Puisi 01
Rani. Bagaimana tidak, aku tak membakar tembakau
Jika Kau-lah pemantiknya
Lembut meresap ke serambi paru-paru
Cemas-cemas yang ku-isap “bermakna” sesak
Sewaktu-waktu;
Di setiap ku batuk akan terbit gelak suaramu
Mengepul jauh berselerak menyisahkan abu
Tapi seakan membenamkan hangat pelukmu
Melalak hayatku, laksana bara behikayat ayat cinta
Kau lebih dari sebuah pemantik
Kau sebuah latihan mengungkapkan
Dan kau tak lebih dari sebuah pelajaran mengarang
Lalu aku selalu terpantik oleh kata pertama.-
***
Puisi 02
Akan selalu ada mata yang berkaca-linang oleh asap.
Di sendiri.
Nanti,
di sana.
Akan selalu ada sepi
di sendiri.
Bahkan juga,
Di Kita
Akan selalu ada tembakau dan api
di jemari.
Kau padam,
Aku Abadi.-
***
Puisi 03
Kepada kantuk.
Hari ini kita melihat lagi cahaya pagi.
Salah siapa semalam!?
Hati?
Pikiran?
Mata?
Apakah kalian bekerja sama?
Serentak mereka menjawab;
“Tidak, kami secara khusuk dan sportif satu sama lain termasuk malam. Kami tidak juga bersaing. Kami mencintai Rani dengan cara masing-masing.”
Kau adalah tubuhku aku Tuanmu.
Besok kita sepakat tidur lebih awal.
Hati menjawab
“Baiklah, ini menyakitkan. Jika kita tak bisa melihatnya lagi, membuatnya sakit, dan tak bersama lagi. Lebih baik kita melawan dengan mimpi agar lebih romantis.”
Aku dengan diriku tertegun, Diam.-
***
Puisi 04
Di bawah pohon teduh ini. Daun jatuh, atau ranting itu yang merapuh. Riuh gesekan daun. Perlahan jatuh meredam bisu. Menduga diam sebagai jalan berdamai.
Ranting itu memang menanti patah. Tak sempat kata mereka selesai ucapkan
bahkan tuliskan.
Mereka;
Terus-terusan ingin menang tak akan bisa membuktikan kasih sayang.
Sementara Kita;
katamu “aku sebagai lelaki lihai dalam hal puitis melarik dan menulis secarik puisi kepada perempuan.”
Setelah cukup lama terdiam kau melanjutkan
“Namun tidak dalam hal membacanya”
Pikirku
Di mataku, kau selalu cantik.
Bila ada yang tidak sependapat denganku, ia hanyalah sosok asing
Dan tidak seberuntung aku dalam memahamimu.
Daun itu sengaja digoyang oleh sang angin, supaya ranting punya kawan bicara.
Jika kehadiranku kau tepiskan, pun cerita kita jarang, jangan kau nafikan jarak
adalah jurang.
Sebagaimna.
Daun itu terjatuh, supaya rindu punya alasan tuk tiba.-
***
Puisi 05
Almarhum Sapardi
Aku tak bisa mencintainya dengan sederhana.
Diriku melepasnya dengan luka terberat. Hebat begitu dahsyat, habis terbakar oleh harap hingga pupus perlahan dimakan waktu akan penantian.
Sementara membutuhkan itu hakiki
Mengutarakannya perlu berani
Tapi yang kembali hanyalah abai
Lelah aku mengingkari
Mengingkari bahkan mendiamkan kenyataan.
Lantaran menunggu secara tabah berdada teduh, tanpa mengaduh, tanpa
mengeluh.
Aku tak memungkiri besarnya kepercayaan diri.
Seakan kau akan kumiliki.
Aku lupa sadar diri.
Lebih dari sekadar cermin untuk berkaca pada diri.
Malaikat yang mencatat lukaku meniup terompet jiwa. Menghancurkan segala
bentuk yang ada di batin hati dan rasa, hanya satu terselamatkan. Rindu.-
Kredit gambar: Saffana Mustafani

Pernah ikut Kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng


Leave a Reply