Kalau kita mempertanyakan apakah orang berpuasa sudah pasti bermoral? Atau pernyataan orang itu pasti bermoral krn dia berpuasa. Ini sebenarnya sama saja jika kita mempertanyakan, orang itu sudah beberapa kali naik haji tapi koq tetap korupsi, koq malas sedekah.
Atau ada juga yang mempertanyakan, orang itu rajin salat, rajin mengaji tapi perlakuan ke istri dan anak-anakya suka kasar. Orang itu rajin bersedekah tapi koq jahat sama tetangganya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, yang menghubungkan antara pelaksanaan syariat rukun islam dengan moral atau akhlaq.
Apa memang ada korelasi antara puasa dan moral? Puasa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah menghindari makan, minum dan sebagainya dengan sengaja. Pengertian puasa pada surah QS. Al- Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya.
Puasa berhubungan dengan fisik manusia, di mana tubuh akan merasakan lapar, lemas, dan kurang energi selama tidak makan dan minum 12 jam, sedangkan moral berhubungan dengan jiwa, ego, dan pikiran.
Jika pikiran kita mampu meredam ego dan melatih tubuh untuk tidak melakukan perbuatan tercela selama berpuasa, maka dapat membuat kita menjadi orang baik atau bermoral. Inilah tujuan dari ayat 183 Surah Al-Baqarah, “agar kamu menjadi orang bertakwa”
Melaksanakan puasa memang tidak mudah, oleh karenanya Allah hanya memerintahkan kepada orang-orang beriman saja.
Jadi, bagi siapa pun yang merasa beriman, maka silahkan puasa tetapi ingat ada konsekwensinya, yaitu selama puasa tidak hanya mampu menahan lapar dan haus, tapi juga harus mampu menahan diri dari segala perbuatan tercela, agar hasil akhirnya mampu menjadi orang bertakwa.
Namun, jika selama berpuasa kita melakukan perbuatan tercela, melakukan hal-hal buruk maka bisa jadi kita bukan golongan orang-orang yang dipanggil untuk menjalankan puasa.
Jadi pertanyaaan apakah orang berpuasa itu sudah pasti bermoral? Korelasi ini hanya dirasakan oleh orang-orang beriman, yang mampu melatih dirinya menahan diri dari nafsu amarah, nafsu mengambil barang orang lain, dan nafsu negatif lainnya, di saat dia juga sedang berusaha menahan lapar dan hausnya.
Usahanya lebih double dibanding usaha menahan nafsu yang dilakukan di luar bulan Ramadan. Dan ini tidak mudah, penuh perjuangan dan latihan.
Syariat Islam mulai dari perintah salat, perintah untuk berzakat, untuk berhaji, untuk berpuasa tujuan utamanya adalah sebagai ajang pelatihan buat diri yang meliputi tubuh fisik, jiwa, ego dan pikiran agar mampu sejalan dan saling bersinergi membentuk perilaku yang baik.
Mengapa harus berperilaku baik? Agar kita dapat menjalani hidup dengan lebih baik, lebih bahagia, lebih damai. Kebaikan kita akan mendapat pahala kebaikan pula yang diberikan oleh lingkungan sekitar.
Sekali lagi, moral dan puasa berkolaborasi, atau terjadi kausalitas berdasarkan usaha dari individu masing-masing dalam mensinergikan kedua hal tersebut.
Orang berpuasa dan juga beriman, persentase bermoralnya lebih besar. Akan tetapi, orang berpuasa tapi tanpa iman, maka belum tentu mampu bermoral, hanya sekadar mampu menahan lapar dan haus. Berimanlah terlebih dahulu lalu berpuasa, agar mencapai derajat ketakwaan.
Kredit gambar: JPNN.com

Mantan Komisioner KPU Kab. Luwu Timur, 2018-2023. Punya hobi membaca dan traveling.


Leave a Reply