Tungguru Isrun

Tak berselang lama kepergian seorang tokoh pendidik pak Syafruddin. Kini tetiba langit mengawal hari kami kembali dengan kedukaan berpulangngya pada  Ilahi seorang guru, Muh. Isrun bin Muh. Arief. Kami lebih akrab menyapanya dengan Tungguru Isrun.

Setiba di pucuk waktu, kala magrib menggemgam  hari. Ranah duka kembali menyelimuti kami. Seorang guru tutup usia dengan membuat semua terhentak hampir tidak percaya.

Saya terdiam mencoba mengingat sesuatu tentangnya. Beberapa hal memori itu masih tersimpan. Tentang bagaimana interaksinya kepada sesiapa saja, candanya dan bentuk tubuhnya, cara pakai sarung serta bidanya, tanpa lepas songkok hitamnya. 

Jauh merunut, saat masih muda dulu, sesaat kemudian hening seketika, saat kepergianmu secara tiba-tiba. Yang sore itu sejuta pasang mata, sahabat, tetangga dan karibmu dengan canda tawamu, selepas detik berkaku di simpang tempat pergumulan dengan mereka. Terdengan kabar telah berpulang pada diagnosa sakit, ternyata pula baru saya tahu. 

Masih terbayang, saat semua melayatmu, tubuhmu dingin, dan memberi isyarat atas segala perangai (ampe-ampe) bagi sesiapa saja yang kau temui, semua membincangkan itu. 

Tiga perempuan buah kasih, titpan Tuhan kau tinggalkan, di atas pusaramu kau titip amanahmu, tak kuasa menahan kehilangan sosok ayah sepertimu. Seorang istri yang santun, baik, empati dan penuh kasih sayang ke sesama, tetangga dan sesiapa saja berserah ikhlas meski ada rasa kehilangan. 

Sambil merangkai bunga doa menuju surganya. Ketabahan hati, rasa yang ditinggalkan, kebiasaan, setia atas karunia sekian lama mendampingimu kini telah dalam dekapan Tuhan. Sembari berserah di tengah kedukaan.

Sejawat, kerabatmu kusaksikan menyeka air matanya saat kemudian melihat jasadmu. Terbayang kebiasaan bersamamu, berjuang bersama menempuh harapan sebagai tenaga pendidik (guru), hingga suatu ketika saya terdiam mencari jawaban, saat jabatan engkau emban kau taruh dan enggan lagi menjadi kepala sekolah. Sementara banyak di antaramu antrian, ingin meraih dan mendudukinya, justru kau menanggalkannya. 

Pagi disambut desau angin dingin dan gemawan awan. Di atas nisanmu  kutuliskan tanggal wafatmu 24-04-2024, yang secara kebetulan atau entahlah.  Hingga namamu. Saat itu seseorang memintaku mengukir namamu bersama bin sosok ayah yang kau kaguni dan kau banggakan. Dan setahuku  kebetulan kita sama-sama dulu bisa menulis huruf sebagaimana keahlian dalam tatanan tulisan indah dan karakter hurufmu yang cukup aku kenali. 

Antara benar atau salah mendengar namamu disebut telah berpulang, ketika itu pula terjenak berdiam diri. Sementara yang lain bahkan orang di rumah spontan pecah tangisnya. Saya masih terbawa “kalabangngang” terdiam dalam gamang. 

Betapa semua begitu cepat. Kesaktian rahasia-Nya tiada bisa kita ketahui. Atas nama cinta-Nya, setiap hamba manusia akan dipanggilnya sebagai Sang Maha Memiliki.

Tungguru Isrun telah berpulang, sejatinya ingatan itu bukan karena sedih di tepi kedukaan, namun kebiasaan, perangai dari sekian banyak orang pernah berk teraksi dengannya menjadi hujaman rindu, tentang canda tawanya krpada sesiapa saja yang menjadi bagian dari caranya melengkapi keakraban kepada orang.  Terkadang memecahkan suasana.

Tungguru Isrun telah usai dan digenapkan hidupnya di dunia fana ini.  Di atas keranda menuju pengistirahatan terakhirmu, seluruh berkumpul di titik sendu balutan duka. Mengantarmu menapaki jalan terakhir menyusuri di tengah mata yang basah, mengukir, menitik dari   sekian banyak orang kehilangan. Tetangga, kerabat, sejawat para guru berdiri tegap lengkap dengan atribut melepasmu dalam upacara yang sakral, penghormatan terakhir oengabdianmu di dunia dan profesimu sebagai guru. 

Maka ditaburilah mewangian doa di pusaramu, dari pelayat yang tersayat, tiada lebih orang yang paling engkau cintai ibu dari anak-anakmu, begitu merasakan kehilangan, tetapi ia adalah perempuan tegar, penuh ketangguhan, kesetiaan, cinta perhaian, tanpa harus mencederai keihlasannya melepas kepergianmu selamanya, melebur dalam duka, tidak harus larut melebihi kecintaan Tuhannya. 

Di atas pusaramu seorang perempuan (istri) menguatkan hatinya, selaput matanya basah, tapi ia tidak pecah, karena tahu dan menaruh keimanan yang teguh pada tugu ketauhidannya dan mengutip firman Tuhan dia melepas kepergian lelaki (suaminya) Tungguru Isrun.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Tagabun: Ayat 11).

Sebagai telaga jiwanya, sabana keruhaniannya.  Semua telah menjadi rahaisa-Nya.


Comments

2 responses to “Tungguru Isrun”

  1. TUNGGURU… Figur penuh pesona, komitmen dan ketulusan mendasarkan segalanya pada prinsipmu mengenangkan segala kebaikanmu sesegera perkenaan sesiapapun yang menyapamu dan tersapa olehmu, dalam doa-doaku… Perkenankan engkau menerimaku dalam setiap harapan kebaikan dan kebenaran mu… Amien

    1. Dion Syaif Avatar
      Dion Syaif

      Amin. Allahumma amin. Makasih respon dan doanya

Leave a Reply to Puang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *