Penyapu Jalanan dan Pandangan Dunia Kemuliaan

Pada masyarakat menengah ke bawah, profesi dan status yang digandengkan dengan kata jalanan dianggap negatif, hina dan rendah. Misalnya istilah anak jalanan, setan jalanan, dan penyapu jalanan. Buktinya, mereka yang berprofesi sebagai penyapu jalanan tidak dihargai dengan penghargaan yang tinggi, baik dari segi finansial maupun dari sudut status sosial.

Mereka dianggap orang pinggiran. Padahal, apa yang dilakukakan oleh penyapu jalanan sangat menyenangkan mata lahir seluruh orang dan juga dapat  memelihara kesehatan masyarakat. Penyapu jalanan membuat sisi jalanan besih, rapi dan indah, nyaman dipandang mata. Jika demikian halnya, maka sejatinya penyapu jalanan dihargai dan dimuliakan, baik secara material, dan sosial-masyarakat.

Menurut penulis, anggapan negatif, hina dan rendah kepada penyapu jalanan, tidak lepas dari pandangan dunia kemuliaan seseorang. Seseorang yang menjadikan materi sebagai pandangan dunia kemuliaannya, maka pasti ia melihat sebelah mata penyapu jalanan.

Demikian pula, dengan orang yang pandangan dunia kemuliaannya adalah jabatan tinggi dan status sosial, maka ia juga pasti meremehkan penyapu jalanan. Bahkan penulis ingin tegaskan, bahwa penyapu jalanan di mata kedua pandangan dunia tersebut, tidak jarang dianggap sebagai sampah masyarakat. Aneh bukan? Betapa anehnya pandangan dunia kemuliaan berlandaskan materi, jabatan, dan status sosial.

Sungguh, penyapu jalanan hanya dipandang positif dan dimuliakan oleh manusia, yang menjadikan religius-spiritual transendental ilahiah, sebagai pandangan dunia kemuliaannya. Dengan perkataan lain, menjadi penyapu jalanan adalah profesi yang sangat mulia dan tinggi derajatnya dalam perspektif religius-spiritual ilahiah sebagai pandangan dunia kemuliaan.

Dengan demikian, seorang yang berprofesi penyapu jalanan, sejatinya menjadi penganut paradigma dunia religius-spiritual-transendental ilahiah. Dengan begitu, pandangan negatif, peminggiran, penghinaan, perendahan yang datang dari penganut pandangan dunia kemuliaan materi, jabatan dan status sosial, sama sekali tidak memberikan pengaruh dan bekasan negatif.

Penyapu jalanan yang menganut pandangan dunia kemuliaan religius-spiritual transendental ilahi, hanya akan tersenyum lebar dan manis, dalam menghadapi hinaan, perendahan, dan peminggiran yang dialamatkan kepadanya.

Seorang penyapu jalanan mesti berjuang keras, menegakkan gerakan pembebasan diri dari kotoran pandangan dunia kemuliaan berdasarkan materi, jabatan dan status sosial. Penyapu jalanan wajib menyapu dan membersihkan diri dari kedua pandangan dunia kemuliaan tersebut, karena keduanya merupakan kotoran batin, dengan begitu jalanan batinnya menjadi bercahaya, bersih dan suci, sebagaimana ia telah menyapu kotoran-kotoran lahir di jalanan, hingga jalanan menjadi bersih, rapi, indah, dan menyenangkan.

Penyapu jalanan hendaknya melakukan gerakan suluk spiritual-transendental ilahiah, dengan cara menyapu  berbagai penyakit-penyakit hati. Misalnya dari penyakit kesombongan, keangkuhan, iri hati, hasad, dendam, sifat loba dan kerakusan, kikir, dan penyakit hati lainnya.

