The Ninth Gate: Buku yang Ditulis Iblis

Tidak mungkin sebuah buku diciptakan agar dapat mendatangkan seekor iblis. Atau berisi kiat-kiat yang bisa diamalkan seseorang untuk menemukan cara hidup ribuan tahun. Selama-lamanya. Sejauh ini banyak buku ditulis dan diterbitkan agar seseorang dapat menjadi kaya raya, atau agar diri Anda mampu berkomunikasi dengan lancar seperti seorang orator ulung, atau yang paling sering adalah buku yang ditulis penulis kawakan agar satu dua orang pembacanya dapat menjadi penulis terkenal di kemudian hari. Tidak ada buku untuk keabadian.

Tapi ini agak lain. Ini hanya ditemukan di dunia fiksi: The Ninth Gate (1999) disutradai Roman Polanski, dibintangi Johnny Deep, film lawas yang kebetulan saya tonton melalui fasilitas tivi kabel. Saya tidak ingat lagi apa nama salurannya. Sudah pasti bukan HBO Signature, atau FOX Movie, saluran yang sejak 2021 silam telah ditarik dari saluran tivi-tivi kabel.

The Ninth Gate merupakan film misteri bercerita tentang peran Dean Corso (Johnny Deep) sebagai detektif buku cum penjual buku tua yang disewa kolektor buku-buku antik, Boris Balkan (Frank Langella), untuk mengautentifikasi sebuah buku berasal dari abad ke-17 ditulis orang bernama Torchia yang bekerja sama dengan Lucifer saat menulisnya.

Dipandang sesat Torchia diinkuisisi bersama karya-karyanya. Buku ini berjudul The Nine Gates of the Shadow Kingdom. Kedengarannya cukup keren di telinga saya yang masih sering terpukau diksi yang berbau barat. Ini yang mendorong saya menahan serangan kantuk di tengah malam. Menyaksikan adegan demi adegan saat Corso masuk perpustakaan, mencatat, membaca, menelusuri literatur mengenai buku yang disebutkan hanya tersisa tiga di dunia saat ini. Suatu pekerjaan yang relate dengan kegiatan seorang ilmuwan. Ya, saat ia diminta Boris Balkan untuk menyelidiki keaslian buku The Nine Gates of the Shadow Kingdom, yang ia miliki, Corso diberitahu hanya ada tiga orang yang memiliki salinan buku itu: Andrew Telfer (Willy Holt), yang mati bunuh diri sebelum menjual buku Sembilan Gerbang kepada Boris Balkan, dan Victor Vargas (Jack Taylor), dan seorang kolektor lainnya yang tinggal di Prancis, Baroness Kessler (Barbara Jefford).

Masalahnya yang mana buku yang asli? Apakah buku salinan milik Boris Balkan, Victor Vargas, atau Baroness Kessler? Perhatian yang cukup penting bukan Boris Balkan semata, tapi bagi semua pengoleksi buku yang menginginkan semua buku koleksinya merupakan cetakan asli.

Tapi coba Anda bayangkan bagaimana masalah ini menjadi cukup penting dan serius jika konteksnya adalah abad ke-17, ketika teknologi percetakan buku belum seperti sekarang. Atau sebelum mesin cetak temuan Johannes Gutenberg belum dipakai saat itu? Merupakan kerja master apabila sebuah buku dapat disalin menyerupai aslinya mengingat saat itu sebuah buku masih ditulis langsung oleh penulisnya. Bentuk hurufnya, pilihan jenis dan berat kertas, jenis dan warna tinta, tebal huruf, atau sampai kepada cara buku itu dijahit dengan benang yang sama.

Adalah pekerjaan yang rumit dan membutuhkan ketelitian ekstra untuk menyamakan tulisan tangan seseorang di masa itu dengan menggunakan plat cetakan.

Itulah sebabnya masalah keaslian untuk masa itu bukan saja menyangkut isi atau gagasan ide penulisnya, tapi juga secara eksistensial terhubung langsung dengan kerja kreatif penulisnya.

Sampai hari ini, buku merupakan benda yang merupakan emas tapi bukan emas. Sering dianggap sepele, tapi dari sisi panjang peradaban, ia merupakan harta kemanusiaan yang tidak bisa diremehkan.

Buku menurut saya adalah semacam kebijaksanaan dalam arti empiris. Kandungannya tidak akan mungkin bisa disetarakan dengan apa pun. Apalagi jika seperti buku diceritakan dalam film ini, yang bisa menjadi perantara bagi seseorang sehingga bisa menjadi seperti iblis; hidup seribu tahun lamanya. Itu yang terkadang mendorong irasionalitas seseorang untuk ingin melakukannya. Mengoleksi buku-buku mahal, apalagi langka dan sudah berusia klasik saja sudah lebih dari cukup menjelaskan, di dunia ini cinta terhadap buku terkadang sulit dilakukan dengan cara biasa.

Mungkin belum ada buku di dunia ini yang ditulis bersama iblis, seperti diceritakan dalam The Ninth Gate, sehingga jika seseorang berhasil memecahkan kesembilan petunjuk di dalamnya akan membuka gerbang menuju umur panjang.

Johnny Deep dalam film ini tidak menunjukkan antusiasme dalam perannnya sebagai Corso yang bertindak bak detektif melibatkan pekerjaannya sebagai penjual buku-buku langka. Kontradiktif dengan motivasinya yang mementingkan dirinya sendiri sebelum menerima pekerjaan ini karena dibayar tinggi oleh Balkan.

Obsesi yang tinggi mengejar kebutuhan diri sendiri, dan dengan melibatkan suatu pekerjaan ilmiah melalui berbagai marabahaya dilakukan Corso, memberikan kesimpulan setidaknya, apa yang dilakukan olehnya tidak mencerminkan suatu panggilan moral dalam rangka mencari kebenaran. Sesuatu yang seharusnya menjadi motivasi utama dari setiap penyelidikan atau pencarian ilmu pengetahuan selama ini. Yang terakhir ini cukup related untuk konteks kehidupan saat ini, persis perkataan Balkan kepada Corso saat bernegosiasi untuk menyewa jasanya: ”Tidak ada yang lebih bisa diandalkan daripada pria yang kesetiaannya bisa dibeli dengan uang tunai.”

Ya, semua gerbang kehidupan ini, termasuk loyalitas akan lebih licin berpindah kesetiaan jika melibatkan uang sebagai tiket masuknya. Begitu!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *