Di antara perasaan takut (khauf), duka cita (huzn), dan harapan (raja’) (ketiganya telah dijelaskan pada dua tulisan sebelumnya), hadir perasaan sabar yang membuat ketiga perasaan tersebut senantiasa positif dan tetap terkendali.

Sabar secara bahasa berarti menahan atau mencegah, diartikan pula sebagai menahan diri dari berkeluh kesah. Dapat pula diartikan sebagai “tidak tergesa-gesa bertindak sebelum waktunya.” Kesabaran mengarahkan lisan dan perbuatan, untuk berkata dan bertindak tepat sesuai kadar dan waktunya.

Nashr al-Din al-Thusi, mendefenisikan sabar, “Mencegah jiwa dari perasaan was-was ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Menurut al-Thusi, sabar mencakup; melindungi batin dari pergolakan, menahan lidah dari keluh-kesah dan mencegah anggota tubuh dari melakukan perbuatan yang merugikan.

Quraish Shihab menerangkan sabar sebagai, “Menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.” Nurcholish Madjid mennyatakan sabar sebagai “Ketahanan menunda kesenangan yang bersifat sementara karena berharap dan yakin akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar dan lama (bahkan permanen).”

Oleh karena kesabaran berkenaan dengan pendekatan diri kepada Allah, sebagai upaya pencapaian kualitas rohani yang lebih baik dan tercegah dari kerugian, maka sabar tidak memiliki batasan.

Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan tentang sabar, “Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.”

Dalam pesannya yang lain, Imam Ali menyebutkan sabar itu ada dua jenis, yaitu; “Bersabar atas sesuatu yang tidak kau inginkan dan bersabar atas sesuatu yang kau inginkan”. Sangat mungkin, sesuatu yang awalnya tidak kita inginkan justru itulah yang menyelamatkan kita dan sebaliknya sesuatu yang kita inginkan justru itulah penyebab celakanya kita.

Oleh sebab itu, bersabar tidak hanya menyangkut ketika menerima musibah namun juga saat memperoleh anugerah, karena hakikatnya semua adalah ujian untuk menguji kualitas rohani kita.

Lisan suci Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan dalam Mustadrak al-Hakim menyebut “Kesabaran sebagai setengah dari iman.” Dengan demikian, kesabaran merupakan faktor penting dalam spiritualitas Islam karena kesabaran dikaitkan dengan pendekatan diri kepada Allah.

Ada dua ayat, Allah menggandengkan sabar dengan salat sebagai penolong, yaitu pada QS. 2:45 dan 153. Dalam QS. 2:45, dilanjutkan dengan kalimat, “dan yang demikian itu sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyuk”. Sedangkan dalam ayat 153 diakhiri dengan kalimat, “sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”

Dalam konteks syariat, sabar berkaitan dengan kekuatan rohani yang memacu diri dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sabar adalah daya gerak dan resistensi bagi rohani untuk tetap kuat dan jasmani untuk terus berbuat.

Imam Ali bin Abi Thalib mengajarkan, kesabaran bukanlah sekadar menunggu waktu berlalu tanpa melakukan apa pun, tapi sebagai sikap aktif dalam menghadapi berbagai rintangan.” Kesabaran adalah keniscayaan dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan struggle (perjuangan), tanpanya kita akan apatis dan menyerah dalam mengarungi perjuangan kehidupan.

Dengan demikian, secara spiritual sabar dan salat memiliki kedudukan yang setara sebagai penolong rohani dari kemudaratan. Salat disebut pula sebagai sebab pemantik kekuatan rohani untuk tercegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29:45).

Syarat untuk menjadikan sabar dan salat sebagai penolong adalah keadaan rohani yang khusyuk, yaitu keberserahan diri dan ketenangan dalam beribadah karena segenap pikiran dan hati hanya diarahkan kepada Allah.

Itulah sebabnya, Allah akan senantiasa bersama orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang pikiran dan hatinya hanya terpaut pada Allah sehingga dalam beribadah benar-benar dalam keadaan muthmainnah (tenang dan berserah).

Menurut Sayyid Ali Khamenei, sabar adalah resistensi jiwa dalam mengatasi rintangan baik internal maupun eksternal dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sayyid Ali menganalogikan dengan seorang pendaki (karena hakikatnya perjalanan spiritual adalah pendakian yang curam dan ekstrem).

Seorang pendaki untuk dapat sampai ke puncak gunung yang ingin dituju harus mampu mengatasi rintangan yang berasal dari dalam dirinya seperti rasa malas, lelah, dan lainnya. Hal yang juga harus diatasi adalah rintangan eksternal seperti cuaca dingin, badai, jalan yang terjal dan curam serta yang lainnya yang dapat membuatnya menyerah di tengah perjalanan.

Dalam kajian akademik tasawuf secara umum, memasukkan sabar sebagai salah satu jenjang maqam rohani. Namun, Nashr al-Din al-Thusi menempatkan sabar sebagaimana khauf, huzn, dan raja’  sebagai bagian dari tahapan pencarian kesempurnaan dan pencapaian maqam-maqam pesuluk.

Ramadan adalah bulan yang menguji kesabaran orang-orang yang beriman untuk meraih ampunan, kasih-sayang, rahmat, dan rida Allah. Mengurangi aktivitas yang bertujuan untuk memperoleh kesenangan dunia demi untuk memperbanyak ibadah membutuhkan kesabaran.

Di awal Ramadan banyak orang yang memulainya dengan perasaan eforia, walhasil di tengah perjalanan berguguran satu per satu, yang tertinggal hanyalah mereka yang memiliki kesabaran, sehingga benar-benar istikamah dalam kuantitas dan kualitas ibadah.

Perintah menahan dalam syariat puasa, sejatinya memupuk kesabaran dalam rohani sebagai bekal,untuk melakukan perjalanan “menuhan”. Selanjutnya, kesabaran tersebut menjadi kekuatan yang membimbing saat “menahun bersama Tuhan”.

Kredit gambar: Laduni.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *