Guru Bicara Parenting

Istilah parenting merupakan kata yang kerap kita dengarkan di kalangan para orangtua atau orang-orang yang berkecimpung di dunia pengasuhan anak. Namun kali ini sekumpulan guru penggerak di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan tertarik untuk mengangkat tema tersebut jadi pembahasan diskusi mereka. 

Untuk itu, pada tanggal 23 Maret 2024 kemarin saya diundang sebagai narasumber di hadapan kurang lebih 500 orang guru. Rupanya salah seorang di antara penyelanggara kegiatan sudah mengenali saya sebagai seorang praktisi yang telah lama malang-melintang di dunia kepengasuhan.

Saya mulai tertarik menekuni bidang ini sejak anak pertama kami belum lahir. 30 tahun lalu tepatnya. Pada waktu itu media untuk orang-orang yang ingin belajar bagaimana cara mengasuh dan membesarkan anak, hanya bisa diperoleh lewat talk show dengan pakar dari televisi dan radio. Sementara untuk media tulis, bisa didapatkan dari buku, majalah, atau tabloid. Semisal apa tindakan yang dilakukan jika anak berperilaku menyimpang, bagaimana mengatasi persaingan antarsaudara, serta sejumlah persoalan lainnya yang berkaitan dengan anak dan keluarga. Seserius itu kami belajar. Alhasil banyak manfaat yang diperoleh. Di antaranya kemudahan dalam mengatasi persoalan anak yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Sekarang, banyak cara untuk mendapatkan pengetahuan. Jika tidak suka membaca, bisa menonton tayangan video penjelasan dari mereka yang berkompeten di bidangnya. Mulai durasi pendek hingga versi panjang, semuanya lengkap tersedia. Sisa kesungguhan dan ketekunan dalam mempraktikkannya.

Selain membaca tulisan-tulisan lepas dari berbagai sumber serta buku-buku, saya pun aktif mengikuti pelatihan-pelatihan. Metode yang saya gunakan, belajar kemudian mempraktikkan, melakukan evaluasi, belajar lagi untuk memperbaiki, lalu praktikkan hasilnya. Seperti itu siklusnya. Sehingga boleh dikata, guru saya selain buku adalah pengalaman dalam berinteraksi dengan anak-anak. Baik anak sendiri maupun anak orang lain.

Nah, semangat ini yang senantiasa ingin saya tularkan kepada para orangtua, termasuk guru-guru pada acara webinar kemarin.

Sesi pembuka saya awali dengan sebuah pertanyaan, “Mengapa kita harus mendidik dengan teknik parenting?”

  1. Karena anak-anak adalah manusia yang mesti diperlakukan secara manusiawi.
  2. Karena anak-anak adalah aset masa depan yang akan melanjutkan estafet kepemimimpinan kita di muka bumi ini.
  3. Pendekatan parenting lebih berpeluang besar mendapatkan kerja sama anak-anak dibandingkan metode lain.

Kenapa saya melontarkan pertanyaan tersebut di atas, untuk memunculkan kesadaran betapa luar biasanya teknik ini jika kita mampu memahami dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh.

Sebelum memaparkan secara konkret apa saja poin-poin yang perlu dilakukan guru dalam menjalankan teknik parenting ini, terlebih dahulu saya menggali kesadaran para peserta untuk mengevaluasi beberapa hal penting yang berkaitan dengan cara pandang kita terhadap anak didik.

Pertama, guru semestinya mampu menghormati dan menghargai setiap anak bagaimanapun kondisinya. Kedua, guru senantiasa mampu menumbuhkan prasangka baik pada setiap anak. Ketiga, meyakini setiap anak sempurna, karena Allah menciptakan mereka dalam kondisi terbaik sesuai versi-Nya.

Bagaimana penjabarannya dalam perilaku sehari-hari? 

  • Guru mau meluangkan waktu untuk mendengarkan murid.
  • Guru mampu bersikap adil dan tidak pilih kasih.
  • Memberikan perhatian yang sama pada setiap murid.
  • Banyak memberikan contoh dan teladan.
  • Tidak berlebihan dalam memberikan nasihat. Jika ingin menasihati, pastikan kita sebagai guru sudah berada dalam zona melakukan.
  • Tegakkan kejujuran dan tanamkan integritas.
  • Tumbuhkan sikap kritis pada murid.
  • Tidak meremehkan pendapat murid.
  • Jaga perasaan murid dengan tidak menunjukkan kesalahannya di depan umum.
  • Dukung dan apresiasi ide dan karya mereka seremeh apa pun tampaknya.

Kondisi ideal lainnya yang diharapkan adalah, 

  • Sekolah dan rumah mesti bekerja sama.
  • Ajaran guru tidak bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai yang diajarkan oleh orangtua di rumah.
  • Perlu perbaikan sistem pendidikan, tidak membebani guru dengan urusan administratif sehingga waktu untuk memikirkan ide-ide dan menumbuhkan kreativitas siswa menjadi lebih banyak.
  • Komposisi jumlah murid dan guru masih perlu diseimbangkan.

Kita semua menyadari, tidak mudah dalam pelaksanaannya, tetapi bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk dipraktikkan. 

Seorang peserta bertanya, bagaimana cara agar agar guru memiliki pengaruh, tanpa perlu bersenjatakan amarah?

Jawabannya sederhana, pengaruh itu bukanlah sesuatu yang diberikan atau disematkan, melainkan ia merupakan proses dari sebuah pertumbuhan kepribadian. Apakah sebagai guru kita sudah melakukan apa yang kita katakan? Apakah sebagai guru kita sudah mencontohkan perilaku baik yang diinginkan untuk dilakukan oleh murid? Apakah kita sebagai guru sudah menghargai murid seperti halnya guru ingin dihargai?

Sepenggal kalimat motivasi dari Spencer Johnson dalam bukunya The One Minute Teachersetiap kita adalah murid sekaligus guru. Kita berada pada kondisi terbaik ketika kita masing-masing mengajar diri sendiri tentang apa yang perlu kita pelajari.


Comments

4 responses to “Guru Bicara Parenting”

  1. Herlina Avatar

    Luar biasa bu.. Sehat dan sukses selalu

    1. Mauliah Mulkin Avatar
      Mauliah Mulkin

      Sehat dan sukses selalu juga buat bu Herlina. Semoga bermanfaat.

  2. HJ. HUZALIPAH, S.Pd., Gr. Avatar
    HJ. HUZALIPAH, S.Pd., Gr.

    “Tidak berlebihan dalam memberikan nasihat. Jika ingin menasihati, pastikan kita sebagai guru sudah berada dalam zona melakukan.”
    Kalimat ini akan saya ingat slalu dan terapkan, terkadang sikap sosial saya yang tinggi sehingga lupa batasan saya dalam memberi nasihat, karena yang tertanam didiri saya muridku adalah anakku juga 🥰

  3. Mauliah Mulkin Avatar
    Mauliah Mulkin

    Setuju, murid di sekolah sudah dianggap anak sendiri. Sehingga kita mudah kasih nasihat. Nasihat boleh diberikan asalkan anak memintanya. Tetapi kalau anak hanya sekadar cerita, cukup didengarkan saja. Paling baik lagi jika kita mampu menunjukkan empati pada ceritanya.😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *