Salah ajaran yang paling fundamental dalam al-Quran dan atau agama Islam adalah keimanan. Iman adalah landasan setiap amalan keagamaan baik yang bersifat mahda (ibadah khusus) maupun amalan ghairu mahda, ibadah umum atau muamalah.
Dalam QS. al-Baqarah/ 2: 177 dikemukakan obyek-obyek yang diimani antara lain; 1) Iman kepada Allah; 2) Iman kepada hari akhir; 3) Iman kepada malaikat; 3) Iman kepada kitab-kitab; 4) Iman kepada para nabi atau rasul.
Obyek-obyek keimanan tersebut juga dikemukakan dalam hadis riwayat Muslim dari Umar bin Khattab, yang sangat masyhur, tapi dengan urutan penyebutannya berbeda dan jumlah obyek keimanannya juga tidak sama, yaitu: a) Iman kepada Allah; b) Iman kepada malaikat; c) Iman kepada kitab-kitab; d) Iman kepada para rasul; e) Iman kepada hari akhir dan f) Iman kepada takdir baik dan takdir buruk.
Iman dari sudut kebahasaan berakar pada huruf “alif, mim dan nun” yakni “amina.” Makna pokok dari kata ini adalah aman. Adapun rasa aman yang sejati adalah ketenangan hati dan hilangnya kekhawatiran. Dari ketiga huruf tersebut hadir kata “iman” yang berarti keimanan atau kepercayaan atau percaya, mempercayai. Seperti pada kalimat “رجل أمنة “ yang berarti laki-laki yang percaya kepada orang lain. Juga terbentuk kata أمين dan أمان yang berarti orang yang dapat dipercayai.
Menurut penulis, kata iman dengan kata aman memiliki keterkaitan makna yang sangat kuat, yakni dengan mengatakan keimanan akan menghadirkan ketenangan hati dan kedamaian atau keimanan menghilangkan kekhawatiran.
Secara istilah, iman didefenisikan oleh sebagai pakar dengan makna, “Membenarkan dengan hati, mengakui dengan lisan, dan beramal dengan anggota badan.” Dari definisi ini, jelas iman itu mencakup tiga dimensi, yaitu pengakuan hati, perkataan dan perbuatan. Ketiganya bersifat simultan dan satu kesatuan. Dengan perkataan lain, keimanan yang benar dan sempurna adalah pengakuan hati terhadap rukun-rukun iman yang merupakan aspek batiniah mesti merealitas dalam bentuk perkataan dan perbuatan.
Tidak cukup hanya pengakuan hati tanpa action dalam bentuk perkataan maupun perbuatan sebagi bukti kebenaran. Di sisi lain, juga dapat ditegaskan bahwa perkataan dan perbuatan yang sejati, mesti bersumber dari keimanan hati. Dengan kata lain, iman di hati menjadi landasan perkataan dan perbuatan. Menurut penulis, konsepsi keimanan yang demikian ini, sangat sejalan dengan penggunaan kata iman dalam al-Quran, seperti akan dikemukakan berikut ini.
Dalam al-Quran kata iman sendiri ditemukakan penggunaannya sebanyak 47 kali. Kata “مؤمن“ yang bermakna orang mukmin, baik dalam bentuk tunggal atau mufrad, mutsanna dan jamak atau plural ditemukan sebanyak 230 kali. Sementara dalam bentuk kata kerja lampau (fi’il madhi) ditemukan penggunaannya sebanyak 343 kali; dalam bentuk fi’il mudhariy (yang menunjuk waktu sekarang dan akan datang) ditemukan penggunaanya sebanyak 179 kali dan dalam bentuk kata kerja perintah (fi’il al-amr) ditemukan sebanyak 18 kali.
Berdasarkan jumlah ayat al-Quran tentang iman yang begitu banyak, menunjukkan bahwa masalah iman adalah pembahasan yang paling utama dan penting dalam a-Quran. Bahkan masalah iman dan keimanan merupakan wacana yang paling pertama dibicarakan dalam musaf al-Quran, yakni pada ayat 3-21 dalam surah al-Baqarah. 19 ayat pada awal surah kedua ini dapat dibagi menjadi tiga pembahasan keimanan, yaitu: Pertama, keimanan yang sempurna dari kelompok orang bertakwa. Kedua, ketiadaan iman bagi kelompok orang yang benar-benar telah kafir. Ketiga, keimanan palsu dari kelompok orang munafik.
Bagian ketiga ini, akan diuraikan lebih lanjut. Ayat yang relevan adalah QS. al-Baqarah/ 2: 8:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ
Terjemah: Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami telah beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang mukmin.
Kandungan ayat 8 di atas menginformasikan keberadaan sebagian manusia yang mengaku telah beriman kepada Allah dan hari kemudian, namun Allah menegaskan bahwa mereka sesungguhnya tidak termasuk kelompok orang mukmin.
Hal yang menarik untuk dicermati dari teks ayat 8 di atas, diksi yang digunakan Allah dalam menolak pengakuan kebenaran iman sebagian manusia tersebut, seperti yang tergambar dalam frasa “امنا,” yang berarti “kami telah beriman”. Pilihan diksi yang dimaksud adalah klausa “وما هم بمؤمنين” yang berarti “dan mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang mukmin.”
Pada diksi negasi pilihan Allah di atas, Allah menggunakan isim fail (kata pelaku) yakni kata “بمؤمنين” yang didahului dengan kata negasi yakni “ما هم.” Allah tidak menggunakan diksi negasi lainnya. Misalnya negasi kata kerja yang menunjuk waktu sekarang dan akan datang (fi’il mudhariy), yakni “وهم لايؤمنون ,” yang berarti dan mereka tidak beriman.” Dan atau diksi dalam bentuk kata kerja yang menunjuk masa lampau (fi’il madhiy), yaitu “وما هم امنوا,” yang berarti “dan mereka tidak telah beriman.”
Perbedaan bentuk ketiga diksi negasi ini menunjukkan perbedaan makna. Sebuah kaidah bahasa Arab menunjukkan hal tersebut, yakni اختلاف معاني في اختلا ف مباني,” yang berarti “perbedan makna (terjadi) pada perbedaan bentuk kata.”
Selanjutnya, penggunaan diksi dalam bentuk isim fa’il yakni “بمؤمنين”, menunjuk makna kemantapan iman dalam hati yang merealitas dalam action, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan maupun akhlak. Dengan kata lain, kelompok orang mukmin, imannya kuat, kokoh, mantap dan realisasinya sempurna dalam kehidupan praktis.
Berbeda dengan penggunaan diksi dalam bentuk kata kerja, tidak menunjukkan kekokohan dan kemantapan iman. Sandainya keimanan mereka itu ada dalam diri mereka, namun patut diduga keras, belum, untuk tidak mengatakan tidak merasuk dalam hati mereka. Pengakuan keimanan hanyalah penghias lisan dan bibir mereka untuk sebuah kepentingan dan keuntungan fisikal material duniawi.
Perbedaan kedua diksi tersebut, dapat dipahami dari perbedaan perkataan yaitu: “Saya seorang pemain bola” dengan perkataan: “Saya bermain bola.” Perkataan pertama menunjuk makna bahwa orang tersebut adalah pemain bola yang profesional. Sedang perkataan kedua, tidaklah demikian. Dia hanya sesekali bermain bola tetapi bukan pemain professional. Juga perkataan; “saya seorang koki, tukang masak” berbeda dengan perkataan “saya memasak.” Perkataan perkataan pertama menunjukkan bahwa dirinya seorang chef. Sedang perkataan kedua bukan seorang chef.
Kita kembali kepada penggunaan diksi “وما هم بمؤمنين” sebagai jawaban atas diksi pengakuan bahwa betul-betul telah beriman, yakni frase “امنا.” Menurut penulis, salah makna isyari yang kuat yang dapat dipahami dari pemilihan diksi “وما هم بمؤمني” sebagai jawaban Allah atas pengakuan keimanan kepada-Nya seperti ditunjuk oleh frasa “امنا,” adalah: “bahwa pengakuan keimanan kepada Allah yang dinyatakan oleh seseorang, sejatinya berujung dan berakhis pada menjadi seorang mukmin (iman becomes mukmin).
Namun, jika sekiranya tidak demikian, maka pengakuan keimanan tersebut adalah pengakuan keimanan palsu. Kualitas iman yang demikian, penulis istilahkan “iman but not mukmin”. Kualitas iman yang demikian adalah iman kemunafikan atau keimanan orang munafik.”
Adapun ciri utama dari keimanan kemunafikan, iman kelompok orang munafik atau iman but not mukmin antara lain: Pertama, hati pemilik iman tetapi bukan mukmin, dipenuhi dengan berbagai penyakit hati dan penyakit hati tersebut terus bertambah dan tidak berkurang (QS. al-Baqarah/ 2: 10). Contoh dari penyakit hati tersebut adalah kebenciaan kepada Rasulullah saw. dan terhadap pengikut beliau, kebodohan akan ajaran risalah Muhammad saw.
Kedua, bentuk penyakit hati lainnya adalah senantiasa melakukan gerakan makar penipuan. Menampakkan perkataan dan perbuatan yang baik serta akhlak yang terpuji, padahal ada tujuan buruk yang tersebunyi, seperti untuk mendapatkan keuntungan duniawi dan fisikal material.
Penipuan yang dilakukan oleh seorang pemilik iman but not mukmin, tidak hanya ia lakukan terhadap Rasulullah dan umat beliau, bahkan terhadap Allah sekalipun. Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, ingin ditipunya pula. Inilah tanda paling jelas, nyata dan tegas dari kebodohan mereka. (QS. al-Baqarah/ 2: 9).
Bukti kebodohan pemilik iman but not mukmin, mereka sama sekali tidak menyadari diri mereka, bahwa mereka telah menjadi sebagai kelompok orang perusak (al-mufsidun). Sebaliknya, mereka senantiasa mengaku sebagai al-mushlihun, yakni kelompok orang yang menegakkan gerakan perbaikan (QS. al-Baqarah/ 2: 11-12).
