Kitab kuno Cina termaktub di dalamnya, bahwa “cantik itu kutukan”, karena para selir digilir atas hasil seleksi tercantik, akan menjadi bagian dari rias syahwat sang raja dinasti di zamannya.
Lalu, Eka Kurniawan menggugahku kemudian, dengan judul bukunya, Cantik itu Luka. Dan cinta itu bisa menjadi menderamu dari luka di atas luka. Begitu pula kebaikan yang memicingmu setiap kedipan dan busur-busur kebencian dari setiap sudut pandang setiap nilai.
Apa maksud dari “kutukan?” Dia bagian dari riasan ungkapan yang menberi penanda dan rambu-rambu. Untuk tidak berlebihan, bukan pula memilah-milih, atau pencitraan untuk merasakan cinta dan kebajikan itu. Hanya saja kudu mulai waspada dan bersiap mengelus dada. Di sanalah kutukan itu hadir tatkala selera dan kebajikan, cinta menjadi terabaikan.
Segala cinta, kebajikan yang pernah kau semai, lalu hanya belati menancap di ulu hati, tanpa kau tahu dan tidak perlu kau cari tahu apatah lagi klarifikasi. Sebab tidak semua kebajikanmu akan berbuah manis nan indah. Tetapi bersiaplah teriris rasa yang miris.
Teringat pesan ibu di suatu malam menutur, “Teako sanna dudui sikalljui, tea tongko sanna baji dudui, passitiba-tabami pangngainnu. Kanasaba sikiddia biasa ammangraki puara.” Maknanya, jangan berlebihan, dalam kedekatan dan berbuat kebajikan, jangan pula berlebihan rasa suka dan cintamu, sebab kelak hal kecillah bisa menjadi malapetaka.
Kemudian “kutukan” itu pun terjadi. Menjadi tragedi tanpa gladi, berbuah kebencian tak terlerai oleh hanya dengan klarifikasi, antara defenisi dan alibi, apa pun pembenaran, tatkala cinta dan kebajikan telah punah oleh kasualitas (sebab akibat) yang tidak berkualitas.
Ini banyak terjadi, ada di antara sudut-sudut kehidupan, kelompok, sanak saudara, tetangga yang awalnya harmonis, namun akhirnya miris bin sadis. Mencabik, mencambuki serapah kata, memaki. Hanya karena hal kecil. Kejatuhanmu bukanlah dari batu besar membuatmu tergelincir, tetapi dari batu kecil/pepasir yang akan membuat tersungkur babak belur.
Di suatu sore yang tenang, Aristoteles sedang duduk degan beberapa muridnya di bawah naungan pohon zaitun. Salah satu muridnya, Alexander, yang selalu penuh rasa ingin tahu, mendekatinya dengan sebuah pertanyaan yang telah lama mengusiknya.
Alexander bertanya, “Guru, aku sering mendengar pernyataanmu bahwa cinta terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh. Aku ingin memahami lebih dalam apa yang kau maksudkan dengan itu.”
Aristoteles mencoba mengurai, “Bayangkan dua orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang satu sama lain. Mereka berbagi nilai-nilai, tujuan, dan visi yang sama tentang kehidupan. Mereka saling mendukung dalam setiap langkah, merayakan kegembiraan bersama, dan saling menguatkan dalam kesulitan. Dalam cinta semacam ini, batasan antara ‘aku’ dan ‘kamu’ mulai memudar, dan yang tersisa adalah ‘kita’—satu jiwa dalam dua tubuh.”
Saya berusaha mendeteksi, dan menginterupsi kejanggalan sebagai pemeran cinta sejati dan kebajikan. Tergantung kita, individu, persona menjalaninya bukan karena seolah tahu, paham. Namun, ada rangkaian-rangkaian yang saling mengikat menguatkan dengan sebuah hirarki. Bukan sekadar cemburu, sayang, rindu yang hanya kelak membabatmu, ketika keinginan itu tak terpenuhi berbuah kutukan dari pasanganmu.
Sipakaji tau, tanre napapakkatau, papikatu kale tutu naerang bawang-bawangngamami. Loemi takkaluppa, tanre nasaile mae ri boko. Langjari loko. Maksudnya, sifat manusia, sekadar terpajang tampak bajik, tidak memanusiakan manusia lagi, telah banyak lupa, tanpa menoleh hal kebajikan yang pernah ada sebelumnya. Pecah sebelanga, setitik telah dilupa, padahal di sana telaga pernah diteguk, menjadi memendam rasa, jatuh terjatah di biang-biang “keladi” (biang kerok).
Tetapi tidak terpungkiri, semua telah diukir, tertera pada kriteria, selalu menjadi bagian serunai dan serunya kehidupan, berinteraksi pada setiap penghuni dunia yang kian pandai main belati, dan pura penyuka melati. Demi dan atas nama cinta dan kebajikan pula kutukan itu tersemat balasan luka perih, pedih harus ditelan.
Tipu-tipu terlihat cupu, padahal suhu dalam membakar suluh berbuah kisruh bin ricuh. Rannumi intu, nata’muri ilalang loko atingna se’rea kabajikang nibalasa sassa lalang. Artinya,ada kebahagaiaan dan kepuasaan bagi mereka, tersenyum di balik luka terdera di hati dari sebuah kebajikan terbalas tunai kekecewaan.
Sudahlah. Biarlah menjadi deretan yang akan membuatmu lebih tahu diri. Bahwa cinta dan kebajikan tidak harus kau ingat, melupakan dan merelakan adalah cara menguatkan, walau itu butuh proses untuk menerimanya.
Ibuku membaca air muka peradaban kemanusiaan terlihat makin kehilangan “sikamaseang, tallang sitallangngang, manyu’ manyu tonjako mange”. (saling mengasihi, saling menenggelamkan, membiarkan hanyut tanpa peduli). Semakin ke sini terlihat sesuai selera, semau-maunya. Ya. Seperti saya merasa memaksakan, memajang berwibawa tetapi saya terjungkal pula di rawa-rawa.
Ada apa dengan cinta? Wow. Ini bukan Rangga dengan mantra kata dan puisi, membuat kebencian seorang perempuan bernama cinta mengubahnya menjadi cinta! Lakon ini sebagai pengutip saja. Tetapi cinta sesungguhnya adalah merelakan. Bukan memaksakan, atau merasa paling romantis tetapi terilis dengan miris bin sadis.
Ini fenomena dan nomena. Kencana menuju kebahagiaan menjadi bencana di antara sanak, saudara, teman, kekasih, dan sahabat. Semua telah sirna dalam mengarang dan memanggang sesamanya. Menjadi pelupa, tetiba dan hendak menjadi benang dan jarum menjahit sebuah luka menganga. Dengan atas cinta dan kebajikan yang kini telah terlanjur menjadi kebencian.
Manusia pilihan yang paripurna pun terdera kebencian dan kutukan. Namun, Sang Nabi yang santun penuh cinta kasih, dan telah dikasihi Allah tersemat padanya sifat terpuji (Muhammad saw), memberikan segalanya, atas apa dan bagaimana cinta dan kebajikan dia tuai dan tunaikan dengan “tersenyumlah terhadap pembencimu.” Bahkan yang mengkhianatimu. Betapa mulia, begitu indah, begitu adem, damai cara Sang Nabi menjadi rahmatan kemanusiaan lil alamin.
Lalu kutemukan dan disematkan pada sebuah dalil, “ Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu , berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu,” Lukas 10:32-37.
Kredit gambar: Popbela.com

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Ranca Cancel reply