Revolusi Pikiran dan Perasaan

Ada yang gelisah, dan tidak sedikit yang mengalami kegelisahan. Bahkan, banyak yang cemas menyaksikan, mengalami dan merasakan realitas kehidupan yang mencemaskan. Hal ini terjadi bukan cuma yang bersifat personal tetapi pada lingkup kolektif yang lebih luas cakupannya: kehidupan sosial, bangsa, dan negara.

Melihat realitas kehidupan yang seperti itu, ada di antaranya yang berpikir struktural dan menggunakan pendekatan top-down, sehingga jika sulit lagi diubah mereka menawarkan revolusi. Makna dan bentuk operasional revolusi yang mereka harapkan di sini, identik dengan “kudeta”, “perlawanan”, “pertumpahan darah”, dan/atau “people power” untuk memperbaiki dari atas, puncak kekuasaan atau penguasa.

Bagi saya, revolusi yang terungkap sebagaimana makna dan bentuk operasionalnya di atas, itu kurang tepat. Buktinya, yang dialami oleh Indonesia pada tahun 1998, meskipun gerakan itu bernama atau diberi nama “reformasi”, sebenarnya itu juga adalah bentuk revolusi. Ada perubahan dan perbaikan yang terjadi dan dirasakan, tetapi sifatnya masih menyisakan problem dan tidak bertahan lama. Kini tampak permasalahan, kekuasaan, dan penguasa baru.

Mungkin tibalah waktunya, kita tidak lagi menyuarakan revolusi sebagaimana dan bentuk operasionalnya di atas. Yang tepat, kita menyuarakan “Revolusi pikiran dan perasaan”. Ini memang berat, tetapi sejak lima belas abad yang lalu, Rasulullah Muhammad saw telah pernah menegaskan firman Allah sebagaimana dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 11.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Ini di antaranya yang ditegaskan dalam firman Allah tersebut. Jadi sebenarnya bukan pendekatan top-down tetapi bottom-up,  jika ini dikontekstualisasi ke dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan sifatnya menyeluruh: elit dan akar rumput.

Sebagaimana konsepsi dan “materi” Problem-Solving yang pernah saya rumuskan sendiri ketika diberikan amanah untuk menjadi narasumber dengan judul tersebut (baca: Problem-Solving), saya sampai pada kesimpulan bahwa apa pun problem yang terjadi dalam kehidupan ini, terutama yang bersifat teknis, prosedural, dan regulatif, embrionya ada pada diri. Aspek personal manusianya.

Jadi intinya adalah diri. Memperbaiki dan/atau mengubah diri terlebih dahulu adalah cara terbaik mengubah dan memperbaiki realitas kehidupan. Berbicara tentang diri atau keadaan dalam diri setiap orang, tentunya kita harus mampu memahami dimensi diri secara struktural. Jika berbicara struktural tentang diri kita, maka yang lebih tinggi posisinya dan besar pengaruhnya adalah dimensi psikologis-spiritual, ketimbang fisik-biologis.

Selain ruh yang telah melakukan ikrar komitmen ilahiah dengan Allah dalam proses penciptaan diri kita, pikiran dan perasaanlah yang paling tinggi posisinya dan besar pengaruhnya, terhadap segala perilaku dan tindakan kita, yang tidak sedikit, itu adalah embrio permasalahan yang ada. Di sinilah garis relevansi pentingnya revolusi pikiran dan perasaan.

Apa yang baru saja saya bocorkan kebenaran dan kedahsyatannya, bukan tanpa alasan dan referensi yang bisa dipertanggungjawabkan dan otoritatif. Saya membaca banyak buku tentang pikiran, perasaan, alam bawah sadar, dan fisika quantum yang ditulis oleh para penulis yang memiliki otoritas pada bidang keilmuannya. Selain itu, saya pun merenungkan kehidupan ini sambil membangun hubungan korelatif dari disiplin ilmu yang terpisah-pisah itu, tetapi bisa diintegrasikan.

Membaca buku Terapi Berpikir Positif (2011) karya Dr. Ibrahim Elfiky, seorang Maestro Motivator Muslim Dunia, kita akan memahami betapa dahsyatnya pikiran dan pengaruhnya. Sebelum melanjutkan tulisan ini, terlebih dahulu saya tegaskan bahwa pikiran di sini berbeda dengan “pemikiran” yang sering diidentikkan dengan disiplin ilmu tertentu. Yang ditegaskan di sini, pikiran sebagai sesuatu yang mengalami mekanisme psikologis dalam diri setiap manusia.

Jika menelusuri rimba kedahysatan konsepsi pikiran yang dirumuskan oleh Elfiky, kita minimal akan sampai pada kesimpulan “Apa yang kita alami hari ini, adalah hasil dari yang dipikirkan sebelumnya. Dan yang akan kita alami pada masa yang akan datang adalah hasil dari apa yang kita pikirkan hari ini”. Elfiky pun menegaskan “Jika kita berpikir bisa, Insyaallah bisa. Dan jika kita berpikir tidak bisa, Insyaallah tidak bisa”.

Selain Elfiky, tentang kedahsyatan pikiran dan pengaruhnya, bisa pula dipahami dari James Borg, dan Brian Tracy. Borg menulis buku tentang pikiran dengan judul Rahasia Kekuatan Pikiran (2010). Tracy menulis buku Change Your Thinking Change Youf Life (2007). Baik Borg maupun Tracy menegaskan bahwa jika ingin mengubah kehidupan kita, maka terlebih dahulu mengubah pikiran.

Berbeda dengan Elfiky, Borg, dan Tracy, Erbe Sentanu sangat mengutamakan pentingnya perasaan. Terkait kedahsyatan perasaan yang bisa memengaruhi kehidupan dan/atau realitas yang akan terjadi, kita bisa memahaminya pula dari buku Quantum Ikhlas—bagian pertama dan kedua—karya  Sentanu. Substansi yang diungkapkan oleh Sentanu adalah the power of positive feeling. Selain itu Sentanu pun menegaskan “Jika positive thinking + goal setting sama dengan force, maka positive feeling + goal praying sama dengan power”.

Di dalam buku-buku yang saya sebutkan di atas, di dalamnya pun diuraikan secara detail terkait bukti nyata dalam realitas sosial tentang kedahsyatan pengaruh pikiran dan perasaan bagi seseorang dalam kehidupannya. Intinya tidak ada keraguan terhadapnya atas kedahsyatannya. Apatah lagi, keduanya ini adalah ciptaan Allah yang built-in dalam satu paket penciptaan manusia.

Pandangan Sentanu tampak berbeda titik penakanan atau poin prioritasnya ketimbang Elfiky, Borg, dan Tracy. Sentanu mengutamakan kedahsyatan perasaan ketimbang pikiran, sedangkan ketiganya (baca: Elfiky, Borg, dan Tracy) mengutamakan kedahsyatan pikiran.

Membaca buku Psikologi Iman (2019) karya Prof. Dr. Nevzat Tarhan, dan terutama buku Breaking The Habit of Being Yourself (2012) karya Dr. Joe Dispenza, saya mendapatkan pemahaman bahwa antara pikiran dan perasaan tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Keduanya ibarat dua sisi mata uang, bahkan dari keduanya yang membentuk gelombang elektromagnetik yang dahsyat dan bisa memengaruhi realitas kehidupan.

Dari Dispenza, kita bisa memahami bahwa segala sesuatu—dengan menggunakan pemahaman fisika quantum—tidak ada yang terpisah di medan quantum. Semuanya berada dalam satu kesatuan tanpa batas sedikit pun. Seperti antara saya, sahabat pembaca, dengan gelas yang ada di rumahnya, termasuk antara diri kita semua, di medan quantum tidak terpisah. Melekat satu kesatuan.

Memahami pandangan Dispenza, kita pun akan memahami bahwa setiap dari diri kita bisa memengaruhi realitas tertentu atau terjadinya realitas tertentu. Hanya saja, Dispenza pun menegaskan bahwa hal itu bisa terjadi, ketika gelombag elektromagnetik yang dipancarkan dalam kehiduapn, itu berada pada posisi setara, sejajar, dan/atau selaras.

Sumber gelombang elektromagnetik dalam diri kita adalah sinyal listrik atau elektrik, itu berasal dari pikiran. Sedangkan daya magnetis lahir dari perasaan. Jadi untuk menghasilkan gelombang elektromagnetik yang dahsyat adalah ketika pikiran dan perasaan yang kita lahirkan atau dipancarkan itu selaras.

Contoh pikiran dan perasaan atau gelombang elektromagnetik yang selaras adalah, pikiran berpikir dan mencari cara untuk menjadi kaya, maka perasaan pun harus selalu merasa kaya, minimal merasa berkecukupan. Bukan sebaliknya, pikiran berorientasi kaya sedangkan perasaan senantiasa larut dalam perasaan miskin, maka ini tidak selaras dan tidak bisa memengaruhi realitas kehidupan.

