Terapi atas Kemelekatan

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul, “Antara Cinta dan Melekat”, sudah diulas perbedaannya, yaitu cinta akan selalu membuahkan kebahagiaan,  sementara melekat akan melahirkan penderitaan.

Sebagai manusia yang fitrahnya selalu mengacu kepada kebahagiaan, maka penderitaan tentu saja sesuatu yang harus dihindari dan butuh terapi atas kemelekatan tersebut.

Sebelum mengulas terapinya, akan saya ulas dulu efek dari kemelekatan, yaitu kesedihan. Kesedihan yang dialami memiliki efek, pertama, produktivitas terganggu. Ada banyak hal yang sudah seharusnya kita lakukan, kita selesaikan, tapi karena larut dengan kesedihan,  maka hal tersebut tidak terwujud, atau setidaknya tertunda.

Kedua, emosi menjadi labil. Ketika bersedih, maka akan membuat terganggunya emosi yang lain dan akan mengundang emosi negatif berikutnya, seperti jengkel, uring-uringan, kecewa, gelisah, merasa bersalah, dan lainnya.

Ketiga, merusak sel. Berdasarkan penelitian,  bukan hanya marah yang akan merusak sel. Perasaan sedih pun akan merusak sel dan pada akhirnya sel-sel akan mati.

Keempat, memengaruhi kesehatan paru paru. Berdasarkan penelitian, perasaan sedih akan memengaruhi kesehatan paru paru. Dan, sebagai terapis,  saya sudah membuktikannya. Saya sangat sering menemukan orang yang menderita penyakit asma, infeksi paru-paru, radang paru-paru,  setelah saya telusuri emosinya, aspek kesedihanlah yang sangat dominan

Kelima, memicu penyakit kanker. Sedih berkepanjangan,  apatah lagi jika disertai dengan perasaan bersalah dan tidak berdamai dengan kenyataan, berdasarkan penelitian akan memicu penyakit kanker. Saya juga sudah membuktikannya pada pasien pasien yang menderita kanker.

Keenam, mudah kemasukan jin. Pada saat seseorang bersedih, maka psikisnya terganggu. Akibatnya, jin akan dengan mudahnya memasuki pikiran dan perasaan seseorang. 

Melihat enam efek sedih di atas, tentu saja membuat kita berupaya untuk menghindarinya. Menghindari kesedihan bermula dari menghindari kemelekatan. Kemelekatan dapat dihindari dengan cara:

1. Menerima, bahwa semuanya hanyalah kondisi saja yang bersifat netral. Cara pandanglah yang membuat kondisi netral tersebut, menjadi masalah atau justru anugerah. Menjadi masalah ketika sudut pandangnya negatif, dan ketika sudut pandang positif, maka justru menjadi anugerah

2. Menjalani dengan pikiran positif. Sebagai contoh orang yang kehilangan karena meninggal akibat sakit. Ditanamkan bahwa, itu adalah hal terbaik, sebab Allah Swt. lebih tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Tidak mungkinlah Allah menzalimi hamba-Nya. Keberpisahan tersebut sekaligus menegaskan ketidakmampuan seorang hamba, untuk menentukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya.

Begitu pun di saat berpisah karena menuntut ilmu, maka harus ditanamkan, bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kebaikan, kebaikan untuk sang anak sekaligus kebaikan untuk orang tuanya. Di samping itu, juga untuk masa depan sang anak. Tentu saja tulisan ini akan menjadi sangat panjang, jikalau  harus mengungkap pikiran positif atas sebuah kondisi.

3. Ketika psikis kembali terganggu, maka lakukan istighfar dan senyuman. Istighfar bermanfaat untuk memblokir dan mengendalikan pikiran-pikiran negatif, sedangkan senyuman  bermanfaat untuk menggeser emosi negatif.

4. Untuk mempercepat lepasnya kemelekatan,  maka bisa dilakukan dengan setiap saat, hadirkan dan bayangkan barang/orang yang sudah berpisah dengan kita, kemudian senyumi. Saya sudah membuktikan hal ini. Dulu, ketika saya ingat kedua orang tua yang sudah berpulang ke Rahmatullah,  saya sangat bersedih, karena sangat melekat. Alhamdulillah, terapi ini saya lakukan, tidak lagi melekat dan  kesedihan itu sudah tidak ada lagi. Saya juga merekomendasikan ke orang lain, alhamdulillah juga berhasil.

5. Mengamalkan zikir Bismikallahumma. Ini  bermanfaat untuk menghalangi pengaruh jin/iblis yang senantiasa memengaruhi/membisikkan/memprovokasi, agar selalu melekat pada sesuatu/seseorang. Berdasarkan riwayat, bacaan Bismikallahumma, atas izin dan kehendak Allah Swt.,  maka jin yang berada pada diri seseorang akan keluar meninggalkan dirinya.

Sementara untuk menangani kesedihan,  dapat dilakukan dengan (1) memperbanyak istighfar,  khususnya ketika kondisi kemelekatan tersebut muncul lagi dan melahirkan kesedihan (2) mengamalkan bacaan Bismikallahumma (3) berdoa agar Allah Swt. mengangkat kesedihan yang sedang dirasakan (4) memperkuat iman dan Memperbanyak amal saleh (5) cari hiburan (6) silaturrahmi, baik mengunjungi secara langsung, maupun dengan media telpon atau WA (7) menghadiri majelis ilmu (8) menyadari efek dari kesedihan (9) mendongak kemudian hadirkan dan bayangkan apapun yang membuat bersedih,  kemudian senyumi.

Demikian sahabat holistik , semoga bermanfaat agar bisa lepas dari kemelekatan dan kesedihan. Sebab, di samping terlarang oleh agama, efek kesedihan yang bermula dari kemelekatan akan sangat memengaruhi kesehatan holistik kita.

Kredit gambar: https://id.pngtree.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *