Di antara ayat yang menjelaskan bahwa al-Quran adalah rahmat Allah adalah QS. ar-Rahman/ 55: 1-3, yaitu:
اَلرَّحْمٰنُۙ عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Terjemah: (Allah) Yang Maha Pengasih. Telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai menjelaskan.
Dari keempat ayat di atas dapat dipahami, Allah yang Maharahman (Pemilik rahmat yang banyak) telah mengajarkan al-Quran kepada manusia yang Dia ciptakan. Dia juga mengajari manusia untuk berbicara. Khususnya membicarakan tentang al-Quran yang Allah telah turunkan dan ajarkan.
Dari kandungan keempat ayat di atas, dapat dipahami, salah satu rahmat ar-Rahman dari Allah adalah al-Quran.
Apabila al-Quran sebagai rahmat ar-Rahman diperpautkan dengan sabda Rasulullah saw. yang menegaskan bahwa:
لن يدخل الجنة أحد الاّ برحمة الله . قالوا ولا انت ؟ ولا أنا إلاّ أن يتَغَمَّدَنِي الله
Artinya: tidak seorang pun masuk surga kecuali dengan rahmat Allah Swt. Para sahabat bertanya tidak juga engkau (wahai Rasulullah saw.) Beliau menjawab: Tidak juga aku, tetapi Allah meliputi dengan rahmat-Nya.
Menurut penulis, kata rahmat yang disandarkan kepada Allah dalam hadis di atas, dapat dimaknai dengan makna al-Quran sebagai rahmat Rahmani. Dengan demikian, dapat ditegaskan, hanya dengan al-Quran seseorang dapat masuk surga. Tanpa al-Quran, maka seseorang tidak akan pernah masuk surga.
Rasulullah saw. dipastikan dan dijamin masuk surga, karena al-Quran sebagai rahmat Rahmaani telah meliputi dirinya. Bukankah Rasulullah saw. sendiri yang pertama kali menerima al-Quran. Beliau pula yang menyampaikan dan mengajarkan al-Quran kepada seluruh manusia.
Rasulullah saw. adalah manusia yang paling sempurna pengetahuan dan pengamalannya tentang al-Quran. Buktinya akhlak Rasulullah adalah al-Quran, seperti ditegaskan oleh Aisyah istri Rasulullah saw., ketika beliau ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. Aisyah menjawab akhlak beliau adalah al-Quran. Allah telah mengakui bahkan melabeli Rasulullah saw. sebagai pemilik akhlak yang agung, seperti ditegaskan dalam QS. al-Qalam/ 68: 4.
Bertolak dari uraian di atas, maka dapat ditegaskan, bahwa siapa pun yang menginginkan rahmat Allah, maka dia mesti hidup bersama al-Quran. Pertanyaannya adalah bagaimana wujud nyata dari hidup bersama al-Quran. Jawaban atas pertanyaan ini dapat dipahami dari beberapa hadis Rasulullah saw. berikut ini:
عليكم بالقرأن فاتخذه إماما و قائدا
Artinya: “Berpegang teguhlah dengan al-Quran dan jadikan ia sebagai imam dan petunjuk jalan.”
Beliau juga bersabda:
اذا اِلتَبست عليكم الامورُ كقِطَع اليل المُظْلِم فعليكم بالقران فانه شافع مشفَّع وماحِلٌ مُصَدَّقٌ من جَعَلَه أمامه قادَهُ الي الجنة ومن جعله خَلْفَه ساقَه الي النار
Artinya: “Jika kalian menghadapi berbagai masalah kusut dan membingungkan, tak ubahnya tengah malam yang gelap, maka berpegang teguhlah pada al-Quran, sebab al-Quran adalah pemberi bantuan dan selusi yang tangguh. Siapa yang menjadikan al-Quran sebagai pemandunya, maka al-Quran menuntunnya ke surga. Siapa yang meletakkan al-Quran di belakangnya, maka ia akan menggiringnya ke neraka.”
Sabda Rasulullah saw. lainnya:
لماَّ قيل له: أمَّتُك ستُفْتَتَن فسُئِلَ ما المخْرَجُ من ذلك؟ كتاب الله العزيز الذي لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد من ابْتَغي العلم في غيره أضله الله
Artinya: Rasulullah saw. saat dikatakan kepadanya: Umatmu akan diuji. Kemudian beliau ditanya: Lalu bagaimana solusi yang dapat membebaskannya? Beliau menjawab: Kitab Allah yang agung yang tidak mengandung kebatilan dari depan dan dari belakangnya, yang diturunkan dari Zat Yang Maha Bijak lagi Maha Terpuji. Siapa yang mencari pengetahuan dari selainnya, maka Allah akan menyesatkannya (membiarkannya dalam kesesatan).
Berdasarkan hadis-hadis di atas, maka penulis dapat tegaskan, bahwa hidup bersama al-Quran sebagai rahmat Allah, dengan menjadikan al-Quran sebagai cahaya penerang dalam kegelapan hidup yang segelap-gelapnya. Al-Quran sebagai rahmat Allah dijadikan sebagai win win solution dari setiap problema kehidupan yang dihadapi manusia.
Al-Quran sebagai rahmat Allah difungsikan sebagai pemandu kehidupan di dunia menuju kebajikan dan kebahagian abadi. Dengan demikian al-Quran sebagai rahmat Rahmaani telah menjadi rahmat Rahiimi.
Sebaliknya jangan pernah mengabaikan al-Quran dengan menempatkannya di belakang punggung seakan-akan tidak terlihat. Oleh karena siapa pun yang bersikap demikian terhadap al-Quran, maka ia pasti tersesat dalam kehidupannya dan terjatuh dalam kejahatan dan keburukan serta pada akhirnya ia mengalami kesensaraan di dunia dan kesensaraan abadi di akhirat.
Seperti diisyaratkan oleh QS. Thaha/ 20: 124-127:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ اَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْۢ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَدُّ وَاَبْقٰى
Kandungan keempat ayat dalam surah Thaha di atas, sangat tegas menyatakan bahwa manusia yang berpaling dan bersikap negative terhadap al-Quran, maka kehidupannya akan sempit di dunia. Selanjutnya di akhirat, mereka akan dibangkitkan dan dikumpulkan dalam keadaan buta.
Mereka memprotes dan menolak keadaan mereka, dan bertanya: mengapa kami keadaan kami hari ini buta, padahal dulu di dunia kami mampu melihat? Allah menegaskan kepada mereka, bahwa keadaan mereka adalah akibat dari perlakuan mereka yang negatif terhadap al-Quran, ketika di dunia.
Kepada kalian telah diturunkan dan didatangkan al-Quran, namun kalian bersikap mengabaikannya. Maka hari ini pun kalian diabaikan. Bahkan kepada kalian akan ditimpakan azab yang berat dan kekal, karena kalian telah melampui batas dengan tidak beriman kepada al-Quran.
Sampai di sini, maka dapat ditegaskan, yang mesti dilakukan terhadap al-Quran yang menjadi rahmat Rahmaani, agar dapat menjadi rahmat Rahiimi adalah dengan mengamalkan ayat-ayat al-Quran dalam kehidupan. Menegakkan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan. Tegasnya, mentaati apa yang diperintahkan Allah dalam al-Quran.
Dengan demikian, al-Quran sebagai rahmat Rahmaani menjadi sebagai rahmat Rahiimi. Yakni sebagai rahmat khusus bagi orang yang memperaktekkan ketaatan terhadap kandungan al-Quran. Dalam konteks ini, Rasulullah saw. bersabda:
تعرضُّوا لرحمة الله بما أمركم به من طاعته
Artinya: “Raihlah rahmat Allah dengan cara melaksanakan apa yang telah Dia perintahkan kepada kalian, di antara ketaatan kepada-Nya.”
Berbeda dengan mereka yang tidak beramal dengan ajaran al-Quran, maka al-Quran disfungsi menjadi rahmat Rahiimi bagi mereka. Bahkan al-Quran yang merupakan rahmat Rahmaani menjadi kerugian bagi mereka. Mereka adalah kelompok sosial-religius yang zalim dan kafir. Seperti dapat dipahami dari kandungan QS. al-Isra/ 17: 82:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Terjemah: Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.
Dan QS. al-Baqarah/ 2: 121:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ
Terjemah: Orang-orang yang telah Kami beri kitab suci, mereka membacanya sebagaimana mestinya, itulah orang-orang yang beriman padanya. Siapa yang ingkar padanya, merekalah orang-orang yang rugi.
Berdasarkan kedua ayat yang disebut terakhir di atas, maka penulis dapat tegaskan bahwa hidup tanpa bersama al-Quran adalah kerugian yang sangat nyata, baik di dunia apatalagi di akhirat. Hidup tanpa bersama al-Quran adalah kezaliman dan kesesatan serta kekufuran yang menyengsarakan dengan kesengsaraan nyata dan abadi.
Sebagai kesimpulan, penulis ingin tegaskan bahwa, jika seseorang ingin hidup dan kehidupannya damai, tentram, tenang dan bahagia maka dia mesti menjadi al-Quran sebagai rahmat Rahiimi dan bukan sekadar rahmat Rahmaani. Dengan cara hidup bersama al-Quran.
Renungkanlah perkataan Imam Ali Zainal Abidin, terkait al-Quran sebagai rahmat Rahmaani difungsikan menjadi rahmat Rahiimi dengan hidup bersama al-Quran. Di mana beliau menegaskan:
لو مات من بين المشرق والمغرب لَما إستَوحشْتُ بعد أن يكون القرأنُ معي
Artinya: “Jika seluruh orang di Timur dan di Barat, niscaya aku tidak akan merasa sendirian jika al-Quran sudah bersamaku.” Wallahu ‘alam bissawab.
Kredit gambar: pinterest

Doktor di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Al-Qur’an. Dosen di Unhas Makassar dan UIN Alauddin Makassar


Leave a Reply