Lazim dipahami selama ini adalah pikiran memancarkan frekuensi, dan menarik frekuensi yang sama. Padahal sebagaimana yang ditegaskan oleh Dispenza pikiran dan perasaan wajib selaras.

Kita mungkin pernah menyaksikan gelombang demonstrasi yang dahsyat tetapi tidak membuahkan hasil. Bisa jadi karena mereka hanya serius memikirkan perubahan, tetapi perasaannya hanya fokus ingin menikmati hasil bayaran aksi dari orang-orang yang menungganginya. Apatah lagi jika hanya fisik terlibat dalam aksi demonstrasi, tetapi pikiran dan perasaan bertentangan dengan yang disuarakan maka sangat mustahil membuahkan hasil.

Ketika pikiran dan perasaan elit dan akar rumput dalam kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa negatif dan destruktif, maka bisa dipastikan akan bermuara pada kehidupan bangsa dan negara yang buruk. Seperti tingkat korupsi yang tinggi, penjaga dan penegak marwah hukum dan negara hukum justru menodainya, maka hasilnya pun akan sama, bermuara pada sesuatu yang negatif dan destruktif.

Sebaliknya, jika pikiran dan perasaan elit dan akar rumput senantiasa positif, produktif, konstruktif, dan penuh keadilan, maka bisa dipastikan hal itulah yang akan menjadi realitas nyata. Sama halnya, seperti apa karakter pemimpin bangsa yang lahir. Atau karakter presiden, wakil presiden, para anggota DPR, DPD, dan DPRD kita yang terpilih, maka saya bisa memastikan bahwa seperti itulah pikiran dan perasaan rakyat yang lebih banyak terpancar atau mendominasi kehidupan kita. Makanya, Allah menurunkan takdir yang sama, serupa, sejenis atau sefrekuensi.

Salah satu alur dan rumus kehidupan yaitu: dari pikiran dan perasaan menjadi tindakan; dari tindakan menjadi kebiasaan; dari kebiasaan menjadi karakter; dan dari karakter menjadi nasib.

Kemakmuran, kesejahteraan, kesuksesan, dan kemajuan kolektif adalah akumulasi dari yang bersifat personal. Personalitas setiap orang, yang terpenting adalah pikiran dan perasaannya. Di sinilah bukti dan landasan ilmiah dan rasionalitas dari firman Allah di atas.

Lima belas abad yang lalu telah menjadi salah satu ajaran dan tuntutan utama bagi umat manusia, khususnya bagi umat Islam untuk fokus mengubah diri terlebih dahulu. Hanya saja di antara kita seakan lupa dan/atau abai. Kita lebih cenderung mengutamakan hal-hal praktis, taktis, teknis, prosedural, mekanistik, dan regulatif.

Kita pun terkadang tidak mengikuti cara pandang sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Amin Abdullah, bahwa antara agama dan sains-ilmu pengetahuan, salah satu hubungannya adalah hubungan integratif. Bisa disatukan untuk saling menguatkan. Bahkan, sebagaimana yang saya pahami dan rasakan antara ajaran agama, perintah Allah, tidak ada satu pun yang bertentangan dengan prinsip, hukum, dan mekanisme kerja di alam semesta ini, tanpa kecuali untuk melakukan perubahan-perubahan atau untuk mengubah realitas kehidupan.

Kredit gambar: https://bodymindsoulspirit.com


Comments

5 responses to “Revolusi Pikiran dan Perasaan”

  1. Hasan Avatar

    MasyaAllah luar biasa Tulisanya Bang Agusliadi sangat menginspirasi👍

    1. Agusliadi Avatar
      Agusliadi

      Alhamdulillah, terima kasih. Semoga senantiasa memberikan manfaat. Aamiin

  2. Yuni Raraswati Avatar
    Yuni Raraswati

    Alhamdulillah, terima kasih sdh memperkaya pikiran dan perasaan lami tuk tetap di Perjalanan Cinta-Nya.

    1. Agusliadi Avatar
      Agusliadi

      Alhamdulillah, terima kasih Bu. Semoga senantiasa memberikan manfaat. Aamiin

  3. Agusliadi Avatar
    Agusliadi

    Alhamdulillah, terima kasih. Semoga senantiasa memberikan manfaat. Aamiin

Leave a Reply to Agusliadi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *