Perasaan takut atau khauf (telah dibahas pada tulisan sebelumnya) pada sesuatu yang akan terjadi, semestinya menumbuhkan hadirnya harapan kepada Allah. Seorang pejalan spiritual harus menumbuhkan harapan (raja’) yang kuat dalam rohaninya akan limpahan rahmat dan rida-Nya yang amat luas.
Raja’ secara etimologis berarti berharap, secara terminologis bermakna perasaan hati yang senang karena menanti sesuatu yang diinginkan. Harapan lahir dari iman yang kuat, putus asa (tiadanya harapan) merupakan indikasi tidak adanya iman.
Dalam QS. 12:87, Allah menyinggung hal tersebut,“Janganlah kamu berputus asa dari kasih Allah, sebab sesungguhnya tidaklah berputus asa dari kasih Allah kecuali kaum yang kafir.”
Harapan selalu beriringan dengan rasa takut, dalam QS. 32:16, Allah berfirman,“Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan perasaan takut (khauf) dan harapan (raja’). Harapan dan takut tidak bisa ada yang lebih besar daripada yang lainnya.
Bila harapan lebih besar dari rasa takut, maka hal ini akan menimbulkan perasaan aman yang tidak pada tempatnya. Allah menyinggung hal tersebut dalam Firman-Nya di QS. 7:99, “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah.” Jika rasa takut lebih besar daripada harapan, maka akan menimbulkan perasaan putus asa, yang membawa pada kerusakan sebagaimana yang diisyaratkan dalam QS. 12:87.
Hadirnya harapan bagi orang beriman, merupakan realisasi dari prasangka baik kepada Allah Satu hadis qudsi menegaskan, “Aku sesuai dengan yang diprasangkakan oleh hamba-Ku.”
Menurut Nurcholish Madjid, lafal zikir tasbih, tahmid, dan takbir, merupakan petunjuk dari Rasulullah saw, agar hati kita senantiasa diliputi prasangka baik dan harapan kepada Allah.
Lafal Subhanallah (Mahasuci Allah) dimaksudkan untuk membebaskan diri kita dari prasangka buruk kepada Allah. Adapun lafal Alhamdulillah artinya menanamkan pada diri kita persepsi yang positif dan optimis kepada Allah. Sedangkan lafal Allahu Akbar adalah pernyataan tekad untuk mengarungi lautan hidup dan menghadapi gelombangnya dengan penuh keberanian, karena kita yakin Tuhan Mahabesar beserta kita.
Dalam perjalanan spiritual, seorang salik mesti menumbuhkan harapan (raja’) setelah hadirnya rasa takut (khauf). Raja’ merupakan kelapangan dan keterbukaan hati dalam menantikan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini adalah penantian akan kedekatan dengan Allah, pengharapan akan rida dan rahmatnya.
Dalam QS. 2:218 dinyatakan bahwa orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad sebagai orang-orang yang mengharap rahmat Allah. Harapan berbeda dengan angan-angan (tamanni). Raja’ meniscayakan ilmu dan iman serta diwujudkan dengan ikhtiar, untuk meraih yang diharapkan. Sedangkan tamanni adalah menghendaki sesuatu yang disukai yang tidak bisa diharapkan tercapainya. Kenapa tidak bisa diharapkan tercapai?, karena tidak disertai ilmu dan ikhtiar untuk mencapainya. Raja’ adalah sifat yang terpuji, sedangkan tamanni adalah sifat yang tercela.
Dalam perjalanan spiritual, sebagian besar sufi memasukkan raja’ sebagai salah satu maqam yang dilalui. Namun, menurut Nashr al-Din al-Thusi, raja’ sebagaimana khauf dan huzn adalah sebagai bagian dari tahapan pencarian kesempurnaan dan pencapaian maqam-maqam pesuluk.
Raja’ adalah suasana hati dan yang menghiasi rohani pesuluk dalam proses perjalanannya menghampiri Allah (“menuhan”). Hadirnya harapan mendorong gerak rohani menjadi lebih dinamis dan optimis.
Harapan melahirkan semangat dan kesungguhan, untuk mencapai derajat-derajat kesempurnaan dan mempercepat akselerasi gerak rohani dalam mencapai tujuan perjalanannya. Harapan adalah sumber optimisme akan ampunan dan kasih-sayang Allah yang mendahului murka-Nya.
Raja’ serupa katalisator yang mengantar rohani dalam mengarungi maqamat dalam perjalanan suluknya. Namun, menurut Nashr al-Din al-Thusi, ketika seorang pesuluk telah sampai pada maqam pengenalan yang hakiki (ma’rifah) saat itu harapannya sudah tidak “bermakna” lagi.
Pada maqam ini seorang pesuluk sudah ikhlas untuk menerima apapun yang telah terjadi, dan pada saat yang sama, dia mengetahui bahwa dia tidak akan pernah dihadapkan pada sesuatu yang tidak pernah atau tidak mungkin terjadi.
Hilangnya raja’ ketika seorang pesuluk telah sampai pada suatu keadaan di mana keinginannya (iradah) telah menyatu dengan keinginan Allah. Kondisi ini adalah puncak seseorang sebagai muslim sejati, dalam pengertian keberserahan diri yang total kepada Allah.
Keikhlasan telah permanen sebagai kualitas rohaninya, yang menyebabkan kuatnya imunitas rohani sehingga iblis pun sudah tidak bisa lagi menyesatkannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah pada QS. 15:42.
Ramadan adalah bulan pengharapan, limpahan janji akan rahmat, ampunan, dan kasih-sayang Allah memantik harapan, untuk mencapai derajat kesucian dan kesempurnaan. Bagi para pesuluk, Ramadan adalah bulan harapan yang menjanjikan akselerasi pendakian rohani dalam gerak “menuhan”.
Bila bagi kalangan awam, Ramadan menjanjikan harapan bagi diampuninya dosa dan pembebasan dari neraka. Sedangkan bagi pesuluk, Ramadan menjanjikan pembebasan atas hijab-hijab yang menghalangi perjalanan rohani untuk sampai kepada Allah.
Dilipatgandakannya nilai dari setiap amal kebaikan di bulan Ramadan, menjanjikan harapan akselerasi spiritual, sebagai bekal untuk mengarungi bulan-bulan setelahnya. Dengan ikhtiar menahan, Ramadan menjanjikan akselerasi dalam gerak “menuhan”, sebagai bekal untuk menahun bersama Tuhan.

Doktor di bidang studi agama. Peneliti pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN. Memiliki spesifikasi pada kajian agama dan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia.


Leave a Reply