, maka orang pun akan mengerti kita. Jadi, lakukan saja sikap mengerti tersebut, tanpa berharap juga mau dimengerti. Kalau sudah mengerti dan juga belum dimengerti, bisa jadi ada sesuatu yang keliru, dan sebaiknya kembali ke pasal 1 Undang Undang kebahagiaan Pammase Puang Holistik Center, yaitu terima dan senyumi.
4. Berpikir proses. Di samping memandang diri sendiri dalam bingkai berproses, juga orang lain dalam bingkai berproses. Bahwa orang tersebut tidak akan selamanya seperti itu, sebab hidup ini dinamis. Setiap orang punya potensi untuk selalu menjadi lebih baik. Sepanjang masih hidup, maka siapa pun itu, memiliki kemampuan untuk berubah, termasuk orang yang kita persepsi negatif.
5. Menyadari efek dari persepsi negatif. Bahwa hal tersebut akan mengganggu ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan, dan pada akhirnya akan mengganggu kesehatan, khususnya pada potensi penyakit penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, jantung, kanker, sirosis hati, dan lainnya.
6. Beristighfar. Istighfar di sini bukan berhubungan dengan pengampunan dosa dan pertobatan, melainkan lebih kepada upaya memblokir berlanjutnya persepsi negatif. Dengan istighfar, maka persepsi negatif akan bisa terkendali. Ibarat sebuah kendaraan, istighfar ini berfungsi sebagai rem.
7. Gunakan kata MUNGKIN. Kata mungkin akan sangat membantu mengalihkan dari persepsi negatif ke positif. Misalnya, ketika kita sudah sangat sering membantu si A, dan suatu ketika kita pun membutuhkan bantuannya, tapi belum memberikan bantuan, maka kita pun berkata, “MUNGKIN saat ini belum bisa membantu.” Begitu pun di saat berpapasan dengan orang lain, kemudian kita tersenyum dan dia belum membalas senyuman kita, dan sempat terbersit di pikiran, bahwa orang tersebut sudah sombong, maka gunakan kata mungkin, sehingga kita pun akan berkata, “MUNGKIN dia kurang fokus, MUNGKIN ada yang mengganggu pikirannya, sehingga belum membalas senyumanku.”
Dari uraian tersebut, kembali saya mengajak semuanya, untuk selalu melatih persepsi kita. Kenapa? Sebab, semuanya bermula dari latihan dan pembiasaan. Jikalau sudah terlatih dan terbiasa, maka persepsi positiflah yang akan menguat, sehingga memberikan respon yang positif pula. Semuanya dalam bingkai berproses, dan mari menjalani proses tersebut dengan slogan, “Selalu ada jalan”.
Kredit gambar: detikcom

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply