Aktualisasi Kesucian Ramadan Pasca Bulan Ramadan

Setelah puasa ke-29 dan atau 30 Ramadan berakhir, yang ditandai dengan buka puasa pada malam ke-29 dan atau 30, bulan Ramadan telah pergi dan berpisah dengan kita semua. Kita berharap tetap dapat bersama dengan  Ramadan pada tahun 1446 H. yang akan datang. Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad di malam ke-29 dan atau 30 Ramadan senantiasa memanjatkan doa perpisahan.

Imam as-Sajjad setelah memuji Allah Swt. di awal munajatnya dengan pujian yang indah dan penuh pengagungan. Kemudian beliau, bersalawat kepada Rasulullah saw. dengan penuh ketulusan, seperti yang beliau selalu lakukan ketika bermunajat kepada Allah. Beliau juga memuji, mengagungkan keistimewaan dan kemuliaan bulan Ramadan yang dikhususkan hanya untuk umat Muhammad saw., beliau mengucapkan salam perpisahan dengan Ramadan.

Imam as-Sajjad, kedua orangtuanya serta para kakeknya serta anak keturunannya selalu meneteskan air mata membasahi pipi mereka di malam perpisahan dengan bulan Ramadan. Semua itu terjadi karena mereka mencintai  Ramadan. Dengan demikian perpisahan dengan bulan Ramadan adalah perpisahan yang menyedihkan bagi mereka. Mereka ditinggalkan oleh sahabat sejati, yang datang membawa keutamaan, keberkahan, kebajikan yang banyak dan kemuliaan spiritual yang tanpa batas.

Dalam tangisan mereka, mereka mengucapkan salam perpisahan berkali-kali kepada Ramadan. Mereka berkata, “Kami ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu wahai Ramadan. Selamat tinggal kepada dia yang menyedihkan perpisahannya merisaukan dan mendukakan kami kepergiannya. Untukmu kami berjanji, kami akan menjaga kesucianmu, memelihara dan memenuhi hak-hakmu setelah engkau meninggal kami.”

Salam bagimu wahai bulan Allah yang agung! Wahai hari raya para kekasih Allah! Salam bagimu wahai waktu termulia yang telah menyertai kami! Wahai bulan terbaik di antara semua hari dan saat! Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya harapan didekatkan amal disebarkan. Salam bagimu wahai Ramadan. engkau adalah sahabat yang paling bernilai ketika dijumpai, paling menyedihkan ketika ditinggalkan. Engkau adalah kawan yang senantiasa ditunggu-tunggu kedatangan.

Salam bagimu wahai Ramadan, engkau kesayangan kami. Engkau datang membuat kami gembira dan bahagia. Ketika engkau pergi dan berpisah dengan kami, engkau meninggalkan kesepian dan dukacita. Salam bagimu wahai Ramadan, engkau telah  bersamai kami, melembutkan hati kami dan mengurangi serta menghapus dosa kami hingga bersih. Salam bagimu Ramadan, engkau telah menjadi penolong kami menghadapi setan dan membantu, memudahkan kami berdiri tegak di atas jalan-jalan kebaikan. Sungguh, denganmu, banyaknya orang yang terbebas. Banyak orang yang Bahagia dengan menjaga kesucianmu…. Salam bagimu wahai Ramadan, Engkau datang bersama malam Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Wahai Ramadan, salam bagimu, pada hari kedatanganmu betapa senangnya hati kami, betapa jernihnya pikiran kami. Meskipun tubuh kami lelah, tetapi keletihan yang membawa berkah kesehatan. Hari ini engkau telah pergi meninggalkan kami, berpisah dengan kami! Betapa rindunya kami kepadamu di hari-hari esok! Di hari perpisahan kami dengan, keistimewaan, kemuliaan, kebajikan, keberkahan dan keutamaanmu sungguh telah ditepiskan dan dilepaskan dari kami. Namun demikian, wahai Ramadan, kami tetap berharap pertemuan denganmu di tahun 1446 H, dengan izin Allah Swt.

Wahai Ramadan! Bukankah Rasulullah saw. bersabda tentang dirimu bahwa, “Sekiranya seorang hamba mengetahui apa yang ada pada Ramadan, maka ia berharap Ramadan selama satu tahun.” Sungguh isi kandungan sabda Rasulullah saw. tersebut telah menginspirasi kami untuk tetap berjuang menghidupkan dan mengaktualisasikan kesucianmu pasca kepergianmu dan keterpisahanmu dengan kami. Semoga Allah menolong kami (والله المستعان ). Oleh karena itu, ajari kami wahai Ramadan: Apa yang mesti kami lakukan agar engkau tetap eksis dalam kehidupan kami setelah engkau secara lahir telah pergi meninggalkan kami dan berpisah denganmu? Berilah jawaban dan bimbinganmu wahai Ramadan, di akhir pertemuan kami denganmu, pada tahun 1445 H ini.

Mendengar permohonan yang terucap lirih dan (berupaya dengan) penuh kesedihan, dari muslim dan mukmin yang mencintai Ramadan, Ramadan pun dengan penuh kasih dan sayang, penuh keberkahan berkata kepada muslim dan mukmin yang mencintainya dan bersedih dengan perpisahan dengannya, yaitu:

Pertama. Ramadan menasehatkan: Wahai muslim dan mukmin, setelah kepergianku, tegakkanlah al-shaum (الصوم) dalam kehidupanmu. Puasakan seluruh indra lahir dan batinmu dari kemurkaan Allah Swt., meskipun engkau tidak melakukan ash-shiyam (الصيام). Oleh karena model dan kualitas puasa  ash-shiyam (الصيام waktunya terbatas, hanya pada bulan Ramadan, itu pun hanya di waktu siang hari. Berbeda dengan model dan kualitas puasa al-shaum (الصوم) berlaku selamanya dan sepanjang waktu kehidupan.

Wahai para pencinta-ku, lanjut Ramadan, Dengan engkau menegakkan model dan kualitas puasa al-shaum (الصوم), maka di satu sisi, kedua mata tubuh lahirmu akan tertunduk dan terbatas jangkau wilayah dan obyek penglihatannya, namun sungguh akan mempertajam mata hati dan penglihatan batinmu untuk melihat kebenaran Ilahi. Dengan engkau menegakkan model dan kualitas puasa al-shaum (الصوم), puasa al-shaum (الصوم), maka segala bentuk penghalang akan disingkap oleh Allah dan mata hati atau penglihatan batinmu akan mampu melihat siksa neraka dan kenikmatan surga di dunia sebelum di akhirat.

Selain itu, dengan engkau menegakkan model dan kualitas puasa al-shaum (الصوم), maka mata hati dan penglihatan batinmu akan mampu melihat alam malakut, seperti ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw. yaitu:

لولا أن الشياطين يَحُومُونَ علي قلوب بني ادم لَنَظَرُوا إلي الملكوت

Artinya: Sekiranya tidak karena adanya setan yang selalu berputar mengelilingi hati manusia, tentulah akan mampu melihat alam malakut.

Terkait dengan model dan kwalitas puasa al-shaum (الصوم), kiranya patut direnungkan isi doa munajat dari Imam Ali Kw. yaitu:

“Karuniakanlah aku kesempurnaan pemutusan dengan selain-Mu, dan sinari mata hati kami dengan cahaya penglihatnnya kepada-Mu, hingga hijab-hijab cahaya menembus mata hati kami, maka kami [un akan sampai pada sumber keagungan. Dan roh-roh kami tersungkur pada keagungan-Mu Nan Kudus.”  

Dengan engkau menegakkan model dan kualitas puasa al-shaum (الصوم), maka di satu sisi, pendengaran telinga lahirmu akan terpelihara dari suara-suara yang menyenangkan hawa nafsumu dan setan. Dengan begitu, pada saat yang bersamaan, telinga hati dan pendengaran batinmu mampu mendengarkan suara-suara kebenaran Ilahi, meskipun setan yang mengelilingi hati manusia senantiasa berusaha untuk menutupi san menyembunyikan suara-suara kebenaran ilahiah tersebut, hingga hanya terdengar sangat lirih dan halus.