Ketiga, bukti nyata ketiadaan iman, walaupun sedikit dari kelompok orang yang memiliki iman but not mukmin adalah mereka menganggap bahwa kelompok orang yang beriman yang keimanannya menjadikannya mukmin, merupakan kelompok orang yang dungu atau bodoh kuadrat. Padahal sesungguhnya yang dungu dan bodoh kuadrat adalah mereka. Oleh karena pengakuan keimanannya tidak menjadikannya mukmin. (QS. al-Baqarah/ 2: 13).
Keempat, penyakit yang tidak kalah buruk, tercelahnya serta berbahaya dan mematikan rohani yang dimiliki oleh pemilik iman but not mukmin adalah menjadi pengolok-pengolok Allah dan Rasulullah saw. beserta orang-orang mukmin.
Dengan menjadi tukang pengolok, mereka dinisbahkan kepada setan. Dalam kesendirian mereka senantiasa bersama setan-setan mereka. Bersama setan-setan mereka, mereka menegakkan makar yang sangat tercela untuk mengolok-ngolok Allah, Rasulullah saw. dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. dengan keimanan sejati.
Dengan menjadi penggerak atau tukang pengolok-ngolok, pemilik iman but not mukmin, sungguh telah tenggelam di dalam kesesatan yang nyata. Mereka terombang ambing di dalam kesesatan, tanpa bisa keluar, terlepas dan terbebas dari kesesatan. Sungguh mereka dengan penuh kerelaan telah menukar petunjuk dengan kesesatan. Akibatnya mereka sama sekali tidak tergolong, terhempas keluar menjauh dari kelompok al-muhtadiin orang yang memperoleh petunjuk (QS. al-Baqarah/ 2: 14-16).
Pemilik iman but not mukmin, sungguh telah berada dalam lautan kegelapan yang dalam dan bergua tanpa cahaya terang. Mereka sungguh telah buta, tuli, dan bisu. Oleh karena itu mereka tidak mampu kembali kepada kebenaran dan tidak akan pernah menjadi kelompok orang mukmin ما هم بمؤمنين (QS. al-Baqarah/ 2: 17-18) Sebaliknya, pemilik iman but not mukmin menjadi kelompok al-kafirun, (QS. al-Baqarah/ 2: 19-20).
Kelompok al-kafiruun adalah kelompok orang yang meskipun diberi peringatan dan atau tidak diberi, mereka sama sekali tidak punya iman meskipun sedikit ( لايؤمنون). Oleh karena, potensi intelektual mereka telah tertutup dan terkunci rapat, yakni hati mereka telah terkunci, demikian pula pendengaran mereka, serta penglihatan mereka tertutup (QS. al-Baqarah/ 2: 6-7).
Keterangan lain yang penulis patut dan menarik untuk dijelaskan adalah penggunaan dan pemilihan diksi لايؤمنون yang menjadi klausa penutup ayat 6. Pertanyaannya adalah mengapa Allah Swt. memilih diksi لايؤمنون untuk kelompok al-kafirun. Sementara untuk kelompok orang yang mengaku beriman namun iman but not mukmin atau al-munafiqun, memilih menggunakan diksi وما هم بمؤمنين” seperti telah diuraikan di atas.
Menurut penulis, penggunaan dan pemilihan diksi لايؤمنون sungguh mengisyaratkan makna bahwa kelompok al-kafirun dengan sebenar-benarnya kekafiran, sama sekali tidak memiliki keimanan sedikit pun untuk selamanya. Oleh karena pintu dan jalan keimanan bagi al-kafirun, telah tertutup dengan sangat rapat dan tidak akan terbuka lagi. Hati dan pendengaran mereka telah terkunci dan penglihatan mereka telah tertutup. Hati mereka benar-benar hati telah gelap gulita tanpa cahaya terang sedikit pun (hati dhulamani), pendengaran hati mereka telah tuli dan mata hati mereka telah buat serapat-rapatnya.
Berbeda dengan kelompok orang munafik, diduga mereka memiliki secerca cahaya keimanan, seperti tergambar dalam perumpumaan atau matsal al-Quran tentang keadaan mereka diperumpamakan seperti orang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekeliling mereka, Allah menghilangkan dan membawa pergi cahaya yang menerangi mereka. Akibatnya mereka berada dalam kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis (في ظلمات).
Kata ظلمات adalah bentuk plural atau jamak dari kata ظلمة yang berarti kegelapan. Keimanan dalam hati mereka redup dan bahkan benar-benar mati. Keimanan mereka tidak dapat menjadikan mereka mukmin atau iman but not mukmin. Puncak dan akhirnya mereka menjadi kelompok al-kafirun, yakni manusia tanpa iman sedikit pun.
Kredit gambar: https://bincangsyariah.com/

Doktor di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Al-Qur’an. Dosen di Unhas Makassar dan UIN Alauddin Makassar


Leave a Reply