Ada banyak manusia dalam menyusuri belantara kehidupannya, mengalami keputusasaan atau minimal kegalauan, sebagai sesuatu yang terjadi dalam mekanisme psikologisnya. Bahkan di negara maju, dan ini yang lebih parah, kita menemukan banyak informasi dan data terkait kasus bunuh diri, yang dilakukan oleh orang-orang yang bergelimang harta atau kekayaan material: seperti rumah dan mobil mewah.
Ada pula dan jumlahnya tidak sedikit, manusia yang merasa pekerjaan atau karyanya sia-sia saja. Ujungnya, dirinya pun kembali terjerumus dalam lembah yang sama, yaitu keputusasaan atau minimal kegalauan. Begitu pun, ada banyak sosok manusia yang diberikan amanah besar dan mulia, tetapi terseret dalam lumpur kehinaan dan menjadi pengkhianat terhadap sumpah dan janji jabatannya sendiri.
Apa yang terungkap di atas, bukan berarti untuk meneguhkan paradigma dan prinsip defisit, yang selalu berangkat dari hal negatif dan pesimisme. Saya ingin mengajak sahabat pembaca untuk—minimal—mengingatkan, hal di atas adalah fenomena yang mudah ditemukan dalam realitas kehidupan. Padahal dalam diri dan kehidupan ini, kita pun bisa menemukan satu hukum, potensi, prinsip yang telah Allah ciptakan dan bahkan telah built-in sebagai satu paket penciptaan manusia oleh Allah, yang secara fungsional menyelamatkan manusia dari berbagai kondisi yang disebutkan di atas.
Semua bentuk keputusasaan, kegalauan, perasaan sia-sia, dan berbagai bentuk pengkhianatan, tanpa kecuali terhadap diri sendiri pada dasarnya adalah wujud dari kegagalan kita menumbuhkan makna dalam kehidupan. Kemampuan memberikan dan menemukan makna dalam setiap jengkal episode kehidupan, sangat menentukan pencapaian ketenangan dan kebahagiaan. Bahkan menjadi penentu utama eksistensi manusia ideal.
Saya sepakat dengan pandangan seorang senior, Koordinator Wilayah Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Asratillah, bahwa hidup bukan hanya dalam konteks vegatatif (nutritive, reproduksi, dan tumbuh) dan dalam konteks animalia (instingtif, sensasional, dan mobile). Hidup pada dasarnya adalah memberi dan menenukan makna kehidupan.
Membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia, termasuk versi online-nya ditemukan banyak pengertian atau arti dari “makna”. Bahkan “arti” itu adalah pengertian dari “makna” itu sendiri. Namun, saya memaknai term “makna” di sini adalah kemampuan seseorang menemukan kandungan dan arti penting dari sesuatu yang relevan dengan esensi, substansi, hakikat, tujuan utama, dan fungsi ideal penciptaan. Termasuk pula hikmah atau pelajaran yang terkandung di dalam sesuatu yang sedang dialami, ditemukan, dirasakan, dan dilakukan.
Hukum dan prinsip memberi, menemukan, dan menumbuhkan makna dalam kehidupan, Allah pun lengkapi dalam diri manusia berupa hardware dan software-nya. Hal menarik ini bisa ditemukan dalam buku dahsyat Ary Ginanjar Agustian, buku ESQ: Rahasia Suksesi Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual.
Ary Ginanjar menerangkan, bahwa “Tahun 1997 oleh ahli saraf, VS Ramachandran dan timnya dari California University, menemukan eksistensi God Spot dalam otak manusia—telah built in sebagai pusat spiritual (center spiritual) yang terletak di antara jaringan saraf dan otak”. Berikutnya dalam Ary Ginanjar, kita pun bisa menemukan penguatan atas riset dan temua Ramachandran dari ahli saraf Austria, Wolf Singer.
Singer, sebagaimana bisa ditemukan dalam makalahnya The Binding Problem, menegaskan “Ada proses saraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha untuk menyatukan serta memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan saraf yang secara literal ‘mengikat’ pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna”.
Kedahsyatan fungsional atas kemampuan memberikan makna dalam kehidupan, kita bisa menemukan dalam kisah perjalanan hidup Viktor E. Frankl. Jika kita telah pernah membaca buku karya Frankl, Man’s Search for Meaning, maka akan ditemukan betapa mengerikan kehidupan yang pernah dijalaninya, di mana dirinya pernah berada di empat kamp kematian Nazi yang berbeda. Bahkan orang tuanya, saudara laki-laki, dan istrinya yang sedang hamil tewas.
Jika ingin disingkat dan disederhanakan, apa yang membuat Frankl bisa bertahan dan melewati semua penderitaan yang dialaminya, adalah kemampuannya memberikan makna atas penderitaan yang dialaminya. Bahkan Diana Whitney & Amanda Trosten-Bloom menggambarkan secara tegas modal yang digunakan oleh psikiater terkenal tersebut: Frankl.
Diana & Amanda menegaskan “Ketika orang-orang lain bertanya, apakah kita akan bertahan hidup? Frankl justru bertanya, apakah semua penderitaan, kondisi sekarat di sekeliling kita ini memiliki makna?” Jadi Frankl fokus pada makna dalam menghadapi penderitaannya.
Dari kisah para nabi pun, kita akan menemukan betapa pentingnya memberikan makna. Yang membuat para nabi terus menjalankan misi dakwahnya termasuk dalam menghadapi badai cobaan dan penderitaan sekalipun Para nabi sangat menyadari bahwa di balik semua ini mengandung makna mulia dan bermuara pada rida Allah.
Kemampuan menemukan dan memberikan makna dalam setiap kehidupan adalah indikator utama berfungsinya kecerdasan spiritual yang dianugerahkan kepada manusia oleh Allah. Dibandingkan dengan binatang, maka kecerdasanlah terutama kecerdasan spiritual sebagai pembeda penting yang diberikan kepada manusia.
Kecerdasan spiritual bisa menjadi penyeimbang dari kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Menjalani kehidupan ini tidak cukup dengan kecerdasan intelektual semata. Bahkan secara tegas, Ary Ginanjar menyampaikan “Kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan spiritual dan emosional, bagaikan lentera di tangan pencuri”.
Ketika di atas, saya menyebut satu fenomena adanya orang-orang yang diberikan amanah besar dan mulia, tetapi terseret dalam lumpur kehindaan, menjadi pengkhianat terhadap sumpah dan janji jabatannya sendiri, itu karena tidak dibarengi atau dibingkai dengan kecerdasan spiritual. Mereka tidak memberikan makna terdalam, bahwa sesungguhnya amanah tersebut pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia dan terhadap pimpinan, tetapi di akhirat dan di hadapan Allah, kelak akan dimintai pula pertanggungjawaban.
Dari Ary Ginanjar, saya memahami dengan baik bahwa kecerdasan spiritual seperti yang ditegaskan dan ditemukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan termasuk temuan VS Ramachandran dan Singer terkait mekanisme pengikatan terhadap makna yang beroperasi dalam God Spot sebagai pusat kecerdasan spiritual, barulah sebatas menyentuh dimensi biologi-psikologi, belum menyentuh dimensi transcendental yang akarnya kokoh. Islam memiliki sesuatu yang bisa menjadi basis yang kokoh.
Agar kecerdasan spiritual dan termasuk pengikatan sesuatu terhadap makna yang tak terbatas memiliki basis yang kokoh—tidak seperti yang digambarkan oleh Zohar, Marshall, VS Ramachandran, dan Singer—maka ihsan, rukun iman, dan rukun Islam adalah basis utamanya. Ketiganya ini, Ary Ginanjar mengistilahkannya dalam simbol numerik “165”. 1 berarti ihsan, 6 berarti rukun iman, dan 5 berarti rukun Islam.
Dari sinilah, saya menyimpulkan bahwa bulan Ramadan menumbuhkan makna kehidupan. Tepatnya, menjadi ruang-waktu terbaik untuk mengaktivasi kecerdasan spiritual, di mana kemampuan memberikan makna atas setiap episode kehidupan bisa beroperasi dengan benar, baik, dan indah.
Ramadan, berbeda dengan sebelas bulan lainnya, secara praksis bisa ditemukan bahwa gairah untuk memaksimalkan nilai-nilai yang terkandung dalam “165” itu berjalan dengan baik. Meskipun 165 ini, tentunya tidak hanya dikhususkan pada bulan Ramadan saja.
Memaksimalkan 165 akan sampai pada sikap dan perilaku ikhlas, sabar, mempersembahkan yang terbaik, dan selalu bermuara pada harapan atas ketidakpastian tentang adanya hikmah, ibrah atau pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Hanya dengan menyerap dan mengimplementasikan kandungan nilai yang ada di 165 itu, kita akan bisa tetap bersabar, bertahan, tidak mudah putus asa apa pun bentuk takdir kehidupan yang dialami.
Fokus pada makna kehidupan akan senantiasa bermuara pada sesuatu yang positif, luar biasa, dan dahsyat. Ini sesuai dengan hukum heliotropic sebagaimana tumbuhan bertumbuh dengan mengarah pada sumber cahaya, dalam hal ini matahari. Makna kehidupan adalah cahaya dan energi positif yang selanjutnya menghadirkan sesuatu yang positif bagi manusia, sebagaimana salah satu teladan terbaik abad 20 adalah dari kisah perjalanan hidup Frankl.
Kredit gambar: jabarhits.com

Pemilik Pustaka “Cahaya Inspirasi”, dan Wakil Ketua MPI PD. Muhammadiyah Bantaeng. Pegiat Literasi Digital dan Kebangsaan. Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bantaeng Masa Jabatan 2025-2030.


Leave a Reply