Dengan engkau menegakkan model dan kualitas puasa al-shaum (الصوم), maka telinga hati dan pendengaran batinmu akan mampu membedakan dengan sangat jelas dan terang benderang antara bisikan-bisikan setan penuh tipuan dan menyesatkan dengan suara-suara malaikat yang baik, benar, indah, suci dan menyelamatkan. Dengan engkau menegakkan model dan kwalitas puasa al-shaum (الصوم), maka Allah akan membuka telinga hati dan pendengaran batinmu, dengan begitu Allah memberikan kemampuan kepadamu untuk mendengarkan suara-suara petunjuk Ilahi.

Dengan engkau menegakkan model dan kualitas puasa  al-shaum (الصوم), maka kata Rasulullah saw. maka engkau akan mampu mendengar apa yang beliau dengar, seperti ditegaskan dalam sabda beliau, yaitu:

لولا تَمَزُّعُ قلوبكم وتَزَيُّدُكم في الحديث لَسَمِعْتُمْ ما أسمع

Guru Imam Abu Hanifah, yakni Imam Ja’far Shadiq pernah berkata, “Sesungguhnya engkau memiliki hati dan alat pendengar dan sesungguhnya bila Allah hendak memberi petunjuk seorang hamba, Dia akan membuka pendengaran-pendengaran hatinya. Maka jika Allah menghendaki sebaliknya terhadap hamba itu, maka Dia menutup telinga hatinya dan selamanya dia tidak akan menjadi baik. Ini adalah firman Allah ataukah hati mereka telah tekunci.  

Dengan engkau menegakkan model dan kwalitas puasa al-shaum (الصوم), maka daya khayal, daya imajinasi, daya pemeliharaan dan daya pikirmu akan jernih dan semakin cerdas dalam membaca, memahami dan menyadari kehadiran Allah pada setiap al-kaun. Sebaliknya, dengan engkau menegakkan model dan kwalitas puasa al-shaum (الصوم), maka engkau terbebas dari khayalan-khayalan sia-sia, imajinasi yang tidak bermanfaan, pemelihara yang tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan tujuannya dan pikiran-pikiran kotor, buta dan tuli dari membaca, memahami dan menyadari kebesaran dan keagungan Allah yang tergambar jelas pada setiap al-kaun yang menjadi obyek pikiran.

Tegasnya, dengan engkau menegakkan model dan kwalitas puasa al-shaum (الصوم), maka potensi-potensi intelektualmu akan sangat fungsional dan cerdas hingga engkau terantar kepada kesadaran Ilahi. Apa pun yang engkau lihat, dengar dan pikirkan maka titik fokus pertama adalah Allah yang Maha melihat, Maha Mendengar dan Maha Menciptakan seluruh obyek-obyek intelektual. Dengan engkau menegakkan model dan kwalitas puasa al-shaum (الصوم), maka obyek-obyek penglihatan, pendengaran dan pikiranmu tidak menjadi hijab bagimu untuk mengenal keagungan dan kebesaran (Izzatur Rububiyah) Allah Swt. yang tergambar jelas pada setiap obyek.

Kedua. Ramadan sebelum pergi meninggalkan muslim dan mukmin yang mencintainya, Ramadan menasehatkan, “Di bulan Ramadhan, wahai muslim dan mukmin, engkau menegakkan salat, baik yang difardukan maupun yang disunahkan. Engkau qiyamul lail, baik shalat sunah tarawih, salat sunah tahajud, dan salat sunah lainnya. Maka setelah kepergianku meninggalkan kalian, maka peliharalah salat-salat tersebut, seperti penegasan Allah dalam QS. al-Baqarah/ 2: 238:

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

Artinya: Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.

Kandungan ayat 238 di atas memerintahkan agar melakukan gerakan pemeliharaan terhadap salat-salat. Pakar ahli tafsir memahami kata shalat yang pertama yang berbentuk kata jamak atau plural dengan makna salat lima waktu yang difardukan. Sedangkan kata salat yang kedua dalam bentuk kata tunggal atau mufrad diperselisihi maknanya oleh ulama, seperti akan diuraikan kemudian. Selanjutnya klausa akhir ayat di atas, memerintahkan agar mendirikan shalat baik pada salat-salat yang difardukan maupun yang disunahkan dengan penuh keikhlasan untuk Allah dan dilakukan dengan penuh ketaatan, ketundukan, dengan kerendahan penghambaan (zillul ubudiyah) di hadapan keagungan dan kebesaran (izzatur Rububiyah) Allah dan dengan keihklasan yang powerfull.

Ulama berbeda pendapat terkait dengan salat wustha. Sebelum mengemukakan beberapa pendapat ulama yang beraneka ragam, lebih dahulu penulis ingin tegaskan bahwa penyebutan salat wustha secara khusus pada ayat tersebut mengisyaratkan makna kedudukan salat tersebut sangat penting, bersifat khusus dan utama untuk ditegakkan pemeliharaan atasnya. Selain itu, penyebutan salat wustha secara khusus, menurut penulis, dapat diduga dan atau mengisyaratkan adanya perbedaan dengan makna salat-salat yang disebutkan sebelumnya.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dikemukakan beberapa pendapat tentang makna shalat wustha antara lain: Menurut riwayat Imam Malik yang disandarkan kepada Imam Ali dan Ibnu Abbas yang dimaksud dengan salat wustha adalah salat subuh. Dalam riwayat lain yang juga disandarkan kepada Ibnu Abbad yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abbas berkata bahwa salat subuhlah yang dimaksud dengan salat wustha dan ibnu Allah membaca qunut sebelum ruku. Masih banyak jalur riwayat lain yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan salat wustha adalah salat subuh. Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Beliau juga menegaskan bahwa ayat 238 dalam surah al-Baqarah adalah dalil membaca doa qunut dalam salat. Alasan lain yang dikemukakan oleh pendapat yang mengatakan shalat subuh adalah salat wustha adalah karena salat subuh adalah salat yang tidak dapat dijamak dan diqasar.  

Pendapat lain mengatakan bahwa salat duhurlah yang dimaksud dengan salat wustha. Pandangan ini disandarkan kepada sahabat Said binTsabit dan Usaman bin said, juga sahabat lainnya seperti ibnu Umar. Riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa salat wustha adalah shalat duhur dikemukakan oleh Imam Abu Daud dalam sunannya dan Imam Ahmad bin Hambal.

Pendapat lainnya menegaskan bahwa salat wustha adalah salat Ashar. Pendapat inilah yang paling masyhur baik dikalangan sahabat maupun Thabiin. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengemukakan banyak riwayat yang menjadi dalil bahwa salat wustha adalah shalat asar. Rujuklaah ke kitab tersebut. Pendapat yang lainnya menegaskan bahwa salat wustha adalah shalat magrib. Ada lagi yang mengatakan bahwa shalat isya adalah yang dimaksud dengan salat wustha. Demikianlah beberapa pendapat terkait dengan konotasi makna salat wustha yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir. Untuk kesempurnaan informasinya rujuklah ke kitab tersebut.

Bertolak dari keterangan yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir, penulis memahami bahwa seluruh salat yang difardukan oleh Allah dapat dikategorikan sebagai salat wustha. Oleh karena itu, kelima waktu dan jenis salat tersebut wajib dipelihara. Penyebutan secara khusus tentang salat wustha setelah penyebutan secara umum kelima shalat yang difardukan berkonotasi makna penegasan dan penguatan untuk memelihara penegakan setiap salat yang difardukan.

Terlepas dari keterangan di atas tentang makna salat wustha, kiranya menarik dikemukakan pandangan yang dikemukakan oleh Abdu Qadir Jailani tentang kandungan ayat 238 surah al-Baqarah di atas. Menurut beliau, kandungan ayat tersebut mengemukakan dua bentuk salat yakni salat syariat dan salat tarekat. Salat syariat adalah rukun-rukun yang ditegakkan oleh anggota tubuh dhahir atau gerakan tubuh jasmani, seperti berdiri, membaca bacaan shalat, ruku, sujud, duduk, bersuara dan lafaz. Adapun shalat tarekat adalah salatnya hati. Salat ini bersifat selamanya, tidak dibatasi oleh waktu dan ruang. Inilah yang dimaksud dengan salat wustha, dalam ayat 238 surah al-Baqarah. Dinamai salat hati, oleh karena hati diciptakan dan berada di tengah badan. Antara atas dan bawah; antara kanan dan kiri dan antara bahagia dan penderitaan.

Menurut beliau, shalat yang paling pokok adalah salatnya hati. Namun salatnya tubuh tidak dapat ditinggalkan. Dengan demikian, keduanya sejatinya disatukan. Seseorang yang menegakkan salat syariat dan shalatnya hati secara bersamaan, maka nilai shalatnya sempurna pencapaiannya di sisi Allah. Penggabungan kedua shalat tersebut mengantar pelakunya memperoleh derajat surga dan sekaligus derajat al-qurbah atau kedekatan dengan Allah. Surga adalah buah dari shalat syariat dan al-qurbah atau kedekatan dengan Allah adalah buah dari shalatnya hati. Demikianlah keterangan dari Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Berdasarkan uraian tentang kandungan ayat 238 surah al-Baqarah di atas, penulis ingin tegaskan bahwa kewajiban salat wajib hukumnya dijaga dan dipelihara secara terus-menerus, baik itu salat syariat maupun salat terekat atau salat wustha secara bersamaan. Hamba Allah yang telah melakukannya adalah bukti ia telah berhasil dengan sempurna melakukan riyadhah rohaniah selama bulan Ramadan.

Ketiga. Ramadhan juga berpesan kepada muslim dan mukmin yang mencintainya, agar terus menerus berinteraksi dengan Al-Quran secara intens setelah kepergiaannya. Oleh karena Al-Quran adalah hal yang paling utama dan pokok dari jamuan Allah di bulan Ramadhan. Al-Quranlah yang membawa kemuliaan di bulan Ramadan, khususnya di malam al-qadha.

Kalau malam al-Qadar sebagai waktu yang dipilih Allah untuk menurunkan Al-Quran di hati Rasulullah saw. bernilai lebih baik dari seribu bulan, lalu bagaimana nilai kemuliaan al-Quran yang dengannya malam al-qadar menjadi sangat mulia.

Menurut penulis, angka seribu adalah angka yang minimal dan bukan maksimal. Dengan kata lain, kemuliaan malam al-Qadar, unlimited dan hanya Allah yang mengetahuinya. Demikian pula kemulian Al-Quran tentunya. Hanya Allah yang mengetahui derajat ketinggian kemuliaan orang yang telah menghidupkan Al-Quran dalam dirinya, dalam pikirannya, dalam kalbunya, dan Al-Quran telah menjadi moralitas akhlaknya. Seperti Rasulullah saw. menjadikan Al-Qur’an sebagai moralitas akhlaknya. 

Menurut penulis, kemuliaan Al-Qur’an dan kemuliaan malam al-qadar yang tak terhingga atau unlimited dan hanya Allah yang mengetahuinya, hanya dapat diperoleh oleh hamba Allah yang berinteraksi dengan Al-Quran dengan model dan metode tilawah dan bukan sekedar interaksi dengan Al-Quran dengan model dan metode tartil apalagi sekedar model dan metode qiraah (rujuk kembali tulisan penulis tentang model dan metode pembacaan terhadap Al-Quran).

Sebagai closing statement tulisan ini, penulis ingin tegaskan bahwa Ramadan menghendaki ketiga poin yang telah diuraikan di atas, yang merupakan pesan dan nasehat bulan Ramadhan, diaktualisasikan oleh muslim dan mukmin pencinta Ramadan. Dengan demikian, muslim dan mukmin pencinta Ramadhan akan mampu memelihara dan menjaga kesucian Ramadan selama setahun ke depan bahkan lebih lagi. Wa Allah A’lam.


Comments

One response to “Aktualisasi Kesucian Ramadan Pasca Bulan Ramadan”

  1. Maryam Adam Avatar
    Maryam Adam

    MasyaAllah, tabaarakaAllah, mantap akhiy

Leave a Reply to Maryam Adam Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *