Epictetus seorang filosof Stoa sekitar dua milenium silam pernah berujar, “Bukan benda-benda yang memengaruhi manusia, melainkan pikiran manusia tentang benda-benda itulah yang memengaruhinya.”

“Keinginan sumber penderitaan, tempatnya di dalam pikiran,” demikian petikan dari salah satu syair lagu Iwan Fals.

Kenapa bisa ada penderitaan? Karena adanya keinginan yang begitu kuat dan selalu menuntut pemuasannya. Keinginan adalah hal yang tak pernah selesai. Keinginan yang telah dipenuhi akan menuntut kembali pada keinginan yang baru. Jika terus berlangsung akan menjebak manusia pada keserakahan, yang karenanya manusia akan berbuat zalim.

Lantas apa hal yang mendorong manusia untuk memperturutkan keinginannya? Sebab pikiran yang terlalu fokus pada pemenuhan kesenangan material (hedone).

Agama menuntut dan menuntun pikiran manusia untuk tunduk pada visi rohaniah, karena secara esensial sifat rohani yang abadi, sedangkan sifat materi secara esensial adalah fana (hancur).

Memfokuskan pikiran dan memperturutkan keinginan pada hal-hal material, berarti jalan bagi kehancuran rohani. Sebaliknya, memfokuskan pikiran dan keinginan untuk pencapaian yang bersifat rohani, akan mengantarkan manusia pada kesempurnaan rohani.

Pikiran yang berfokus pada aspek bendawi, membuat rohani manusia menjadi lalai. Sebaliknya, pikiran yang tak berorientasi  bendawi, akan membebaskan rohani manusia dari penjara keinginan, karena dengan cermat dan bijak dapat membedakan, yang mana kebutuhan dan yang mana sekadar keinginan.

Dalam konsep Islam, pembebasan pikiran dan keinginan dari kecenderungan bendawi dikenal dengan konsep zuhud.

Sebagian ahli tasawuf memasukkan zuhud, sebagai salah satu maqam (stasiun rohani) dalam perjalanan spiritual (suluk). Namun, oleh Nashr al-Din al-Thusi, sejatinya merupakan tantangan dan rintangan bagi seorang salik (pejalan spiritual) bukan maqam.

Hal ini merujuk pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib, “Zuhud adalah sikap,” dengan demikian zuhud bukanlah keadaan atau kedudukan (maqam).

Secara etimologis zuhud berarti, “tidak tertarik pada sesuatu dan meninggalkannya,” dalam hal ini “meninggalkan kecenderungan pada keinginan duniawi dan berpaling dari dunia dengan segala bencananya.”

Zuhud adalah sikap batin. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib, ditanya tentang apa itu sikap zuhud, beliau mengutip QS. 57:23, “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira, terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” Maknanya, tidak menyesali apa yang telah berlalu dan tidak terlampau senang (euforia) dengan apa yang dia dapatkan.

Zuhud bukanlah mengasingkan diri dari dunia, lantas meninggalkan tanggung jawab yang harus ditunaikan di dunia. Zuhud sebagaimana dikatakan Junaid al-Baghdadi,“Menganggap dunia kecil dan menghapus pengaruhnya di hati.”

Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar, lisan suci Rasulullah saw bersabda, “Zuhud terhadap dunia, bukanlah dengan mengharamkan sesuatu yang halal atau menyia-nyiakan harta begitu saja. Tetapi merasa hati lebih terpaut kepada apa yang disisi Alla,h daripada kepada harta yang ia miliki. Zuhud juga memiliki arti lebih berharap kepada pahala dari musibah yang menimpanya, daripada musibah itu sendiri tidak ada.”

 Orang yang zuhud (zahid) bukan dilarang untuk memiliki harta, yang terlarang, ketika dia dimiliki oleh harta. Zuhud serupa sikap yang bersahaja dalam melakoni hidup di dunia. Bersahaja dalam konteks zuhud, semacam bersahaja sebagai pilihan, bukan sebagai keterpaksaan.

Secara umum, zuhud berarti lebih meyakini bahwa apa-apa yang ada di sisi Allah, lebih baik daripada apa yang ada di tangan kita. Olehnya itu, sikap zuhud sinergi dengan kanaah (qanaah), yaitu sikap rela hati menerima segala bentuk kenyataan, yang terjadi pada dirinya sebagai ketentuan yang terbaik dari Allah.

Kanaah bukan berarti sikap apatis atau kepasrahan yang pasif. Sikap kanaah berkaitan erat dengan sikap syukur atas semua anugerah Allah dan bersahaja, dalam menjalani laku hidup di dunia. Kanaah melahirkan kekuatan aktif dalam menerima dan menyikapi kenyataan yang dihadapi.

”Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin”, seperti itulah prinsip orang yang kanaah dan zuhud.

Zuhud menghiasi diri dengan syukur dan sabar, menghiasi amal dengan rida dan ikhlas, menghiasi sesama dengan cinta dan ukhuwah.

Menurut Nurcholish Madjid, sikap zuhud memantik empati terhadap kelompok masyarakat yang kurang beruntung, diwujudkan dalam komitmen sosial, untuk membebaskan masyarakat dari belenggu kehinaan dan mengangkat mereka dari jurang kesengsaraan.

Dengan demikian, zuhud tidak hanya menjadi sikap personal, melainkan implementasinya pada sikap sosial.

Dalam beribadah, sikap zuhud mencerminkan kemerdekaan rohani dari segala intensi dan tendensi selain Allah. Seorang zahid yang sejati tidak pernah beribadah karena mengharap surga atau mengharapkan perlindungan dari neraka.

Kezuhudan mengedukasi rohani untuk terbaisa dalam kehati-hatian (warak), dengan menghindari tujuan selain Allah. Dengan demikian, zuhud adalah satu di antara beberapa sikap batin yang tujuannya adalah “menuhan” dengan membebaskan rohani dari tujuan dan sifat yang “membenda.”

Perintah puasa sejatinya menempa rohani untuk bersikap zuhud, menahan makan dan minum adalah pendidikan rohani, untuk terbaisa dalam kebersahajaan dan untuk mengajarkan kita, buat mengenali penderitaan orang-orang yang kurang beruntung.

Puasa serupa latihan sikap zuhud yang beranjak dari menahan, untuk dapat “menuhan”. Perintah menahan sejenis latihan mengendalikan keinginan, menstabilkan emosi, dan memandu tujuan atau orientasi hidup.

Sebagai latihan mengendalikan keinginan, puasa adalah treatment agar pikiran kita dapat menjadi pengendali atas keinginan (nafsu) kita.

Puasa adalah riyadah menstabilkan emosi dari ammarah menuju muthmainnah, karena hanya orang berjiwa muthmainnah saja yang akan mendapatkan rida Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS. 89:28.

Puasa melatih rohani menjadi ikhlas, sehingga memandu tujuan dan orientasi ibadah hanya kepada Allah, tidak untuk selain-Nya. Orang yang zuhud adalah orang yang puasanya beranjak dari menahan, menjadi “menuhan”, kemudian dengan semangat pembebasan menahun bersama Tuhan.

Kredit gambar: https://pecihitam.org/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *