Tulisan kali ini terinspirasi dari kisah nyata. Beberapa kondisi rumah tangga pasien saya, yang penuh dengan masalah, tidak damai, tidak rukun, tidak harmonis dan sangat jauh dari bahagia , bahkan perceraian di depan mata.
Fatalnya lagi, sebab sudah berlanjut dan berefek pada kesehatan fisiknya. Ada yang menderita miom (tumor kandungan), prostat, gangguan pada paru-paru, jantung, kanker serviks dan yang paling lazim adalah hipertensi, diabetes, dan penyakit sejuta umat (maag).
Dari sekian banyak kasus yang pernah saya dampingi, akan saya ulas sebuah kisah rumah tangga di mana sang istri hampir setiap saat mengeluh sakit maag, sakit kepala, sakit di persendian. Bahkan, beberapa kali tidak sadarkan diri dan kesurupan. Saking seringnya, hampir saja saya berkata, bahwa itu sudah menjadi fashion-nya (gaya hidupnya).
Apa pun gangguan yang diderita oleh sang istri, semuanya adalah akibat dari sebuah sebab. Setelah saya telusuri, ternyata yang menjadi penyebabnya, relasi suami istri, yang sangat jauh dari harmonis, bahagia dan membahagiakan.
Setiap saat bertengkar, setiap saat saling menyalahkan dan merasa paling benar, bahkan beberapa kali bertengkar di hadapa saya, saat melakukan terapi atasnya.
Setelah proses pendalaman kasus, ternyata di antara keduanya tidak saling menerima kondisi suami dan istri. Dan, semakin fatal, sebab keluarga dari salah satu pihak juga sudah ikut mencampuri, mengompori, menjadi provokator, sehingga perceraian semakin di depan mata.
Perselisihan pun semakin melebar. Beberapa saat lamanya sempat pisah ranjang. Pihak yang dianggap bisa menjadi penengah, justru berpihak pada salah satu pihak. Kata cerai pun semakin sering diucapkan, hingga menjadi semakin fasih kedengarannya setiap saat.
Sikap menerima kondisi yang seharusnya menjadi titik awal kebahagiaan tidak ditemukan. Mereka bergantian saling menuntut untuk sesuai dengan harapan masing masing.
Karena tidak sesuai dengan harapan, maka mereka saling bergantian, mengungkapkan kekecewaannya dan berujung pada kemarahan dan kesedihan. Mereka pun semakin fokus dengan melihat kekurangan masing-masing.
Lalu apa yang saya lakukan sebagai terapis? Menata hati dan memetakan pikirannya dengan. Pertama, konsep menerima. Bahwa semuanya adalah kondisi saja yang bersifat netral. Kondisi yang netral ini akan berubah menjadi masalah jikalau sudut pandang negatif. Begitupun sebaliknya, akan menjadi anugerah jikalau sudut pandangnya positif.
Kedua, fokus pada satu saja kelebihan pasangan, yang dengan kelebihan itu akan mampu menutupi banyak kekurangan.
Ketiga, hindari untuk fokus pada kekurangan, sebab satu saja kekurangan akan mampu menutupi banyak kelebihan.
Keempat, hukum energi adalah menarik yang sejenis. Jikalau fokus pada kekurangan, maka kekuranganlah yang akan muncul, begitupun ketika fokus pada kelebihan, maka satu per satu kelebihan akan muncul dan menguat .
Kelima, pasangan kita sebetulnya adalah cerminan kita sendiri. Keenam,stop untuk mengubah pasangan, apalagi memaksakannya. Jikalau memang mau mengubah kondisi, maka perubahan harus bermula dari diri sendiri.
Tentu saja tulisan ini akan menjadi sangat panjang, manakala saya harus mengungkapkan semua terapinya, yang pasti holistiklah.
Singkat cerita, alhamdulillah, atas izin dan kehendak Allah Swt, kini pasangan tersebut sudah semakin harmonis. Sang suami semakin nampak kebahagiaannya, begitupun sang istri sudah terlepas dari gangguan atau penyakitnya. Hidupnya sudah penuh dengan senyuman.
Perubahan yang dialami setelah terapi, membuktikan bahwa 90 % penyakit disebabkan oleh psikis. Juga semakin menguatkan kedahsyatan metode Causal Therapy, yaitu selalu mencari akar masalahnya, dan akar masalah ini ada pada pada psikis, sebagai akibat relasi suami istri yang tidak berkualitas.
Jadi yang ditangani adalah relasi suami istrinya, bukan fokus pada maagnya, nyeri sendi dan sakit kepalanya, bukan pula kesurupannya.
Sebetulnya, kondisi di atas sangat bisa dihindari dengan ilmu tentang relasi suami istri. Ilmu tentang menjalani pernikahan dengan kondisi yang lebih berkualitas .
Ungkapan sederhananya, semua ada ilmunya. Ungkapan klasik mencegah lebih baik dari pada mengobati, sangat berlaku untuk hal ini.
Sangat disayangkan, jika sesuatu yang bisa dihindari bermula dengan ilmu, kemudian karena tidak berilmu, maka akan berdampak pada kualitas sebuah keluarga. Apa jadinya, kalau hati terlanjur luka?
Karena itulah sahabat holistik, saya membuka layanan jasa pembekalan untuk calon pengantin , agar keluarganya nanti semakin berkualitas, sakinah, mawaddah wa rahmah.
Sebenarnya, layanan ini sudah beberapa kali saya uji coba . Alhamdulillah, mereka semuanya sangat merasakan manfaatnya. Salah seorang di antara mereka sempat berkomentar, “Syukurnya dibekali ilmu sebelum menikah, sehingga tak satu kali pun piring terbang melayang.”
Lalu bagaimana dengan yang sudah menikah dan ingin menikah lagi? Poligami? Saya juga sudah menyusun teorinya berupa, “9 kiat praktis untuk sukses berpoligami “. Pasti banyak suami yang menantikan teori ini.
Duhai para istri di manapun berada. Don’t worry about it. Tidak usah khawatir, karena sebelumnya, saya juga sudah menyusun teori , “100 jurus jitu mencegah suami berpoligami”.
Jadi, kalau kiat sukses poligami ada 9 langkah, jurus cegah dan tangkal poligami ada 100 jurus. Akankah yang 9 langkah bisa mengalahkan 100 jurus?
Sahabat holistic, anggaplah paragraf poligami sebagai iklan saja yah, lewat tapi selalu dikenang.
Kembali ke soal pembekalan sebelum nikah. Ini menjadi sesuatu yang penting, bahkan sangat penting. Sebab , bukan hanya memengaruhi keharmonisan suami istri saja, tapi juga akan memengaruhi kesehatan pasangan.
Dengan ini, insyaallah haqqul yaqin, penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, liver, jantung, hipertensi dan semacamnya sangat bisa dihindari.
Karena itu, bagi yang sudah mau menikah, apalagi undangan sudah beredar, tidak pake lama, segera hubungi saya dan pembekalan dimulai.

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply