Tafakkur

Dalam proses uzlah dan khalwat (sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya), hal terpenting yang dilakukan selain menggiatkan diri dengan ibadah, adalah dengan melakukan tafakur. Secara bahasa tafakkur berarti permenangan atau kontemplasi. Tafakkur serupa gerak rohani dari kurang tahu menjadi tahu, dari kekurangan menuju kesempurnaan.

Dalam Al-Qur’an, istilah tafakkur semakna dengan istilah nazhara (mempertimbangkan, memperhatikan, memikirkan -QS. 10:101, QS. 7:185-), tabashshur (memahami-QS. 12:108-), tadabbur (merenungi -QS. 38:29-), tafaqquh (memahami sepenuhnya atau mengerti -QS. 6:65 dan 126-), i’tibar (mengambil pelajaran, -Qs. 59:2-), ta’aqqul (menggunakan akal dengan benar –QS. 22:46-), tawassum (membaca tanda-tanda yang tersirat -QS. 15:75-), dan tadzakkur (mengingat -QS. 2:221-).

Tafakkur sejenis upaya akal untuk  memahami sesuatu, menemukan maknanya, dan mencapai hakikatnya. Tafakkur sebentuk proses abstraksi untuk menemukan pengetahuan yang jernih dan hikmah yang agung.

Dalam proses khalwat, tafakkur khususnya digunakan saat kita melakukan muhasabah dan muraqabah yang mengantarkan pada kesadaran betapa lemah, kecil, hina, dan relatifnya kita di hadapan Allah yang Mahakuat, Mahabesar, Mahasuci, dan Mahamutlak.

Proses tafakkur ini membawa kesadaran rohani untuk “melambung” tinggi, guna mendekat pada Allah (“menuhan”), melalui aktivitas ibadah kepada-Nya dan pengkhidmatan kepada sesama makhluk-Nya.

 Menurut Nashr al-Din al-Thusi, hakikatnya tafakkur adalah perjalanan dari tempat asal (mabadi) ke tujuan (maqasid). Setiap manusia mesti mengetahui dari mana tempat dia berangkat dan dari mana perjalanan harus dimulai. Allah dalam QS. 41:53 menegaskan yaitu pada “segenap ufuk dan pada diri kita sendiri”.

Seluruh semesta, baik luar diri (makrokosmos) dan di dalam diri (mikrokosmos) adalah sumber pengetahuan yang amat luas, mesti direnungi sebagai tanda-tanda (ayat-ayat), serta sebagai jalan menuju Allah.

Dengan demikian, tafakkur serangkaian proses eksplorasi menyeluruh, terhadap satu kesatuan eksistensi, yang bermuara pada penguatan pemahaman dan keyakinan tauhid.

Akal adalah instrumen epistemologis pada manusia, yang dijadikan alat untuk melakukan tafakkur. Melalui akallah manusia memperoleh pengetahuan dan mengembangkannya demi memudahkan kehidupannya. Melalui pengetahuan tersebut, manusia menghasilkan kemajuan dan membangun peradaban.

Keberadaan akal pula yang membuat manusia mengenali, apa yang disebut benar dan salah serta baik dan buruk. Karena akallah, manusia menjadi makhluk yang tunduk pada hukum-hukum logika dan etika.

Keberadaan akal dalam dirinya, membuat manusia memiliki tanggung jawab personal maupun sosial. Hal terpenting, karena akallah Tuhan menurunkan agama kepada manusia, sebab, “Agama adalah akal dan tidak beragama bagi orang yang tak berakal”.

“Akal adalah kekayaan terbesar dan tidak ada harta yang lebih berharga tinimbang akal”, tutur Imam Ali bin Abi Thalib. Akal adalah cahaya Robbani, yang dengannya jiwa dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh indera.

QS. 39:9 secara eksplisit menyebutkan, akal adalah instrumen untuk mendapatkan pelajaran  (pengetahuan). Melalui pengetahuan inilah, manusia mengenali dan membedakan benar dan salah, mengambil hikmah guna mengambil kebaikan dan menghindari keburukan.

Dari sinilah manusia kemudian beranjak, mengalami proses gerak menyempurna, sehingga kedudukannya dapat melebihi malaikat tertinggi sekalipun.

Prof. Harun Nasution menyatakan, dalam bahasa Alquran tentang akal, sebagai kerja berpikir dan memahami sangat identik dengan qalb. Dengan demikian, oposisi biner akal-hati dalam Al-Qur’an tidak dikenal, implikasinya perspektif ilmu-iman dan intelektual-spiritual sejatinya tidaklah dikotomik.

Tampaknya, hal inilah yang menginspirasi filosof muslim yang senantiasa menjadikan akal dan hati (qalb), sebagai dua hal yang sejatinya memiliki fungsi yang sama.

Toshihiko Izutsu menuliskan, akal memiliki pengertian yang sama dengan nous dalam Filsafat Yunani, yaitu daya berpikir yang terdapat di dalam jiwa manusia. Akal merupakan potensi yang bersifat rohani. Hakikat akal adalah cahaya rohani, menuntun manusia mengenal suatu hakikat dan makna, sekaligus memberikan justifikasi dan pertimbangan mengenai nilai baik dan buruk.

Hakikat akal yang bersifat rohani ditegaskan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, “Roh adalah kehidupan badan dan akal adalah kehidupan roh”.

Sifat dasar akal yang cenderung pada kebenaran dan mencintai kebaikan, menjadikan kerja akal sebagai kunci keselamatan dan kebahagiaan. Maksimalisasi kerja akal yang bersifat rohaniah tersebut, berbanding lurus dengan pelepasan rohani manusia atas kemelekatan pada dunia material.

Bila rohani terikat kuat pada dunai material, maka akal akan tertahan untuk terbang ke dimensi rohani yang tinggi. Gelapnya dunia materi, membuat akal terkurung dan terhalang, hingga tak lagi dapat mencerap Cahaya-Cahaya Ilmu Rabbani. Dengan demikian, akal harus bebas dari penjara dunia materi dan independen dari dorongan hawa nafsu duniawi.

Ramadan adalah bulan memperbanyak tafakkur, karena Ramadan adalah merupakan pembenahan kesadaran diri dan peningkatan kualitas rohani. Puasa serupa sarana bagi akal yang selama ini terkurung dalam sangkar hawa nafsu untuk melepaskan diri.

Menyingkir sejenak dari riuh dunia materi, yang penuh hiruk-pikuk karena angan-angan dan ambisi. Bising dunia, membuat akal tak maksimal bertafakkur untuk mendengarkan suara-suara kebenaran dari kedalaman batinnya, yang selama ini terabaikan.

Menahan diri dari dorongan hawa nafsu selama puasa, membuat akselerasi kerja akal semakin meningkat dan mengantarkan pada pikiran yang jernih, wawasan yang luas dan mendalam serta jiwa yang tenang (muthmainnah).

Puasa orang yang banyak ber-tafakkur bukan puasa yang sekadar menahan rasa lapar dan haus sepanjang siang, tapi puasa yang karenanya rohani “menuhan”.

Puasa yang memberi nutrisi rohaniah dan menjadi kekuatan, yang menggerakkannya sepanjang tahun, pada jalan yang digariskan oleh Tuhan. Itulah puasa yang “menuhan”, hasilnya menahun bersama Tuhan.

Kredit gambar: https://majalahorasi.wordpress.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *