Seperti telah diketahui, puasa adalah meninggalkan makan, minum dan hubungan badan dengan pasangan sah, sejak terbitnya fajar hingga datangnya waktu malam yang dibarengi dengan niat. Puasa jenis ini disebut jenis puasa syariat. Waktu pelaksaannya terbatas, yaitu dari terbitnya fajar hingga malam hari dan diwajibkan hanya di bulan Ramadhan. Dengan kata lain, jika malam telah tiba, maka makan, minum dan hubungan badan dengan pasangan kembali halal dan atau tidak haram.
Menurut penulis, pada hakekatnya yang ditinggalkan dan ditahan pada jenis puasa syariat adalah hal-hal yang halal. Di bulan Ramadhan, selama 29-30 hari, pada waktu siang hari ketiga aktivitas tersebut menjadi haram (baca: terlarang dan dijauhi). Berbeda pada bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan, makan, minum dan berhubungan dengan pasangan sah adalah halal atau dibolehkan (baca: untuk tidak mengatakan diperintahkan) pada waktu siang apalagi waktu malam.
Dari sisi ini, penulis ingin menegaskan, puasa pada hakekatnya merupakan ibadah yang berfungsi sebagai gerakan sosial religious, menuju ketinggian spiritual, yakni dengan meninggalkan kecintaan dan kesukaan terhadap sesuatu yang dihalalkan, demi menggapai derajat spiritual tertinggi, yaitu kedekatan dengan Allah.
Bentuk gerakan religius-spiritual inilah yang dinamakan dalam ilmu tasawuf atau ilmu irfan sebagai zuhud. Zuhud merupakan maqam atau kedudukan awal, utama dan fundamental dari perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah. Adapun meninggalkan yang haram merupakan kewajiban. Dengan demikian, kemampuan meninggalkan yang diharamkan Allah tidak termasuk dalam maqam dan sikap zuhud.
Dari sudut kebahasaan, kata zuhud bermakna sesuatu yang sedikit. Sedangkan kata al-zaahid dalam bentuk kata pelaku bermakna menyedikitkan sesuatu dan rida dengan sesuatu yang sedikit. Demikian keterangan ar-Ragih al-Ashfahaniy dalam kitab al-Mufradat fi Gharib al-Quran.
Dalam kamus al-Mu’jam al-Wasith, Ibrahim Anis dan kawan-kawan, mengemukakan beberapa makna dari kata yang berakar pada huruf-huruf ز- ه – د antara lain bermakna; berpaling dari sesuatu dan meninggalkannya karena kerendahan dan kehinaan sesuatu tersebut atau karena nilainya sedikit.
Makna lain dari kata yang berakar pada ketiga huruf tersebut adalah sedikit dan tidak menyukai dan atau membenci; merendahkan dan menghinakan; juga bermakna menjauhi dan atau tidak memperhatikan. Dalam kalimat زهد في الدنيا berkonotasi makna meninggalkan yang halal karena takut akan perhitungannya dan meninggalkan yang haram karena takut akan siksanya. (I/ h. 403-404).
Dalam al-Quran kata yang berakar pada kata ز- ه – د hanya ditemukan penggunaannya sekali yakni dalam QS. Yusuf/ 12: 20:
وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزّٰهِدِيْنَ ࣖ
Terjemah: Mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga murah, (yaitu) beberapa dirham saja sebab mereka tidak tertarik kepadanya.
Muhammad Wahba Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, mengatakan bahwa kata “الزّٰهِدِيْنَ” berkonotasi makna tidak menyukai atau tidak tertarik (6/ h. 470). Sementara Quraish Shihab, dalam kitab Tafsir al-Misbah mengartikan kata “zaahidin” dengan makna ketidaksenangan terhadap sesuatu yang biasanya disenangi. (6/ h. 416). Dari keterangan kedua mufassir ini, penulis memahami bahwa zuhud adalah gerakan mengabaikan, tidak memperhatikan dan meninggalkan sesuatu yang disenangi dan menyenangkan hawa nafsu, namun nilainya murah dan rendah.
Pandangan yang juga patut dikemukakan terkait dengan masalah zuhud ini adalah pandangan ahli Arifin, seperti Syekh Abu Nashr as-Sarraj, penulis kitab Lama’. Menurut as-Sarraj, zuhud adalah kedudukan spiritual yang mulia dan merupakan dasar dari berbagai kondisi spiritual yang diridhai serta tingkatan-tingkatan mulia. Selanjutnya beliau menegaskan, zuhud adalah tapak kaki awal bagi mereka yang hendak menuju kepada Allah azza wa jalla, yang mencurahkan segala-galanya hanya untuk Allah, yang rida dengan segala ketentuan Allah dan mereka hanya bergantung kepada Allah.
Berikutnya as-Sarraj menegaskan, bahwa siapa pun yang tidak kokoh pondasinya dalam masalah zuhud, maka ia sulit dan atau tidak mungkin, untuk dapat naik ketingkatan spiritual selanjutnya dengan baik dan benar. Oleh karena, cinta dunia adalah pangkal segala kekeliruan. Sebaliknya menjauhkan diri atau zuhud dari dunia dan kenikmatannya adalah pangkal segala kebajikan.
Terkait dengan pengertian zuhud, para ulama tidak sepakat dan banyak sekali pendapat tentangnya, namun penulis tidak mengemukakannya dalam tulisan ini, karena keterbatasan halaman. Siapa pun yang hendak mendaras dan mengetahui pengertian tersebut dapat dibaca dalam kitab ar-Risalah al-Qusyairiy, karya Abu Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi.
Berdasarkan pengertian kebahasaan dari kata “zuhud” dan penggunaannya dalam al-Quran, serta pandangan yang dikemukakan oleh ahli ilmu irfan dan tasawuf, menurut penulis, yang menjadi subtansi makna dari zuhud adalah menjauhi, mengabaikan, tidak memerhatikan sesuatu dianggap rendah, hina, dan atau sedikit serta kecintaan kepada sesuatu tersebut, dapat menjadi penghalang perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah.
Misalnya, bersikap zuhud terhadap dunia dan kenikmatannya karena dunia dan kenikmatannya bernilai sementara, sedikit dan rendah serta hina dibanding dengan kenikmatan akhirat yang kekal, banyak dan mulia.
Kecintaan kepada dunia adalah pengalang atau hijab terbesar dan terkuat dalam perjalanan spiritual menuju Allah. Di dalam al-Quran banyak ditemukan ayat yang membandingkan kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat, seperti QS. Ali Imran/ 3: 14, 185 dan 197 dan QS. an-Nisa/ 4: 77.
Menurut penulis, tujuan utama dari penyebutan perbandingan antara dunia dan kenikmatannya dengan akhirat dan kenikmatannya, pada ayat-ayat tersebut adalah agar manusia lebih memilih kenikmatan akhirat, sebagai kenikmatan yang lebih banyak, lebih tinggi nilai dan kualitasnya, serta lebih kekal di satu sisi dan di sisi lain mengabaikan dan meninggalkan dunia dan kenikmatannya yang lebih sedikit, rendah, bersifat sementara bahkan hina dan menipu.
Oleh karena itu tidak pantas dan patut untuk dicintai dan dimasukkan ke dalam hati. Hanya dengan tidak tergantung, tidak terpaut dan mengabaikan dunia dan kenikmatannya maka maqam zuhud akan dicapai dan kezuhudan merealitas dalam kedirian seseorang. Sebab, sangat wajar dan logis jika orang bertakwa atau al-muttaqun bersikap zuhud terhadap dunia, seperti ditegaskan dalam ayat 77 surah an-Nisa di atas.
Apabila kandungan ayat 77 surah keempat tersebut diperpautkan dengan kandungan QS. al-Baqarah/ 2: 183, yang mengemukakan perintah Allah kepada kelompok orang yang beriman, untuk menegakkan puasa dengan tujuan, agar mereka menjadi kelompok orang yang bertakwa, maka penulis memahami, ketika orang yang beriman tersebut telah meraih kedudukan takwa, menjadi al-muttaqun dan tentunya telah berada pada posisi manusia termulia di sisi Allah (QS. al-Hujurat/ 49: 13).
Setelah mereka berpuasa, dapat dipastikan, mereka sejatinya telah berkarakter dan bersikap zuhud terhadap dunia. Seperti dapat dipahami dari perkataan Imam Ali Kw. yaitu:
الزهد شِيْمَة المتقين وسجِيَةُ الاوبين
Artinya: “Zuhud itu perangai orang-orang yang bertakwa dan watak orang-orang yang selalu kembali kepada Allah.”
Pada kesempatan yang lain, suami Fatimah az-Zahra juga mengatakan bahwa:
إن من أعون الاخلاق علي الدين الزهد في الدنيا
Artinya: Sesungguhnya di antara penolong-penolong akhlak bagi agama adalah zuhud terhadap dunia.
Menantu Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa: التُقى رئيس الاخلاق yang berarti bahwa takwa adalah induknya akhlak.
Menurut penulis, pada ketiga perkataan menantu Rasulullah saw. di atas, tergambar dengan jelas betapa mulianya kedudukan dan karakter zuhud, sebagai awal dan pangkal utama dalam menempu perjalanan spiritual menuju Allah. Zuhud adalah kekuatan dasar, fundamental dan pokok untuk dapat menjadi kelompok orang al-muttaqun.
Dalam konteks ini, Rasulullah Saw. bersabda, sebagai berikut:
ما تَعَبَّدوا الله بشيء مثل الزهد في الدنيا
Artinya: “Tidak ada penyembahan kepada Allah dengan sesuatu yang lebih besar daripada zuhud terhadap dunia (meninggalkan kesenangan dunia).”
Menurut Imam al-Baqir, “Tidak ada orang yang berhias untuk-Ku (Allah) di kalangan orang-orang yang berhias, selain orang yang berhias dengan zuhud, terhadap dunia dari apa yang tidak mereka perlukan.”Demikian firman Allah kepada Nabi Musa as. lanjut anak Imam Zainal Abidin as-Sajjad. Selanjutnya Imam Ja’far Shadiq, cucunya dari Imam as-Sajjad berkata, “Kebaikan itu telah ditetapkan seluruhnya dalam sebuah rumah dan kuncinya adalah zuhud terhadap dunia.
Sampai di sini, pertanyaan yang relevan diajukan adalah bagaimana hakekat zuhud terhadap dunia? Apakah zuhud adalah samasekali meninggalkan dunia dan membenci kenikmatannya? Terkait dengan pertanyaan ini, Rasulullah saw. bersabda:
“الزهد في الدنيا قصر الأمل وشكر كلِّ نعمة و الورع عن كل ما حرَّم الله “
Dari sabda Rasulullah saw. tersebut, dapat dipahami bahwa zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan, mensyukuri setiap nikmat dan menahan diri dari setiap yang diharamkan Allah. Dalam sabda Rasulullah saw. yang lain, menegaskan bahwa zuhud bukanlah mengharamkan yang halal tetapi seyogyanya apa yang di tangan Allah lebih dipercayai ketimbang apa yang di tangan sendiri. Seperti ditegaskan dalam hadis berikut ini, yaitu:
الزهد ليس بتحريم الحلال ولكن أن يكون بما في يدي الله أوثَقَ بما في يديه
Menurut penulis, kedua sabda Rasulullah saw. di atas, menegaskan bahwa hakekat zuhud kepada dunia, ialah menyandarkan kehidupan dunia hanya kepada Allah semata dan menyakini, tidak ada yang terbaik kecuali apa yang ditetapkan oleh Allah, oleh karena itu mesti rida menerima ketetapan Allah dan bukan menolaknya. Yakni dengan bersyukur kepada Allah dalam ketetapan nikmat yang banyak dan longgar, serta bersabar atas ketetapan kesempitan reski dan kesusahan.
Oleh karena keduanya merupakan ujian kehidupan. Maka kedua keadaan tersebut yang merupakan ujian mesti ditahan, dipelihara, dan dijaga, jangan sampai terjatuh dalam kemurkaan Allah, karena digunakan dalam kemaksiatan yang diharamkan Allah Swt.
Orang yang telah bersikap dan berkarakter zuhud yang demikian, tidak akan pernah bersedih ketika kehilangan sesuatu dari dirinya dan tidak akan gembira secara berlebihan jika ia memperoleh anugrah nikmat yang banyak. Kedua keadaan tersebut diyakininya sebagai ketetapan Allah dan dikembalikannya kepada Allah.
Kelompok orang zuhud adalah pengamal ayat Allah dalam QS. al-hadid/ 57: 23, yaitu:
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ
Terjemah: (Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Berdasarkan kandungan ayat 23 surah ke 57 di atas, penulis dapat tegaskan, tidaklah seseorang dapat dikatakan telah zuhud, jika masih kecewa ketika kehilangan sesuatu yang bersifat materi dari dirinya dan atau merasa hebat ketika memperoleh limpahan materi.
Perkataan yang senada dengan kandungan ayat tersebut terkait sifat orang zuhud dikemukakan oleh Imam Ali, “Orang yang zuhud terhadap dunia adalah yang kesabarannya tidak terkalahkan dengan sesuatu yang haram dan kesibukannya bersyukur tidak terusik sesuatu yang halal.”
Pada kesempatan lain, suami Fatimah ini pun berkata, “sesungguhnya orang yang zuhud terhadap dunia senantiasa menangis meskipun dalam keadaan tertawa; kesedihan mereka amat besar, meskipun dalam keadaan bergembira. Dan banyak sekali kebencian mereka terhadap diri sendiri, meskipun mendapatkan kesenangan dengan apa yang dikaruniakan kepada mereka.”
Bertolak dari kandungan ayat 23 surah al-Hadid dan perkataan menantu Rasulullah saw. tersebut, dapat penulis tegaskan, zuhud dan orang yang paling zuhud adalah keridhaan dan kerelaan menerima apa yang ditandirkan oleh Allah atas dirimya. Dia benar-benar berserah diri kepada Allah dan bersadar kepada-Nya.
Bagi orang yang berada pada maqam zuhud, menyakini dengan haqqul yakin, bahwa ketetapan Allah pasti benar, baik dan indah serta dibutuhkannya dan bermanfaat baginya. Kualitas zuhud yang demikian itu, tergambar dalam potongan doa dalam doa Kumail, yaitu إفعل به ما أنت أهله ولا تفعل به ما أنا إهله. Maksud kalimat doa ini adalah perlakukan aku (ya Allah) sebagaimana Engkau ahlinya (ahli takwa dan ahli magrifah) dan jangan perlakukan aku sebagai aku ahlinya (ahli dosa dan kesalahan).
Orang zuhud terhadap dunia, dapat dipastikan kehidupannya pasti tenang, jiwanya bersih dan damai. Menurut Imam Ali kw., orang yang telah berada pada kedudukan zuhud, maka Allah akan memberinya petunjuk, tanpa petunjuk dari makhluk, akan mengajarkan kepadanya tanpa belajar dan Allah akan mengajarkan hikmah dalam dadanya, kemudian mengalirkannya kepada lisannya.
Imam Zainal Abidin as-Sajjad menegaskan, “orang yang telah menjadi zuhud terhadap dunia, maka semua musibah baginya adalah menjadi ringan dan tidak akan membencinya.” Bagi Imam Ja’far, hanya orang yang mampu bersikap zuhud terhadap dunia yang dapat merasakan manisnya iman yang puncak.”
Perkataan yang tak kalah pentingnya untuk dikemukakan dalam tulisan ini terkait dengan zuhud adalah perkataan Musa al-Kadhim. Beliau berkata: “Sesuatu yang akhirnya pasti adalah kematian, maka sudah sepantasnya berlaku zuhud pada awalnya dan sesungguhnya sesuatu yang awalnya adalah kehidupan, maka sudah sepantas ditakuti akhirnya yakni kematian.”
Keterangan lain, yang kiranya sangat tepat, jika penulis mengemukakan adalah tentang tingkatan zuhud. Syekh as-Sarraj dalam kitab al-Luma’, menyebutkan tingkatan zuhud yaitu: Pertama, tahapan pemula, yaitu orang yang menyadari dirinya tidak memiliki kepemilikan apa pun. Tangannya kosong dari sesuatu sebagai kepemilikannya. Demikian pula hatinya kosong dari apa yang kosong dari tangannya. Tahapan zuhud pertama, ditegaskan oleh Sari as-Saqathi dan al-Junaid, keduanya adalah guru dan murid. Sang guru menegaskan, zuhud adalah hendaklah hati seseorang kosong dari apa yang tak ada di tangannya. Sementara al-Junaid berkata zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan kosongnya hati dari ketamakan.
Kedua, orang zuhud yang telah mampu merealisasikan kebenaran sejati, dalam kehidupan di satu sisi dan di sisi lain. Orang tersebut telah memenjarakan hawa nafsunya sehingga disfungsi. Dalam konteks ini, Ruwaim bin Ahmad, ketika menjawab pertanyaan tentang apa dan siapa orang yang zuhud, beliau mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan kepentingan-kepentingan hawa nafsu dan seluruh bagian yang ada di dunia.” Tingkatan ini, berzuhud dengan hati, yakni hatinya telah mengabaikan dan meninggalkan kepentingan-kepentingan nafsu.
Ketiga, orang yang zuhud kepada dunia dan berbagai kenikmatannya, meskipun dia mengetahui, dunia beserta kenikmatannya, tidak akan memengaruhi kedudukan spiritual dirinya dan atau kedekatannya dengan Allah. Dia tidak akan dihisab di hari akhirat. Orang ini berzuhud dari semua yang sejak awal penciptaannya. Allah tidak memperhatikannya. Tidak ada lagi sesuatu yang menarik hatinya kecuali hanyalah Allah. Dalam konteks tingkatan atau zuhud yang sempurna ini, asy-Syibli ketika ditanya tentang zuhud, beliau berkata, “Zuhud adalah kelalaian, sebab dunia itu tidak bernilai apa-apa, maka berzuhud kepada sesuatu yang tidak ada nilainya apa-apa adalah kelalaian.
Kita kembali kepada tema tulisan ini, yakni puasa dan kezuhudan, maka pertanyaan renungannya, apakah puasa di bulan Ramadhan yang telah kita laksanakan secara berulang-ulang setiap tahun, telah berfungsi menghadirkan maqam, kedudukan dan karakter atau sikap kezuhudan dalam diri kita, baik kezuhudan terhadap kenikmatan materi dunia, kezuhudan terhadap hawa nafsu dan kezuhudan pikiran dan hati kepada segala sesuatu selain Allah?
Jika jawabannya masih negasi atau belum (baca: tidak), maka sejak membaca dan mendaras tulisan ini, penulis ingin mengajak diri penulis dan keluarga, serta siapa pun yang rela mendaras tulisan sederhana ini, seyogyanya kita bertekad untuk mulai belajar berzuhud kepada dunia, paling tidak, kita memulai mengurangi, membatasi segala sesuatu yang kita senangi dan nikmati dari kenikmatan dunia dan perhiasannya.
Semoga dengan tekad berzuhud yang mengaktual dalam tindakan praktis, mampu menjadikan kita meraih maqam atau kedudukan zuhud sebagai kekuatan awal, pertama dan paling fundamental dalam melakukan perjalanan spiritual mendekatkan diri kepada Allah.
Ingatlah, kita semua tercipta hanya untuk melakoni gerakan mendekatkan diri kepada Allah. Tujuan utama penciptaan ini, dengan izin dan bantuan Allah akan dapat dicapai oleh manusia yang bertekad kuat untuk melakoni dan meraihnya.
Salah satu bantuan Allah yang paling nyata, agar tujuan penciptaan tersebut dapat terwujud, Allah telah menjamin segala reski kita, agar kita tidak khawatir terkait dengan reski tersebut, meskipun kita tetap ada usaha untuk mengambil reski tersebut.
Namun, Allah menghendaki agar kita tidak lagi terlalu fokus pada apa yang telah dijamin-Nya, sebaliknya dapat lebih fokus pada gerakan suluk atau perjalanan spiritual kepada Allah, yang tidak ada jaminan atas seseorang untuk menggapainya.
Akan tetapi, pada kanyataannya, kebanyakan manusia tidak menyakini jaminan reski Allah tersebut, oleh karena itu mereka selalu khawatir dan takut terkait dengan reski mereka. Sebaliknya mereka lalai dari apa yang semestinya mereka lebih fokus memperhatikannya.
Menurut penulis, sudah saatnya setiap orang merenungkan firman Allah dalam hadis qudsi, berikut ini, maka dengan begitu diharapkan ada perubahan mindset yang tercerahkan dalam cahaya terang ilahi yaitu:
“قال الله تعالي : يا ابن ادم كل يوم نرزقك وأنت تحزن وينقص كل يوم من عمرك وأنت ترفح, أنت فيما يكفيك وتطلب ما يطغيك لا بقليل تقنع ولا بكثير تشبع
Artinya: Allah berfirman: Hai anak Adam! setiap hari Kami (Allah) memberi reski, tetapi engkau merasa cemas. Dan setiap hari umur engkau berkurang, tetapi engkau merasa gembira. Engkau berada dalam kecukupan, tetapi engkau masih mencari juga apa yang membawa engkau kepada kedurhakaan. Engkau tidak merasa cukup dengan yang sedikit dan tidak merasa puas dengan yang banyak.
Menurut penulis, patron utama untuk mengetahui seseorang di antara kita telah berada pada maqam atau kedudukan zuhud, ketika ia tidak lagi bersedih apabila dia kehilangan sesuatu dari kenikmatan dunia. Sebaliknya dia juga tidak terlalu bergembira, apabila ia mendapat anugrah dunia dan kenikmatannya.
Ukuran kesedihan dan kegembiraan hanya satu, yakni keterjauhan dan kedekatan dengan Allah Swt. Apabila terjauh dari Allah, maka bersedihlah dengan kesedihan yang berat, karena telah berada dalam kerugian yang nyata. Sebaliknya bergembiran jika berada dalam kedekatan diri dengan Allah Swt. karena Allah telah merahmati dan mengasihimu, Namun, pada saat yang bersamaan, jangan pernah membanggakan kedekatanmu kepada Allah dengan menganggap dirimu lebih suci dari orang lain. Wallahu a’lam.

Doktor di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Al-Qur’an. Dosen di Unhas Makassar dan UIN Alauddin Makassar


Leave a Reply