Dari sini, penulis memahami, bahwa hakekat makna dari penyapu jalanan, dalam perspektif religius spiritual-transendental ilahiah sebagai pandangan dunia kemuliaan, adalah penyapu jalanan tidak hanya menyapu jalanan lahiriah dan dhahiriah, dari kotoran-kotoran barbau busuk dan menyesakkan hidung yang menghirup dan tidak menyenangkan mata pemandangnya. Namun, lebih fokus pada gerakan menyapu jalanan batin dan kalbunya dari kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit hati, yang menggelapkan dan menzalimi hati atau kalbunya, hingga tidak menjadi hati nurani tetapi menjadi hati dhulmani.

Seorang Gus Dur yang dianggap wali oleh murid-muridnya, sahabat-sahabatnya, para kyai dan ulama langitan, dengan berbagai karamah sebagai pembuktian kewaliaannya. Misalnya persaksian kiyai Aqil Siraj, di mana beliau diajak oleh Gus Dur berjalan-jalan di Masjid Nabawi untuk bertemu dengan seorang wali Allah.

Keduanya pun memasuki Masjid Nabawi, Kiyai Aqil berkata kepada Gus Dur, apakah orang ini yang serban keulamaannya tinggi dan sedang berada di tengah-tengah murid-muridnya, yang Gus maksud sebagai wali Allah. Gus Dur menjawab bukan. Tak lama kemudian, untuk kedua kalinya menunjukkan seseorang kepada Gus Dur yang dia anggap dan duga sebagai wali, namun Gus Dur juga mengatakan bukan.

Tak lama mencari, Gus Dur pun berhenti di depan seseorang yang surbannya kecil dan menampakkan diri sebagai seorang ulama dan kyai. Gus Dur berkata kepada Aqil, ini orang kita cari. Katakanlah kepadanya bahwa saya ingin didoakan olehnya. Kyai Aqil pun dengan berbahasa Arab memperkenalkan Gus Dur kepada sang wali, sebagai ketua PB NU, yakni organisasi masyarakat Islam terbesar di Asia.

Selanjutnya kiyai Aqil berkata kepada sang Wali, beliau ingin didoakan oleh tuan. Sang wali pun mendoakan Gus Dur. Setelah itu, sang Wali pun pergi, dan berkata kewalian yang kusembunyikan telah disingkap oleh Allah dan telah diketahui orang lain. Dalam sebuah kata hikmah ditegaskan, “Seorang wali tidak akan diketahui kewaliannya kecuali oleh seorang wali juga.” “Laa ya’rifu al-waliy illa al-waliy.”

Konon, murid Gus Dur dan sekaligus sahabat beliau yang bernama Sastro, pernah berziarah ke pusara Gus Dur, seratus hari kewafatan Gus Dur. Sastro bercerita, bahwa setelah ia membacakan doa untuk Gus Dur, dirinya merasakan kehadiran Gus Dur di hadapanku. Gus Dur kemudian berkata tak usah berziarah kepadaku, biarlah aku yang mendatangimu. Kata Sastro, Gus Dur memerintahkan dirinya agar menjadi penyapu jalanan.

Setelah aku meninggalkan pusara Gus Dur, aku menemui beberapa kiyai NU sahabat Gus Dur, untuk bertanya apa maksud perintah Gus Dur agar aku menjadi penyapu jalanan. Seorang kiyai berkata, pulanglah, nanti saya yang menanyakan ke Gus Dur. Kiyai lainnya berujar, bersabarlah, insyaallah nanti Gus Dur akan datang kepadamu menjelaskan maksud perintahnya tersebut.

Tak berapa lama kemudiaan, lanjut Sastro, setelah berkonsultasi dengan beberapa kiyai dan beberapa peristiwa yang kualami, akhirnya aku memahami perintah Gus Dur tersebut, yaitu Gus Dur menginginkan agar diriku menjadi petunjuk jalan bagi anak-anak jalanan agar kembali ke jalan Allah, mengenali Allah, dengan cara mendekatkan mereka kepada kiyai-kiyai di pesantren. Dengan begitu ia akan terbimbing secara religius-spiritual ilahiah. Demikian makna menjadi penyapu jalanan yang  diperintahkan Gus Dur. Makna lainnya adalah seperti yang penulis uraiakan di atas. Wa Allah a’lam


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *