Awal mula mengaji Ketika usia 7 (tujuh) tahun, waktu itu saya dan kakak mengaji di madrasah yang kelasnya dibuka tiap sore. Pulang sekolah di siang hari, setelah itu sorenya kami ke madrasah untuk mengaji.
Gurunya masih dua orang, dan siswa yang mengaji juga masih sekitar enam orang. Salah satu guru kami, terkenal dengan ketegasannya dalam mengajar.
Beliau paling sering menguji bacaan kami dan jika salah pengucapan maka siap-siap sebatang pinsil yang ujungnya runcing mendarat di perut kami dan dipelintir hingga pengucapan kami benar.
Namun, itu justru membuat kami lebih serius mengeja huruf-huruf hijaiyah tersebut dengan baik. Pada saat itu belum ada metode IQRO yang mengenalkan huruf secara bertahap, jadi kami harus langsung menghafal semua huruf hijaiyah tersebut lengkap dengan penulisan dan makhroj atau pengucapannya.
Menginjak usia SMP, saya sudah tidak mengaji lagi di madrasah, tapi melanjutkan ke metode yang lebih tinggi, yaitu belajar melagu istilah di daerah kami atau melantunkannya sehingga enak didengar.
Kami diajarkan cara membaca ayat demi ayat, dengan penekanan panjang pendek huruf, kapan berhenti, kapan lanjut, dan kapan dengung semua diajarkan. Guru kami saat itu adalah sepasang suami istri yang menyediakan rumahnya buat kami mengaji tiap sore.
Di Sekolah Menengah Atas, saya dan beberapa teman selalu menjadi pengurus Rohis atau Rohani Islam, dan di tiap bulan Ramadan, sekolah kami selalu mengadakan pesantren kilat.
Di situ saya sudah bukan lagi peserta yang diajarkan mengaji, melainkan sudah menjadi mentor buat teman-teman lain, yang baru belajar mengaji. Dan, di tahun itu pula sudah mulai diperkenalkan TK/TPA. Saya menjadi salah satu pengajarnya.
Akhirnya masuk jenjang kuliah, mengaji saya berubah menjadi mengkaji. Bukan lagi di dataran mengahafal huruf-huruf hijaiyah atau melantunkannya, tapi lebih kearah mengkaji arti dan makna dari setiap ayat-ayat tersebut.
Di sinilah mulai saya merasakan mengaji yang berkesadaran. Al-Qur’an buat saya bukan hanya sekedar kitab yang dilantunkan, baik sendiri maupun berjemaah, akan tetapi sebagai sebuah kitab suci yang berisi petunjuk-petunjuk dalam menjalani hidup, baik di dunia maupun persiapan akhirat kelak.
Saat ini ada program ODOJ, one day one juz yang sudah mulai membumi. Para peserta diminta menyetor satu juz satu hari dan akan dicentang namanya jika sudah selesai. Lalu, mereka diminta menyelesaikan 30 juz selama satu bulan.
Selain itu, juga mulai marak rumah-rumah tahfidz bagi anak-anak, maupun remaja yang diajarkan untuk menghafal al-quran dan menyetor hafalan-hafalan yang telah diselesaikan. Bahkan, ada upacara atau wisuda bagi santri yang telah menamatkan hafalan juz mereka.
Semua hal di atas, merupakan awal yang baik buat kita umat muslim, akrab dengan kitab suci kita sendiri. Namun, harapan nya, proses tersebut tidak berhenti di sekadar hafalan saja, tapi naik kelas untuk mengaji berkesadaran, yakni mengkaji ayat-ayat Allah yang sarat makna, sehingga dapat menuntun kita menjalani proses kehidupan.
Mengaji berkesadaran akan membawa kita kepada pelaksaan syariat agama secara berkesadaran pula, bukan hanya sekadar ritual tanpa makna, dan bukan hanya sekadar mencari pahala.
Dengan mengkaji alquran, kita paham mengapa harus salat, kita paham mengapa harus haji, kita paham mengapa harus puasa dan kita memahami semua perintah dan larangan Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, yang dituangkan dalam kitab suci AL-Quran.
Mengaji berkesadaran adalah sebuat proses, yang mengantar kita menjadi Khalifah di muka bumi ini. Sosok khalifah yang mampu membuat bumi ini menjadi lebih baik, bukan justru membuat kerusakan, karena tiadanya kesadaran dan pemahaman.
Kredit gambar: https://www.genmuslim.id/

Mantan Komisioner KPU Kab. Luwu Timur, 2018-2023. Punya hobi membaca dan traveling.


Leave a Reply to Abdul Muttalib Cancel reply