Isa, Penyaliban, dan Kenaikan: Titik Temu Islam dan Kristen

Titik Temu dan Titik Tengkar

Penyaliban, kebangkitan dan kenaikan merupakan salah satu esensi utama doktrin iman Kristiani yang memosisikan Yesus sebagai sang penebus dan juru selamat. Pribadinya, pengorbanannya, kebangkitannya, kenaikannya, hingga kedatangannya kembali diterima dan dihayati dengan penuh iman.

Yesus atau Isa adalah pribadi yang menjadi “titik temu” sekaligus “titik tengkar”, sebagaimana judul buku yang ditulis Bambang Subandriyo. Dua agama besar dunia (Kristen dan Islam) setidaknya menjadikan sosok ini sebagai salah satu poros doktrin yang mempertemukan keduanya sekaligus membuat keduanya “bertengkar”.

Islam dan Kristen memiliki kesamaan sekaligus perbedaan fundamen mengenai sosok Isa atau Yesus. Beberapa poin mengenai perspektif tentang pribadi Yesus/isa, peristiwa penyaliban, hingga kedatangannya kembali dapat dikatakan sebagai garis demarkasi iman antar kedua agama tersebut.

Tulisan ini tidak untuk mengulas ”titik tengkar” mengenai sosok Yesus/Isa dalam doktrin iman dua agama yang sejatinya bersaudara tersebut. Tulisan singkat ini mencoba untuk mengangkat poin-poin mendasar yang menjadi ititik temu dalam doktrin iman kedua agama tersebut

Untuk apa berlarut-larut dalam perdebatan teologis yang hanya akan memperuncing hubungan kedua penganut agama terbesar di dunia ini. Mengusik doktrin iman yang sudah pakem pada masing-masing penganut hanya akan memicu kegaduhan Membangun dialog yang sehat dengan dasar kalimatun sawa (titik temu) menuju kesepahaman jauh lebih sehat daripada debat teologis yang rentan menciptakan permusuhan.

Pribadi Yesus

Hari ini setidaknya lebih dari empat per tujuh penduduk bumi mengimani Yesus/Isa sebagai manusia yang sangat istimewa. Manusia dengan pesona Ilahi yang mengajarkan tentang Kasih Rabbani.

Keyakinan Kristen dan Islam bermufakat tentang sosok Yesus/Isa yang luar biasa bahkan sejak kejadiannya. Ia lahir dari proses yang tak lazim. Bukan dari pertemuan sperma dan ovum, tapi dari Roh Ilahi yang ditiupkan pada rahim sang perawan suci Maria/Maryam.

Jika dalam Kristen Yesus disebut sebagai Anak Allah, maka dalam Islam Isa disebut sebagai Ruhullah. Kedua konsep yang mungkin tak sepenuhnya sama, tapi paling tidak keduanya sama-sama menegaskan atribusi keilahian pada sosok Yesus/Isa.

Hal yang harus diingat pula, terkadang orang Islam banyak yang salah paham dan simplistis dalam memahami konsep Anak Allah dalam doktrin iman Kristiani. Demikian pula terkadang sebagian Muslim terjebak pada simplifkasi dalam menilai konsep Trinitas Kristen dan menyamakannya dengan paham ketuhanan Triteis. Trinitas dan Triteis adalah dua pandangan ketuhanan yang berbeda (perlu duduk manis menyimak dengan serius dan pikiran terbuka untuk bisa memahami perbedaannya).

Jika dalam Alkitab Yesus disebutkan sebagai Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:14), maka dalam QS. 4:171, Isa disebut sebagai Kalimatuhu (Ketetapan-Nya). Yesus bagi umat Kristiani adalah Messiah atau Kristus, dalam Al-Qur’an 11 kali Isa dipanggil dengan sebutan al-Masih.

Isa adalah salah satu nabi utama (ulul azmi) dan termasuk di antara nabi yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an. Total Al-Qur’an menyebut sosoknya sebanyak 59 kali, baik dengan sebutan Isa, al-Masih, dan putra Maryam. Ibunya yang suci bahkan menjadi nama salah satu surat dan disebut sebagai salah satu wanita penghulu surga.

Isa begitu istimewa sejak kejadiannya, yang lahir tanpa ayah biologis. Ada dua keistimewaan Isa yang disebutkan dalam Al-Qur’an namun tak ditemukan dalam narasi Alkitab. Sejak bayi, Isa sudah menunjukkan mukjizat dengan berbicara di hadapan orang-orang yang menyangsikan kesucian ibunya (QS. 19:30-33 dan QS 5:110). Ketika masih kanak-kanak ia tunjukkan kedigdayaan dengan menjadikan burung yang hidup dari tanah liat (QS 5:110).

Alkitab dan Al-Qur’an sama-sama menceritakan tentang beberapa mukjizatnya, yaitu menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang berpenyakit lepra, dan membuat orang buta dapat melihat kembali. Pada usia 30 ia dikukuhkan sebagai utusan-Nya dalam Alkitab melalui pembaptisan oleh Yohanes (Yahya). Tiga tahun ia berkeliling tanah Israel ditemani 12 murid yang dalam Al-Qur’an dipuji sebagai Hawariyun dan Ansharullah (penolong Allah) (QS. 3:52 dan QS 61:14).

Penyaliban dan Kenaikan

Tema penyaliban adalah hal yang juga menjadi “titik tengkar” antara iman Kristen dan Islam. Keyakinan bahwa Yesus disalibkan merupakan salah satu poros utama iman Kristiani. Berbeda dengan Islam yang meyakini bahwa yang disalibkan bukanlah Isa melainkan orang yang diserupakan dengan Isa (QS 4:157).

Mari tinggalkan perdebatan tentang siapakah yang sebenarnya disalib, karena fakta tentang adanya peristiwa penyaliban itu disepakati. Marilah kita bertanya, kenapa banyak manusia pada saat itu yang sangat bernafsu membunuh Yesus/Isa? Kesalahan fatal apa yang ia telah lakukan? Kesalahan Yesus/Isa adalah mengusik “kemapanan” otoritas keagamaan para rabi Yahudi. Ia yang merupakan utusan Tuhan dituding menyebarkan kekafiran, hingga harus dibunuh dengan cara yang terhina.

Ketulusan seorang Yesus/Isa yang mengajarkan khidmat kasih pada kemanusiaan yang menarik banyak simpati, ternyata memantik dengki sejumlah rabi Yahudi. Akhirnya mereka pun bersekongkol dengan penguasa Romawi di bawah pemerintahan gubernur Pontius Pilatus untuk membunuh Yesus/Isa. Al-Qur’an dalam QS. 4:157-158 menyatakan konspirasi pemimpin Israil untuk membunuh Isa.

Pada drama penyaliban setidaknya kita bermufakat  bahwa peristiwa tersebut adalah tragedi kemanusiaan. Utusan Tuhan yang sangat mulia dinistakan, Firman Tuhan dalam wujud personifikasi Isa diinjak-injak oleh mereka yang mengenakan jubah keagamaan yang bekerjasama dengan penguasa tiran.

Hal ini menyiratkan bahwa sebenarnya dalam pentas sejarah yang bertarung bukan antara agama dengan nonagama. Seperti yang dinyatakan Ali Syariati, yang bertarung dalam sejarah adalah Agama versus “agama”. Antara agama yang menyeru pada Tuhan dan kemanusiaan melawan “agama” yang telah tergadaikan pada kemewahan dan berselingkuh dengan kekuasaan.

Yesus/Isa akhirnya bangkit, setidaknya itu titik temu berikutnya. Kristen meyakni di hari ketiga ia dibangkitkan untuk kemudian diangkat ke surga dan duduk di “sebelah kanan” Allah (Markus 16:19). QS. 3:55 QS. 4:157-158 menyebutkan kenaikan Isa yang diangkat oleh Allah untuk diselamatkan dari orang-orang kafir.

Yesus/Isa adalah sosok yang setelah kenaikannya dinantikan kedatangannya kembali oleh umat Kristiani dan juga oleh sebagian besar umat islam. Yesus/Isa diyakini sebagai aktor penting dalam narasi akhir zaman. Ia akan hadir kembali dengan membawa kebenaran, menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan. Meski dalam narasi Islam, Isa tidak sendirian karena ia akan datang bersama Imam Mahdi.

Kedatangan Yesus/Isa untuk kedua kalinya menjadi titik temu berikutnya, dan sebagai orang yang beriman mari kita tunggu kedatangannya dengan harap-harap cemas. Apakah kelak jika kita ditakdirkan menemui zaman itu, kita berada di barisannya ataukah berada di barisan musuhnya.

Romantisme Historis

Rangkaian narasi tentang sosok Yesus/Isa dalam Alkitab maupun Al-Qur’an menunjukkan titik temu ajaran kedua agama yang memuliakannya lebih dari sekadar manusia biasa. “Islam memuliakan Isa tak lebih rendah dari Kristen memuliakan Yesus”, tegas Sayyid Ali Khamene’i. Titik temu ini sejatinya dapat menjadi jembatan bagi sebuah dialog yang arif antara keduanya dan membangun relasi antar iman yang harmonis dan saling mengasihi.

Ketika rombongan sahabat Nabi melakukan hijrah pertama ke Habsyah (Ethiopia) dan diterima dengan penuh penghormatan dan perlindungan oleh Raja Negus (Najasyi) yang beragama Kristen. Saat utusan kafir Quraisy datang meminta Raja Negus mengusir rombongan tersebut, dengan tegas Raja Negus menolak.

Ja’far bin Abu Thalb pimpinan rombongan tersebut membacakan ayat-ayat Al-Qur’an mengenai Isa dan ibunya dan membuat Raja Negus beserta uskup Habsyah dan rohaniawan lainnya menangis tersedu-sedu hingga airmata membasahi janggut mereka.

Ketika Rasululllah hendak berhijrah ke Thaif, namun mendapatkan penolakan dan persekusi. Tubuhnya berlumuran darah oleh karena lemparan batu dari penduduk Thaif. Saat beliau menepi di sebuah kebun, seorang hamba sahaya beragama Kristen bernama Addas datang menolong dan memyuguhi Rasul setandan kurma dan anggur.

Pada kisah yang lain, ketika sekelompok rombongan Kristiani dari Najran datang ke Madinah untuk berjumpa dengan Nabi, rombongan  tersebut diterima di dalam Masjid Nabawi. Saat tiba waktu rombongan tersebut untuk melakukan ibadah, mereka  keluar dari masjid dan bersiap melakukan ibadah di tengah padang pasir Madinah yang panas. Nabi tak tega membiarkan mereka berpanas-panas kemudian memanggil dan mempersilakan mereka melakukan ibadah di dalam Masjid. Nabi kemudian mengikat perjanjian dengan orang-orang Kristen dari Najran dan biarawan Kristen dari Biara Saint Catherine.

Al-Qur’an pada beberapa ayat mempertegas differentia antara keyakinan Islam dan Kristen soal Isa. Al-Qur’an juga mengkritik perilaku sebagian Ahlul kitab (termasuk umat Kristiani di dalamnya) yang bersikap berlebihan. Namun harus diingat pula, Al-Qur’an menyebut orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang Islam adalah orang-orang Kristen (QS. 5:82).

Kedekatan persahabatan tersebut ditunjukkan dengan penerimaan raja dan pemimpiin Kristiani pada masa itu kepada Nabi dan sahabatnya. Raja Heraklius dari Roma dan Raja Muqauqis dari Mesir yang keduanya beragama Kristen. Meski keduanya tidak masuk Islam, namun keduanya memperlakukan surat dari Nabi dengan penuh hormat, memuliakan utusan yang membawa surat tersebut, mengirimi Nabi hadiah. Bahkan Raja Mesir menghadiahi Nabi salah seorang putri bangsawan Mesir untuk dinikahi oleh Nabi, yaitu Maria al-Qibtiyah.

Momen paling romantik adalah ketika pasca peristiwa Karbala, di mana Husain cucu Nabi beserta 72 keluarga dan sahabatnya dibunuh. Kemudian kepala mereka diarak dari Karbala ke Damaskus. Di tengah perjalanan, seorang pendeta Nasrani mengeluarkan seluruh hartanya sekadar untuk mendapatkan kesempatan membersihkan dan memuliakan kepala suci cucu Nabi tersebut walau hanya beberapa jam. Dengan cucuran airmata dan sikap penuh penghormatan pendeta tersebut membersihkan dan memuliakan kepala cucu Nabi itu.

Islam dan Kristen, dua agama yang lahir dari “rahim” Ibrahim dan saat ini keduanya menjadi agama dominan yang dianut penduduk dunia. Sudah saatnya umat keduanya melakukan rekognisi terhadap yang lain. Guna menjembatani jurang perbedaan dan menghapus stigma. Membangun dialog yang arif sebagai sesama “anak-anak Ibrahim”, dan melakukan kerjasama yang konstruktif untuk membangun tata dunia yang damai dan harmonis.

Jika ingin dunia kacau-balau, buatlah umat Islam dan Kristen saling membenci dan berperang, maka perang kolosal nan dahsyat akan terjadi yang melibatkan empat per tujuh dari penduduk dunia.

Kredit gambar: Artikula.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *